Dalam dunia akademik, pendidikan, dan penulisan ilmiah, ketepatan penggunaan bahasa menjadi hal yang sangat penting. Salah satu persoalan kebahasaan yang kerap menimbulkan kebingungan adalah penulisan kata teoretis atau teoritis. Kedua bentuk ini sering kita jumpai dalam buku, artikel jurnal, karya tulis mahasiswa, hingga konten digital, namun tidak jarang digunakan secara tidak konsisten.
Pertanyaannya, manakah penulisan yang benar menurut kaidah bahasa Indonesia? Apakah teoretis atau teoritis? Melalui artikel ini, kita akan membahas secara komprehensif perbedaan, dasar kebahasaan, serta penggunaan yang tepat agar kita dapat menulis dengan lebih akurat dan profesional.
Asal Usul Kata Teori dalam Bahasa Indonesia
Untuk memahami perbedaan penulisan teoretis dan teoritis, kita perlu menelusuri asal katanya terlebih dahulu. Kata teori dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Yunani theoria, yang kemudian masuk ke bahasa Inggris menjadi theory.
Dalam proses penyerapan ke bahasa Indonesia, kata theory diserap menjadi teori. Dari kata dasar inilah kemudian terbentuk berbagai turunan, seperti:
- teoretis
- teoritis
- teoretikus
- teorisasi
Namun, tidak semua bentuk turunan tersebut memiliki kedudukan yang sama dalam kaidah bahasa baku. Di sinilah pentingnya kita memahami rujukan resmi kebahasaan.
Penjelasan Menurut KBBI
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) merupakan rujukan utama dalam menentukan kebakuan kata. Berdasarkan KBBI, bentuk kata yang diakui secara resmi adalah:
Teoretis
Teoretis berarti bersifat teori, berdasarkan teori, atau tidak bersifat praktik langsung. Kata ini merupakan bentuk baku dan tercantum secara resmi dalam KBBI.
Contoh penggunaan:
- Pembahasan ini masih bersifat teoretis dan belum diuji secara empiris.
- Kajian teoretis diperlukan sebagai landasan penelitian.
Teoritis
Sementara itu, kata teoritis juga tercantum dalam KBBI dan memiliki makna yang sama, yaitu berkaitan dengan teori. Namun, dalam praktik kebahasaan, bentuk teoretis lebih dianjurkan karena mengikuti pola penyerapan kata asing yang lebih konsisten.
Dengan kata lain, teoritis tidak sepenuhnya salah, tetapi teoretis dianggap lebih sesuai dengan kaidah baku bahasa Indonesia.
Alasan Teoretis Lebih Dianjurkan
Kita sering bertanya, mengapa teoretis lebih dianjurkan daripada teoritis? Jawabannya berkaitan dengan prinsip penyerapan dan pembentukan kata dalam bahasa Indonesia.
1. Pola Pembentukan Kata
Dalam bahasa Indonesia, kata turunan dari serapan asing umumnya mempertahankan unsur vokal asli dari kata dasarnya. Kata teori memiliki vokal eo pada suku awal, sehingga bentuk turunannya secara konsisten menjadi teoretis, bukan teoritis.
2. Konsistensi dengan Kata Turunan Lain
Jika kita melihat kata lain seperti teoretikus dan teoretisasi, semuanya menggunakan bentuk teoret-. Hal ini menunjukkan bahwa secara morfologis, teoretis lebih konsisten.
3. Standar Penulisan Ilmiah
Dalam karya ilmiah, konsistensi istilah sangat penting. Banyak pedoman penulisan akademik, jurnal ilmiah, dan institusi pendidikan menganjurkan penggunaan bentuk teoretis untuk menjaga keseragaman bahasa.
Penggunaan dalam Konteks Akademik
Dalam dunia akademik, istilah teoretis sering orang gunakan untuk membedakan antara pendekatan berbasis teori dan pendekatan praktik atau empiris.
Contohnya:
- kerangka teoretis penelitian
- landasan teoretis
- kajian teoretis
Istilah-istilah tersebut hampir selalu menggunakan bentuk teoretis dalam publikasi ilmiah resmi. Hal ini semakin memperkuat posisi teoretis sebagai pilihan yang lebih tepat.
Kesalahan Umum dalam Penggunaan
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah penggunaan teoritis secara tidak konsisten dalam satu tulisan. Misalnya, dalam satu paragraf menggunakan teoretis, lalu di paragraf lain berubah menjadi teoritis.
Kesalahan lain adalah anggapan bahwa teoritis lebih “benar” karena terdengar lebih singkat atau lebih familiar. Padahal, kebakuan kata tidak tergantung pada kebiasaan semata, melainkan oleh kaidah dan rujukan resmi.
Teoretis vs Praktis
Dalam bahasa Indonesia, kata teoretis sering berpasangan dengan kata praktis. Pasangan ini berguna untuk menunjukkan perbedaan antara konsep dan penerapan.
Contoh:
- Pembelajaran tidak hanya bersifat teoretis, tetapi juga praktis.
- Mahasiswa perlu memahami aspek teoretis sebelum terjun ke lapangan.
Penggunaan ini semakin mempertegas fungsi kata teoretis dalam konteks formal dan edukatif.
Sikap Bahasa yang Bijak
Sebagai penutur bahasa Indonesia, kita perlu bersikap bijak dalam menggunakan variasi kata. Meskipun teoritis masih dapat ditemukan dan dipahami, memilih teoretis menunjukkan kepatuhan kita terhadap standar bahasa baku.
Dalam konteks informal, perbedaan ini mungkin tidak terlalu jadi masalah. Namun, dalam penulisan akademik, jurnal ilmiah, atau artikel edukatif, penggunaan kata baku menjadi keharusan.
Kesimpulan
Dari pembahasan di atas, dapat kita simpulkan bahwa baik teoretis maupun teoritis memiliki makna yang sama, yaitu berkaitan dengan teori. Namun, berdasarkan kaidah bahasa Indonesia, konsistensi morfologis, dan rujukan KBBI, bentuk teoretis lebih dianjurkan dan dianggap lebih baku.
Dengan memahami perbedaan ini, kita dapat meningkatkan kualitas tulisan, menjaga profesionalisme, dan turut serta melestarikan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.