Penulisan yang Benar Sekadar atau Sekedar

Dalam praktik berbahasa Indonesia sehari-hari, baik lisan maupun tulisan, kita sering menjumpai dua bentuk kata yang tampak berbeda tetapi digunakan dengan makna yang sama, yaitu sekadar dan sekedar. Kedua bentuk ini kerap menimbulkan kebingungan, terutama bagi penulis konten, pelajar, mahasiswa, hingga kalangan profesional yang perlu menggunakan bahasa Indonesia baku. Pertanyaannya, manakah penulisan yang benar menurut kaidah bahasa Indonesia: sekadar atau sekedar?

Artikel ini akan membahas secara mendalam penulisan yang benar antara sekadar dan sekedar, dengan dasar kebahasaan, rujukan kaidah, contoh penggunaan, serta implikasinya dalam dunia pendidikan dan penulisan profesional. Dengan pembahasan yang komprehensif, kita dapat menggunakan bahasa Indonesia secara lebih tepat, konsisten, dan berwibawa.

Pengertian Kata Sekadar dan Sekedar

Sebelum menentukan penulisan yang benar, kita perlu memahami makna kata yang sedang dibahas. Baik sekadar maupun sekedar sering digunakan untuk menyatakan arti “hanya”, “sebatas”, atau “tidak lebih dari itu”. Kata ini umumnya berfungsi sebagai keterangan yang menegaskan bahwa suatu hal tersebut tanpa maksud khusus atau tanpa tujuan yang lebih besar.

Contohnya dalam kalimat:

  • Kita datang ke acara itu sekadar memenuhi undangan.
  • Pertanyaan tersebut diajukan hanya sekadar formalitas.

Makna dalam contoh di atas menunjukkan pembatasan maksud atau tujuan. Namun, meskipun maknanya jelas dan umum kita pahami, bentuk penulisannya tetap harus merujuk pada kaidah bahasa yang baku.

Penulisan Baku Menurut KBBI

Dalam bahasa Indonesia, acuan utama penulisan kata baku adalah Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Berdasarkan KBBI, bentuk kata yang diakui dan dibenarkan secara resmi adalah sekadar, bukan sekedar.

Kata sekadar didefinisikan sebagai:

sekadar: hanya; semata-mata; tidak lebih dari itu.

Sementara itu, bentuk sekedar tidak tercantum sebagai lema utama dalam KBBI. Dengan demikian, dapat kita simpulkan bahwa sekadar merupakan bentuk baku, sedangkan sekedar termasuk bentuk tidak baku atau keliru dalam konteks penulisan formal.

Asal Kesalahan Penulisan Sekedar

Munculnya bentuk sekedar dalam penggunaan sehari-hari tidak lepas dari pengaruh kebiasaan lisan. Dalam pengucapan, bunyi vokal a pada sekadar sering terdengar seperti e pepet, sehingga banyak orang menuliskannya menjadi sekedar.

Fenomena ini bukan hal baru dalam bahasa Indonesia. Kita dapat menemukan pola yang sama pada kata-kata lain, seperti:

  • terlanjur yang sering keliru ditulis terlanjur
  • telanjur yang kerap diucapkan berbeda dari penulisannya

Perbedaan antara bahasa lisan dan bahasa tulis inilah yang menuntut kita untuk lebih berhati-hati, terutama saat menulis teks formal.

Analisis Linguistik: Mengapa Sekadar yang Benar?

Secara morfologis, kata sekadar merupakan bentuk dasar yang sudah mengalami pembakuan sejak lama. Vokal a pada suku kata kedua bukanlah hasil perubahan fonetis, melainkan bagian dari struktur kata itu sendiri.

Dalam kaidah bahasa Indonesia, perubahan bunyi dalam pengucapan tidak selalu diikuti oleh perubahan ejaan. Oleh karena itu, meskipun pengucapan dengan bunyi e pepet, penulisannya tetap harus mengikuti bentuk baku, yaitu sekadar.

Hal ini sejalan dengan prinsip Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) yang menekankan konsistensi antara ejaan dan bentuk baku kata, bukan semata-mata berdasarkan kebiasaan pengucapan.

Penggunaan Sekadar dalam Kalimat

Agar pemahaman kita semakin utuh, berikut beberapa contoh penggunaan kata sekadar dalam berbagai konteks kalimat:

  • Kita membaca buku itu sekadar menambah wawasan, bukan untuk menghafalnya.
  • Ucapan terima kasih tersebut tersampaikan sekadar bentuk sopan santun.
  • Ia menulis komentar sekadar berbagi pendapat, bukan untuk menjatuhkan pihak lain.

Dalam semua contoh di atas, penggunaan sekadar menunjukkan makna pembatasan yang jelas dan sesuai dengan definisi dalam KBBI.

Dampak Penggunaan Kata Tidak Baku dalam Tulisan

Mungkin sebagian orang menganggap perbedaan antara sekadar dan sekedar sebagai hal sepele. Namun, dalam konteks tertentu, penggunaan kata tidak baku dapat menimbulkan dampak yang cukup signifikan.

1. Menurunkan Kredibilitas Tulisan

Dalam dunia akademik, jurnalistik, dan profesional, penggunaan bahasa yang tidak baku dapat mengurangi kredibilitas penulis. Pembaca yang teliti akan menilai kualitas tulisan dari ketepatan berbahasanya.

2. Menimbulkan Kesalahan Berantai

Jika bentuk tidak baku terus kita gunakan, kesalahan tersebut dapat menyebar luas dan tampak benar oleh banyak orang. Inilah yang sering terjadi pada kata-kata yang keliru tetapi populer.

3. Tidak Sesuai Standar Pendidikan

Dalam konteks pendidikan, guru dan dosen tentu harus memberikan contoh penggunaan bahasa Indonesia yang benar. Oleh karena itu, konsistensi menggunakan kata baku seperti sekadar menjadi sangat penting.

Peran Penulis dan Konten Kreator dalam Penggunaan Bahasa Baku

Di era digital, penulis artikel, blogger, dan kreator konten memiliki peran besar dalam membentuk kebiasaan berbahasa masyarakat. Tulisan yang dipublikasikan secara daring dibaca oleh ribuan bahkan jutaan orang.

Dengan menggunakan kata baku seperti sekadar, kita turut berkontribusi dalam melestarikan dan membiasakan penggunaan bahasa Indonesia yang sesuai kaidah. Hal ini bukan sekadar persoalan linguistik, tetapi juga bagian dari tanggung jawab budaya.

Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan yang telah kita uraikan, bahwa penulisan yang benar dan baku adalah sekadar, bukan sekedar. Bentuk sekadar telah tercatat secara resmi dalam KBBI dan sesuai dengan kaidah Ejaan Bahasa Indonesia.

Kesalahan penulisan sekedar umumnya muncul akibat pengaruh pengucapan lisan yang tidak selalu mencerminkan ejaan baku. Oleh karena itu, kita perlu membiasakan diri untuk selalu merujuk pada kamus dan pedoman resmi dalam menulis.

Dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, kita tidak hanya meningkatkan kualitas tulisan, tetapi juga ikut menjaga marwah bahasa nasional. Maka, mulai sekarang, mari kita konsisten menggunakan sekadar dalam setiap tulisan formal maupun semi-formal.