Dalam praktik berbahasa Indonesia, kita sering menjumpai dua bentuk kata yang tampak serupa tetapi menimbulkan kebingungan, yaitu “pembaruan” dan “pembaharuan”. Kedua kata ini kerap digunakan secara bergantian dalam tulisan resmi, media massa, dokumen akademik, hingga konten digital. Namun, pertanyaannya adalah: manakah penulisan yang benar menurut kaidah bahasa Indonesia baku?
Melalui artikel ini, kita akan membahas secara komprehensif perbedaan, asal-usul, serta penggunaan kata pembaruan dan pembaharuan berdasarkan kaidah kebahasaan yang berlaku. Selain itu, kita juga akan menelaah kesalahan umum, contoh pemakaian dalam kalimat, serta dampaknya terhadap kualitas tulisan.
Pengertian Pembaruan dan Pembaharuan
Untuk memahami perbedaan kedua istilah ini, kita perlu menelusuri makna dasarnya terlebih dahulu.
Makna Kata Dasar “Baru”
Kata “baru” dalam bahasa Indonesia berarti sesuatu yang belum lama ada, belum digunakan, atau telah mengalami perubahan dari kondisi sebelumnya. Dari kata dasar inilah terbentuk berbagai turunan kata melalui proses pembubuhan imbuhan.
Pembentukan Kata “Pembaruan”
Kata pembaruan terbentuk dari kata dasar baru yang mendapatkan imbuhan pe- dan -an. Secara morfologis, proses ini membentuk nomina yang bermakna proses, perbuatan, atau hasil dari memperbarui sesuatu. Oleh karena itu, pembaruan bermakna upaya menjadikan sesuatu lebih baru atau lebih relevan dari kondisi sebelumnya.
Pembentukan Kata “Pembaharuan”
Sementara itu, kata pembaharuan seolah-olah berasal dari kata dasar baharu. Namun, dalam bahasa Indonesia baku modern, kata baharu tidak digunakan sebagai bentuk dasar yang sah. Inilah alasan utama mengapa pembaharuan dianggap tidak sesuai dengan kaidah kebahasaan.
Tinjauan Menurut KBBI dan Kaidah Bahasa Baku
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menjadi rujukan utama dalam menentukan kebakuan suatu kata.
Status Kata “Pembaruan” dalam KBBI
Dalam KBBI, kata pembaruan tercantum secara resmi dengan makna proses, cara, atau perbuatan memperbarui. Hal ini menegaskan bahwa pembaruan merupakan bentuk yang benar dan dianjurkan dalam penulisan.
Status Kata “Pembaharuan” dalam KBBI
Berbeda dengan pembaruan, kata pembaharuan tidak tercantum sebagai entri baku dalam KBBI. Oleh sebab itu, penggunaannya dianggap tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia standar.
Alasan Kesalahan Penggunaan Kata “Pembaharuan”
Meskipun tidak baku, kata pembaharuan masih sering muncul dalam berbagai tulisan. Fenomena ini tidak terjadi tanpa sebab.
Pengaruh Bahasa Lama
Pada masa awal perkembangan bahasa Indonesia, pengaruh bahasa Melayu klasik masih cukup kuat. Dalam konteks tersebut, bentuk baharu pernah digunakan. Namun, setelah bahasa Indonesia mengalami pembakuan, bentuk baru ditetapkan sebagai kata dasar yang sah.
Kebiasaan di Media dan Dokumen Resmi
Banyak media dan dokumen resmi yang terlanjur menggunakan kata pembaharuan tanpa penyuntingan bahasa yang memadai. Akibatnya, kesalahan ini terus berulang dan dianggap wajar oleh masyarakat.
Anggapan Lebih Formal
Sebagian penulis beranggapan bahwa kata yang lebih panjang terdengar lebih formal. Padahal, dalam bahasa Indonesia, ketepatan kaidah jauh lebih penting daripada kesan formal semata.
Perbedaan Pembaruan dan Pembaharuan Secara Linguistik
Secara linguistik, perbedaan kedua kata ini dapat diringkas sebagai berikut:
- Pembaruan berasal dari kata dasar baru dan sesuai kaidah morfologi.
- Pembaharuan tidak memiliki dasar pembentukan yang baku.
- Pembaruan tercantum dalam KBBI, sedangkan pembaharuan tidak.
Contoh Penggunaan yang Benar dalam Kalimat
Contoh Umum
- Pemerintah melakukan pembaruan kebijakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
- Aplikasi tersebut menerima pembaruan sistem secara berkala.
Dalam Akademik
- Penelitian ini menawarkan pembaruan pendekatan dalam kajian pendidikan.
- Kurikulum nasional mengalami pembaruan agar sesuai dengan kebutuhan zaman.
Contoh Teknologi
- Pembaruan perangkat lunak meningkatkan keamanan data pengguna.
- Kita perlu melakukan pembaruan sistem untuk mencegah gangguan teknis.
Dampak Kesalahan Penulisan terhadap Kredibilitas Tulisan
Kesalahan memilih bentuk kata dapat memengaruhi kualitas tulisan secara keseluruhan.
Menurunkan Mutu Bahasa
Penggunaan kata tidak baku membuat tulisan terlihat kurang rapi dan kurang terkontrol.
Mengurangi Kredibilitas Penulis
Dalam konteks akademik dan profesional, kesalahan bahasa dapat mencerminkan kurangnya ketelitian penulis.
Berpengaruh pada Konten Digital
Dalam dunia digital, penggunaan kata baku seperti pembaruan juga lebih ramah terhadap mesin pencari.
Tips Agar Tidak Keliru Menggunakan Istilah Baku
- Selalu merujuk KBBI sebelum memublikasikan tulisan.
- Melakukan penyuntingan bahasa secara menyeluruh.
- Membiasakan diri menggunakan bentuk baku dalam penulisan sehari-hari.
Kesimpulan
Dari seluruh pembahasan tersebut, dapat kita simpulkan bahwa penulisan yang benar dan baku adalah “pembaruan”, bukan pembaharuan. Kata pembaruan sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia dan tercantum dalam KBBI.
Sebagai penulis yang bertanggung jawab, kita perlu memilih kata yang tepat agar tulisan memiliki kualitas, kredibilitas, dan nilai edukatif yang tinggi.