Dalam praktik berbahasa sehari-hari, kita sering menjumpai dua bentuk kata yang tampak serupa tetapi berbeda penulisan, yaitu pemasukan dan pemasukkan. Sekilas, keduanya terlihat benar. Bahkan dalam dokumen resmi, laporan keuangan, maupun artikel daring, tidak jarang kita menemukan variasi tersebut digunakan secara bergantian. Namun, pertanyaannya adalah: manakah penulisan yang benar menurut kaidah bahasa Indonesia?
Kesalahan kecil seperti penambahan satu huruf bisa berdampak pada ketepatan makna dan kredibilitas tulisan. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami aturan pembentukan kata dalam bahasa Indonesia agar tidak terjebak pada bentuk yang keliru. Jadi, artikel ini akan membahas secara komprehensif tentang penulisan yang benar, dasar morfologinya, perbedaan makna, serta contoh penggunaannya dalam konteks yang tepat.
Manakah yang Benar: Pemasukan atau Pemasukkan?
Bentuk yang benar menurut kaidah bahasa Indonesia adalah pemasukan, tanpa huruf “k” ganda.
Sementara itu, bentuk pemasukkan tidak sesuai dengan aturan pembentukan kata dalam bahasa Indonesia dan tergolong tidak baku.
Untuk memahami alasan di baliknya, kita perlu menelusuri asal-usul pembentukan kata tersebut melalui proses morfologi.
Memahami Proses Pembentukan Kata
Kata Dasar: Masuk
Kata pemasukan berasal dari kata dasar masuk. Jadi, kata ini merupakan verba (kata kerja) yang berarti bergerak ke dalam atau menjadi bagian dari suatu ruang atau sistem.
Contoh penggunaan kata dasar:
- Uang itu akan masuk ke rekening besok.
- Ia masuk ke ruangan tanpa mengetuk pintu.
Penambahan Awalan dan Akhiran
Dalam bahasa Indonesia, pembentukan kata benda dari kata kerja sering dilakukan dengan menambahkan imbuhan pe- dan -an. Pola ini membentuk nomina yang menyatakan proses, hasil, atau hal yang berkaitan dengan tindakan tersebut.
Rumus sederhananya:
pe- + masuk + -an → pemasukan
Perhatikan bahwa dalam proses ini tidak terjadi penggandaan huruf “k”. Kata dasar masuk tetap mempertahankan bentuk aslinya ketika diberi imbuhan pe- dan -an.
Karena itu, bentuk yang benar adalah pemasukan, bukan pemasukkan.
Mengapa Banyak Orang Menulis “Pemasukkan”?
Kesalahan penulisan “pemasukkan” biasanya terjadi karena pengaruh pengucapan atau analogi dengan kata lain yang memang memiliki huruf ganda. Dalam percakapan lisan, sebagian orang melafalkan kata tersebut dengan penekanan sehingga terdengar seperti ada konsonan rangkap.
Selain itu, ada pula kecenderungan untuk menyamakan dengan bentuk kata kerja memasukkan, yang memang memiliki huruf “k” ganda.
Perbandingan dengan Kata “Memasukkan”
Kata memasukkan memang ditulis dengan “kk”. Namun, ini terjadi karena proses morfologinya berbeda.
Rumusnya:
me- + masuk + -kan → memasukkan
Pada proses ini, terjadi peluluhan huruf awal dan penyesuaian fonologis sehingga terbentuk “memasukkan” dengan dua huruf “k”.
Sementara itu, pembentukan kata pemasukan tidak melalui pola yang sama, sehingga tidak menghasilkan konsonan ganda.
Makna Kata Pemasukan
Secara umum, pemasukan berarti hasil atau sesuatu yang masuk, terutama dalam konteks keuangan. Kata ini sering digunakan dalam bidang ekonomi, akuntansi, dan manajemen keuangan.
Beberapa makna yang umum digunakan antara lain:
- Uang atau pendapatan yang diterima dalam periode tertentu.
- Proses masuknya sesuatu ke dalam sistem.
- Data atau informasi yang dimasukkan ke dalam perangkat.
Contoh Kalimat
- Pemasukan perusahaan meningkat pada kuartal pertama.
- Kita perlu mencatat setiap pemasukan dan pengeluaran secara rinci.
- Pemasukan data harus dilakukan dengan teliti.
Semua contoh tersebut menggunakan bentuk yang benar, yaitu pemasukan.
Kesalahan Berbahasa dan Dampaknya
Mungkin sebagian orang menganggap kesalahan satu huruf bukan masalah besar. Namun, dalam konteks profesional, kesalahan ejaan dapat menurunkan kredibilitas tulisan.
Dalam laporan keuangan, proposal bisnis, atau karya ilmiah, ketepatan bahasa mencerminkan ketelitian penulis. Jika kita salah menuliskan istilah dasar seperti “pemasukan”, pembaca bisa meragukan kualitas keseluruhan dokumen.
Selain itu, dalam ranah digital seperti blog dan media daring, konsistensi ejaan juga berpengaruh terhadap optimasi mesin pencari. Penggunaan bentuk baku membantu meningkatkan kepercayaan pembaca sekaligus menjaga standar kebahasaan.
Peran Ejaan dalam Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia memiliki sistem ejaan yang telah disempurnakan dan diatur secara resmi. Aturan ini bertujuan untuk menciptakan keseragaman dalam penulisan sehingga komunikasi tertulis menjadi lebih jelas dan efektif.
Dalam konteks ini, kita perlu membiasakan diri untuk:
- Memeriksa kata dalam kamus resmi.
- Memahami pola pembentukan kata.
- Menghindari asumsi berdasarkan kebiasaan lisan.
Kebiasaan membaca dan menulis dengan benar akan membantu kita semakin peka terhadap bentuk yang tidak baku.
Tips Agar Tidak Salah Menulis
1. Pahami Kata Dasarnya
Setiap kali ragu, coba identifikasi kata dasarnya. Dalam kasus ini, kata dasarnya adalah masuk. Dari sana kita bisa menelusuri proses pembentukan katanya.
2. Bedakan Fungsi Kata
Perhatikan apakah kata tersebut berbentuk kata benda atau kata kerja. “Pemasukan” adalah nomina, sedangkan “memasukkan” adalah verba. Perbedaan fungsi sering kali memengaruhi struktur ejaan.
3. Gunakan Referensi Tepercaya
Manfaatkan kamus resmi atau pedoman ejaan ketika menyusun dokumen penting. Langkah sederhana ini dapat mencegah kesalahan yang berulang.
4. Biasakan Membaca Tulisan Baku
Semakin sering kita membaca teks yang menggunakan bahasa Indonesia baku, semakin terbiasa pula kita mengenali bentuk yang benar.
Contoh Penggunaan dalam Konteks Keuangan
Dalam laporan keuangan sederhana, kita sering menemukan istilah pemasukan dan pengeluaran. Berikut contoh penggunaannya:
- Total pemasukan bulan ini mencapai sepuluh juta rupiah.
- Pemasukan terbesar berasal dari penjualan produk digital.
- Kita harus menyeimbangkan pemasukan dengan pengeluaran.
Penggunaan bentuk yang benar akan membuat laporan terlihat profesional dan terpercaya.
Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas, dapat kita simpulkan bahwa penulisan yang benar adalah pemasukan, tanpa huruf “k” ganda. Bentuk “pemasukkan” tidak sesuai dengan kaidah pembentukan kata dalam bahasa Indonesia dan termasuk bentuk tidak baku.
Kesalahan ini sering terjadi karena pengaruh pelafalan atau analogi dengan kata “memasukkan”. Namun, jika kita memahami proses morfologinya, perbedaan tersebut menjadi jelas.
Ketelitian dalam berbahasa bukan sekadar soal estetika, melainkan juga mencerminkan profesionalisme dan penghargaan kita terhadap bahasa Indonesia. Dengan membiasakan diri menggunakan bentuk yang benar, kita turut menjaga kualitas komunikasi tertulis di berbagai bidang, baik akademik, bisnis, maupun digital.
Mulai sekarang, mari kita konsisten menggunakan kata pemasukan dalam setiap tulisan resmi maupun informal. Langkah kecil ini akan berdampak besar pada ketepatan dan kredibilitas bahasa kita.