Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menjumpai perbedaan penulisan kata yang tampak sepele, tetapi sebenarnya memiliki dampak besar terhadap ketepatan berbahasa. Salah satu contoh yang kerap menimbulkan kebingungan adalah penulisan kata sistem atau sistim. Kedua bentuk ini sering digunakan secara bergantian, baik dalam tulisan ilmiah, dokumen resmi, media massa, maupun percakapan daring. Pertanyaannya, penulisan manakah yang benar dan sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia baku?
Melalui artikel ini, kita akan membahas secara mendalam perbedaan antara sistem dan sistim, menelusuri asal-usul katanya, mengacu pada standar kebahasaan resmi, serta melihat dampaknya dalam konteks akademik dan profesional. Dengan pemahaman yang tepat, kita dapat menggunakan bahasa Indonesia secara lebih cermat, efektif, dan bertanggung jawab.
Pengertian Sistem dalam Bahasa Indonesia
Secara umum, kata sistem merujuk pada suatu kesatuan yang terdiri atas bagian-bagian yang saling berkaitan dan bekerja bersama untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam berbagai bidang ilmu, sistem menjadi konsep dasar yang sangat penting, mulai dari sistem pendidikan, sistem pemerintahan, sistem informasi, hingga sistem biologis.
Dalam konteks bahasa Indonesia, pemahaman terhadap makna kata sistem tidak hanya berkaitan dengan definisinya, tetapi juga dengan penulisannya yang sesuai kaidah. Kesalahan penulisan dapat menimbulkan kesan kurang profesional, terutama dalam dokumen resmi atau karya ilmiah.
Sistem atau Sistim: Mana yang Benar?
Berdasarkan acuan resmi kebahasaan, penulisan yang benar dan baku dalam bahasa Indonesia adalah sistem, bukan sistim. Kata sistem tercantum secara jelas dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sebagai bentuk yang sah dan tercatat.
Sementara itu, bentuk sistim tidak tercantum sebagai lema utama dalam KBBI dan dianggap sebagai bentuk tidak baku. Meski masih sering ditemukan dalam penggunaan sehari-hari, terutama pada teks lama atau penulisan informal, kata sistim tidak lagi dianjurkan untuk digunakan dalam konteks resmi.
Penegasan Berdasarkan KBBI
KBBI sebagai rujukan utama bahasa Indonesia menetapkan bahwa:
- Sistem adalah bentuk baku
- Sistim adalah bentuk tidak baku
Oleh karena itu, dalam penulisan akademik, administrasi, jurnal ilmiah, laporan penelitian, dan media profesional, kita wajib menggunakan kata sistem.
Asal Usul Kata Sistem
Untuk memahami mengapa bentuk sistem yang benar, kita perlu menelusuri asal-usul katanya. Kata sistem berasal dari bahasa Yunani systēma, yang berarti “kesatuan” atau “susunan”. Kata ini kemudian diserap ke dalam bahasa Latin menjadi systema, lalu menyebar ke berbagai bahasa modern, termasuk bahasa Inggris (system) dan bahasa Indonesia (sistem).
Proses penyerapan kata asing ke dalam bahasa Indonesia mengikuti kaidah tertentu, salah satunya adalah penyesuaian ejaan agar sesuai dengan sistem fonologi bahasa Indonesia. Dalam proses inilah, huruf “y” atau “i” pada bahasa sumber disesuaikan menjadi “e” pada bahasa Indonesia, sehingga terbentuklah kata sistem.
Mengapa Bentuk “Sistim” Masih Digunakan?
Meski telah terbukti tidak baku, kata sistim masih sering kita temui. Hal ini dapat terjadi karena beberapa faktor, antara lain:
1. Pengaruh Ejaan Lama
Pada masa lalu, sebelum adanya penyempurnaan ejaan bahasa Indonesia, variasi penulisan kata asing masih cukup beragam. Dalam beberapa sumber lama, kata sistim pernah digunakan dan dianggap wajar.
2. Kebiasaan Turun-Temurun
Kebiasaan berbahasa yang jadi warisan dari generasi ke generasi sering kali membuat suatu bentuk tetap digunakan, meskipun secara kaidah sudah tidak tepat. Hal ini terutama terjadi pada penutur yang jarang merujuk pada kamus atau pedoman bahasa.
3. Kurangnya Kesadaran Kebahasaan
Tidak semua penutur bahasa Indonesia memiliki kesadaran akan pentingnya penggunaan bahasa baku. Akibatnya, bentuk tidak baku seperti sistim tetap digunakan tanpa disadari sebagai kesalahan.
Dampak Penggunaan Kata Tidak Baku
Penggunaan kata yang tidak baku, termasuk sistim, dapat menimbulkan beberapa dampak negatif, terutama dalam konteks profesional dan akademik.
Menurunkan Kredibilitas Tulisan
Dalam dunia akademik dan profesional, ketepatan bahasa mencerminkan kualitas pemikiran penulis. Kesalahan sederhana seperti penulisan sistim dapat menurunkan kredibilitas tulisan secara keseluruhan.
Menimbulkan Ambiguitas
Meskipun maknanya masih dapat kita pahami, penggunaan bentuk tidak baku berpotensi menimbulkan kebingungan, terutama bagi pembaca yang terbiasa dengan bahasa Indonesia standar.
Tidak Sesuai Standar Resmi
Dokumen resmi seperti surat dinas, laporan pemerintah, dan karya ilmiah memiliki standar bahasa yang harus kita patuhi. Penggunaan kata tidak baku sebagai pelanggaran terhadap standar tersebut.
Contoh Penggunaan Kata Sistem yang Benar
Agar lebih jelas, berikut beberapa contoh penggunaan kata sistem dalam kalimat yang tepat:
- Pemerintah sedang mengembangkan sistem pelayanan publik berbasis digital.
- Perusahaan ini memiliki sistem manajemen yang terstruktur dan efisien.
- Dalam tubuh manusia terdapat sistem saraf yang sangat kompleks.
Penggunaan kata sistem dalam contoh di atas menunjukkan konsistensi dengan kaidah bahasa Indonesia baku.
Peran Kita dalam Menjaga Ketepatan Bahasa
Sebagai penutur bahasa Indonesia, kita memiliki peran penting dalam menjaga kelestarian dan ketepatan bahasa. Menggunakan kata baku seperti sistem bukan hanya soal mengikuti aturan, tetapi juga bentuk tanggung jawab kita terhadap kualitas komunikasi.
Dalam era digital, di mana tulisan tersebar dengan cepat melalui internet, kesalahan bahasa dapat dengan mudah ditiru dan menyebar luas. Oleh karena itu, membiasakan diri menggunakan bahasa yang benar menjadi langkah kecil dengan dampak besar.
Kesimpulan
Dari pembahasan di atas, dapat kita simpulkan bahwa penulisan yang benar dan sesuai kaidah bahasa Indonesia adalah sistem, bukan sistim. Kata sistem merupakan bentuk baku yang tercantum dalam KBBI dan bisa kita gunakan secara luas dalam konteks resmi, akademik, dan profesional.
Sementara itu, sistim merupakan bentuk tidak baku yang sebaiknya kita hindari, terutama dalam tulisan formal. Dengan memahami perbedaan ini, kita dapat meningkatkan kualitas bahasa tulis dan turut berkontribusi dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Melalui kesadaran dan kebiasaan berbahasa yang tepat, kita tidak hanya menyampaikan pesan secara efektif, tetapi juga menjaga marwah bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.