Dalam praktik berbahasa Indonesia, kita seringkali atau justru sering kali menemui kebingungan mengenai penulisan kata yang tampak sederhana. Salah satu pasangan kata yang kerap menimbulkan pertanyaan adalah “seringkali” dan “sering kali”. Keduanya terdengar sama, memiliki makna yang mirip, bahkan sering digunakan secara bergantian dalam percakapan maupun tulisan. Namun, apakah keduanya sama-sama benar menurut kaidah bahasa Indonesia baku?
Melalui artikel ini, kita akan membahas secara komprehensif penulisan yang benar antara seringkali dan sering kali, merujuk pada kaidah kebahasaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), serta contoh penggunaannya dalam berbagai konteks. Dengan demikian, kita tidak hanya memahami mana yang benar, tetapi juga mampu menggunakannya secara tepat dan konsisten dalam tulisan.
Pengertian Kata “Sering” dan “Kali”
Untuk memahami perbedaan penulisan seringkali dan sering kali, kita perlu menelaah makna masing-masing unsur pembentuknya.
Makna Kata “Sering”
Kata sering merupakan kata keterangan yang bermakna kerap, acap, atau berulang-ulang. Kata ini digunakan untuk menunjukkan frekuensi terjadinya suatu peristiwa.
Contoh penggunaan:
- Kita sering membaca berita melalui media daring.
- Ia sering terlambat datang ke kantor.
Makna Kata “Kali”
Kata kali merupakan kata benda yang berarti waktu, kejadian, atau peristiwa. Kata ini digunakan untuk menyatakan jumlah pengulangan suatu aktivitas.
Contoh penggunaan:
- Ia sudah datang tiga kali hari ini.
- Kita melakukan percobaan ini beberapa kali.
Penulisan “Sering Kali” sebagai Frasa
Sering kali ditulis terpisah karena merupakan frasa adverbial. Dalam frasa ini, kata sering berfungsi menerangkan kata kali yang bermakna jumlah kejadian.
Alasan Penulisan Terpisah
Dalam kaidah bahasa Indonesia, gabungan kata ditulis terpisah apabila masing-masing unsur masih mempertahankan makna leksikalnya. Pada frasa sering kali, kata kali masih memiliki makna sebagai kata benda.
Contoh penggunaan:
- Kesalahan ini sering kali terjadi dalam penulisan ilmiah.
- Kita sering kali mengabaikan aturan ejaan saat menulis cepat.
Penulisan “Seringkali” sebagai Kata Tunggal
Kata seringkali tercatat dalam KBBI sebagai kata keterangan yang bermakna sering atau acap kali. Bentuk ini menunjukkan bahwa gabungan kata tersebut telah mengalami pemadatan makna.
Ciri-Ciri Kata “Seringkali”
- Ditulis dalam satu kata.
- Tidak dapat disisipi kata lain.
- Berfungsi langsung sebagai kata keterangan.
Contoh penggunaan:
- Kita seringkali lupa memeriksa ulang tulisan sebelum dipublikasikan.
- Kesalahan ejaan seringkali muncul akibat kurangnya ketelitian.
Perbedaan Seringkali dan Sering Kali
Secara makna, kedua bentuk ini hampir sama, yaitu menyatakan frekuensi kejadian yang tinggi. Namun, perbedaannya terletak pada bentuk dan nuansa penggunaannya.
- Seringkali adalah kata tunggal.
- Sering kali adalah frasa yang ditulis terpisah.
Dalam tulisan formal, sering kali cenderung terasa lebih analitis. Sementara itu, seringkali lebih ringkas dan banyak digunakan dalam tulisan populer.
Penggunaan dalam Ragam Bahasa Tulis
Tulisan Formal
Dalam karya ilmiah, laporan resmi, atau tulisan akademik, kita dapat menggunakan kedua bentuk tersebut asalkan konsisten.
Contoh:
- Dalam penelitian ini, kesalahan pengambilan sampel sering kali memengaruhi hasil analisis.
- Kurangnya data pendukung seringkali menyebabkan kesimpulan menjadi lemah.
Tulisan Nonformal
Dalam blog atau artikel populer, kata seringkali lebih banyak kita gunakan karena terasa lebih singkat dan mengalir.
Kesalahan Umum dalam Penulisan
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap hanya satu bentuk yang benar. Padahal, baik seringkali maupun sering kali sama-sama baku.
Kesalahan lainnya adalah ketidakkonsistenan penggunaan dalam satu tulisan. Oleh karena itu, kita perlu memilih satu bentuk dan menggunakannya secara konsisten.
Tips Memilih Penulisan yang Tepat
- Sesuaikan dengan jenis tulisan.
- Perhatikan gaya bahasa yang kita gunakan.
- Jaga konsistensi dalam satu naskah.
Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa seringkali dan sering kali sama-sama benar dan baku dalam bahasa Indonesia. Perbedaannya terletak pada bentuk penulisan dan nuansa penggunaan.
Dengan memahami kaidah ini, kita dapat menulis dengan lebih cermat, profesional, dan sesuai dengan standar bahasa Indonesia yang baik dan benar.