Dalam praktik berbahasa Indonesia yang baik dan benar, kita sering menghadapi perbedaan penulisan istilah yang tampak serupa, tetapi hanya satu bentuk yang sesuai kaidah. Salah satu contoh yang kerap memunculkan keraguan adalah penulisan pemulasaran dan pemulasaraan. Kedua bentuk ini sering muncul dalam konteks keagamaan, sosial, serta administrasi publik, khususnya ketika kita membahas pengurusan jenazah.
Oleh karena itu, melalui artikel ini, kita akan mengulas secara komprehensif penulisan yang benar antara pemulasaran dan pemulasaraan. Pembahasan akan mencakup aspek etimologi, morfologi, rujukan kamus, hingga contoh penggunaan dalam kalimat formal. Dengan demikian, kita dapat menggunakan istilah ini secara tepat, konsisten, dan sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia baku.
Pengertian Pemulasaran dan Pemulasaraan
Secara umum, istilah yang kita bahas berkaitan erat dengan proses pengurusan jenazah sejak seseorang meninggal dunia hingga dimakamkan. Dalam kehidupan masyarakat Indonesia, istilah ini sering muncul dalam berita, regulasi rumah sakit, dokumen keagamaan, serta karya tulis akademik.
Makna Pemulasaran
Kata pemulasaran merujuk pada seluruh rangkaian proses perawatan dan pengurusan jenazah sesuai ketentuan agama, adat, dan norma yang berlaku. Proses ini mencakup kegiatan memandikan, mengafani, menshalatkan, hingga memakamkan jenazah.
Selain itu, bahasa Indonesia baku telah menerima kata pemulasaran sebagai istilah resmi. Kamus rujukan nasional mencatat istilah ini sebagai nomina yang sah dan dapat digunakan dalam konteks formal maupun profesional.
Makna Pemulasaraan
Sebaliknya, kata pemulasaraan sering muncul sebagai variasi penulisan yang berkembang di masyarakat. Banyak penutur menggunakannya karena terdengar lebih panjang dan dianggap lebih formal. Namun, bentuk ini tidak memiliki landasan yang kuat dalam kaidah pembentukan kata bahasa Indonesia.
Dengan kata lain, pemulasaraan muncul akibat kebiasaan berbahasa, bukan karena ketepatan secara morfologis maupun leksikal.
Tinjauan Etimologi dan Asal Kata
Untuk memahami penulisan yang benar, kita perlu menelusuri asal-usul kata ini dari sudut pandang etimologi. Pendekatan ini membantu kita melihat struktur dasar kata secara lebih objektif.
Kata pemulasaran berasal dari kata dasar mulasara atau pulasara, yang bermakna mengurus atau merawat. Dalam bahasa Indonesia, pembentukan kata benda yang menyatakan proses biasanya menggunakan konfiks pe-…-an.
Adapun proses pembentukan katanya dapat kita uraikan sebagai berikut:
Kata dasar: mulasara
Bentuk verba: memulasara
Bentuk nomina proses: pemulasaran
Dari pola tersebut, kita dapat melihat bahwa bentuk pemulasaran sudah lengkap dan tepat secara morfologis. Oleh karena itu, penambahan unsur lain tidak lagi diperlukan.
Analisis Morfologi Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia memiliki aturan yang jelas dan sistematis dalam pembentukan kata. Namun demikian, kesalahan sering muncul ketika penutur menambahkan unsur afiks secara berlebihan.
Alasan Pemulasaraan Tidak Termasuk Bentuk Baku
Bentuk pemulasaraan mengandung penambahan akhiran “-an” yang tidak sesuai dengan struktur kata dasarnya. Setelah kita menggunakan konfiks pe-…-an, proses pembentukan kata sebenarnya telah selesai.
Kesalahan serupa juga sering terjadi pada kata lain, misalnya:
pengkoordinasian yang sering ditulis berlebihan
pendistribusianan yang jelas tidak sesuai kaidah
Dengan demikian, dalam kasus pemulasaraan, penambahan akhiran justru membuat kata tersebut keluar dari aturan bahasa Indonesia yang baku.
Rujukan Kamus dan Kaidah Kebahasaan Resmi
Sebagai rujukan utama bahasa Indonesia, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) hanya mencantumkan bentuk pemulasaran. Fakta ini memberikan dasar yang kuat bagi kita untuk menetapkan penulisan yang benar.
Oleh sebab itu, dalam kegiatan menulis, baik untuk keperluan akademik, jurnalistik, maupun administrasi, kita seharusnya mengacu pada bentuk yang telah dibakukan. Langkah ini akan membantu kita menjaga konsistensi dan kredibilitas tulisan.
Penggunaan Pemulasaran dalam Konteks Formal
Dalam dokumen resmi, ketepatan istilah memiliki peran yang sangat penting. Kesalahan penulisan dapat menurunkan kualitas dokumen dan menciptakan ambiguitas makna.
Contoh Kalimat dengan Kata Pemulasaran
Berikut beberapa contoh penggunaan kata pemulasaran dalam kalimat formal dan profesional:
Rumah sakit menyediakan fasilitas khusus untuk pemulasaran jenazah sesuai standar kesehatan dan agama.
Petugas pemulasaran menjalankan tugasnya dengan mengikuti prosedur keselamatan kerja yang berlaku.
Keluarga menyerahkan proses pemulasaran kepada pihak yang berwenang.
Melalui contoh-contoh tersebut, kita dapat melihat bahwa kata pemulasaran dapat digunakan secara fleksibel tanpa kehilangan makna aslinya.
Kesalahan Umum yang Masih Sering Terjadi
Meskipun rujukan resmi sudah tersedia, kita masih sering menemukan penggunaan kata pemulasaraan. Hal ini biasanya terjadi karena beberapa faktor berikut:
Kebiasaan lisan yang langsung dituangkan ke dalam tulisan
Kurangnya kebiasaan memeriksa kamus
Anggapan bahwa bentuk kata yang lebih panjang terdengar lebih formal
Namun demikian, dalam bahasa Indonesia, ketepatan struktur jauh lebih penting daripada panjang kata.
Pentingnya Literasi Bahasa dalam Kehidupan Sosial
Ketepatan penggunaan istilah seperti pemulasaran mencerminkan tingkat literasi bahasa kita. Dalam konteks sosial dan keagamaan yang sensitif, penggunaan istilah yang tepat menunjukkan sikap hormat, empati, dan profesionalisme.
Selain itu, dengan membiasakan diri menggunakan bahasa baku, kita turut berkontribusi dalam menjaga kualitas bahasa Indonesia di ruang publik.
Kesimpulan
Berdasarkan kajian etimologi, analisis morfologi, rujukan kamus, serta contoh penggunaan, kita dapat menyimpulkan bahwa penulisan yang benar dan baku adalah “pemulasaran”, bukan pemulasaraan. Bentuk pemulasaraan muncul akibat kebiasaan dan analogi yang keliru, sehingga tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.
Oleh karena itu, dalam setiap penulisan formal maupun profesional, kita sebaiknya menggunakan kata pemulasaran agar pesan yang kita sampaikan tetap jelas, tepat, dan kredibel.