Dalam dunia bisnis, pemasaran, akuntansi, hingga pemberitaan ekonomi, kita sering menjumpai istilah omzet dan omset. Keduanya terdengar mirip, sering digunakan secara bergantian, dan bahkan dianggap sama oleh sebagian besar masyarakat. Namun, muncul pertanyaan penting: penulisan yang benar menurut kaidah bahasa Indonesia adalah omzet atau omset?
Pertanyaan ini tampak sederhana, tetapi memiliki implikasi besar, terutama bagi kita yang berkecimpung dalam dunia penulisan profesional, pendidikan, bisnis, jurnalistik, hingga pembuatan konten digital. Kesalahan penulisan istilah dapat memengaruhi kredibilitas tulisan, citra profesional, dan bahkan pemahaman pembaca.
Melalui artikel ini, kita akan membahas secara komprehensif penulisan yang benar antara omzet atau omset, mulai dari asal-usul kata, penjelasan menurut KBBI, penggunaan dalam konteks bisnis, hingga tips praktis agar kita tidak keliru menggunakannya.
Pengertian Omzet dalam Dunia Bisnis
Secara umum, omzet merujuk pada total pendapatan kotor yang diperoleh dari hasil penjualan barang atau jasa dalam periode tertentu. Omzet belum dikurangi biaya operasional, pajak, gaji karyawan, maupun pengeluaran lainnya.
Dalam praktik bisnis, omzet sering digunakan sebagai indikator awal untuk menilai performa usaha. Semakin besar omzet, semakin tinggi pula volume transaksi yang terjadi, meskipun hal tersebut belum tentu mencerminkan keuntungan bersih.
Contoh penggunaan dalam kalimat:
- Omzet penjualan toko online tersebut meningkat tajam menjelang akhir tahun.
- Perusahaan menargetkan omzet tahunan sebesar Rp10 miliar.
Pengertian Omset yang Sering Digunakan di Masyarakat
Sementara itu, kata omset sering kita temui dalam percakapan sehari-hari, media sosial, bahkan dokumen bisnis informal. Secara makna, omset biasanya digunakan untuk merujuk pada hal yang sama dengan omzet, yaitu pendapatan kotor usaha.
Namun, pertanyaannya bukan sekadar soal makna, melainkan soal ketepatan penulisan menurut kaidah bahasa Indonesia. Apakah omset diakui secara resmi, atau hanya bentuk tidak baku dari omzet?
Penulisan yang Benar Menurut KBBI
Jika kita merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sebagai rujukan utama bahasa Indonesia baku, maka jawabannya sangat jelas.
Bentuk penulisan yang benar dan baku adalah “omzet”.
Kata omzet tercantum secara resmi dalam KBBI dan memiliki arti sebagai:
jumlah uang hasil penjualan barang (dagangan) tertentu selama suatu masa jual.
Sebaliknya, kata omset tidak tercantum sebagai entri utama dalam KBBI. Jika pun ditemukan dalam penggunaan sehari-hari, omset dianggap sebagai bentuk tidak baku dari omzet.
Dengan demikian, dalam konteks penulisan resmi, akademik, jurnalistik, dan profesional, kita harus selalu menggunakan kata omzet.
Asal-Usul Kata Omzet
Menarik untuk diketahui bahwa kata omzet bukan berasal dari bahasa Indonesia asli. Istilah ini merupakan serapan dari bahasa Belanda omzet, yang berarti perputaran atau pendapatan dari penjualan.
Karena pengaruh sejarah kolonial dan sistem perdagangan, banyak istilah ekonomi dan bisnis dalam bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Belanda, seperti:
- faktur
- kredit
- debit
- modal
Dalam proses penyerapan tersebut, ejaan omzet tetap dipertahankan dan kemudian dibakukan dalam KBBI. Inilah alasan utama mengapa penulisan omzet menggunakan huruf “z”, bukan “s”.
Mengapa Omset Lebih Populer di Kalangan Masyarakat?
Meskipun tidak baku, faktanya kata omset lebih sering berguna dalam percakapan lisan maupun tulisan informal. Ada beberapa alasan mengapa hal ini terjadi.
1. Pengaruh Pelafalan
Dalam pengucapan sehari-hari, bunyi “z” sering terdengar seperti “s”, terutama dalam dialek tertentu. Akibatnya, banyak orang menuliskannya sesuai dengan apa yang mereka dengar.
2. Kebiasaan dan Pengulangan
Ketika sebuah kata salah sudah terlanjur sering digunakan di media sosial, iklan, dan percakapan bisnis informal, maka kesalahan tersebut terasa “benar” karena terus diulang.
3. Kurangnya Rujukan Bahasa
Tidak semua orang terbiasa memeriksa KBBI sebelum menulis. Akibatnya, bentuk tidak baku seperti omset terus kita gunakan tanpa disadari.
Dampak Kesalahan Penulisan Omzet atau Omset
Sebagian orang mungkin menganggap perbedaan omzet dan omset sebagai hal sepele. Namun, dalam konteks tertentu, kesalahan ini dapat menimbulkan dampak yang cukup signifikan.
1. Menurunkan Kredibilitas Tulisan
Dalam artikel ilmiah, laporan keuangan, proposal bisnis, atau berita ekonomi, penggunaan kata tidak baku dapat menurunkan kepercayaan pembaca terhadap kualitas tulisan.
2. Berpengaruh pada Profesionalisme
Bagi pelaku bisnis, penggunaan bahasa yang tepat mencerminkan profesionalisme perusahaan. Kesalahan ejaan sederhana dapat memberi kesan kurang teliti.
3. Berdampak pada SEO Konten Digital
Dalam dunia digital, penggunaan kata baku seperti omzet lebih cocok karena sesuai dengan standar bahasa dan lebih relevan untuk konten edukatif jangka panjang.
Penggunaan Omzet dalam Berbagai Konteks
1. Dalam Dunia Bisnis dan UMKM
Pelaku usaha sering menggunakan omzet sebagai tolok ukur awal keberhasilan usaha. Misalnya:
- Laporan omzet harian
- Target omzet bulanan
- Evaluasi peningkatan omzet
2. Dalam Akuntansi dan Keuangan
Dalam akuntansi, omzet dicatat sebagai pendapatan kotor sebelum dikurangi beban. Istilah ini sering muncul dalam laporan laba rugi.
3. Dalam Media dan Jurnalistik
Media massa menggunakan kata omzet untuk melaporkan performa keuangan perusahaan, industri, atau sektor ekonomi tertentu.
Tips Agar Tidak Salah Menulis Omzet
Agar kita tidak lagi keliru membedakan omzet atau omset, berikut beberapa tips praktis yang bisa kita terapkan.
- Biasakan merujuk ke KBBI saat menulis istilah penting.
- Gunakan kata omzet dalam semua dokumen resmi dan publikasi.
- Ingat bahwa huruf “z” merupakan ciri kata serapan dari bahasa Belanda.
- Perbanyak membaca tulisan profesional agar terbiasa dengan bentuk baku.
Kesimpulan
Dari pembahasan di atas, dapat kita simpulkan bahwa penulisan yang benar menurut kaidah bahasa Indonesia adalah “omzet”, bukan “omset”. Kata omzet merupakan bentuk baku yang telah tercantum dalam KBBI dan secara resmi dalam dunia bisnis, akademik, dan jurnalistik.
Sementara itu, omset hanyalah bentuk tidak baku yang muncul akibat kebiasaan dan pengaruh pelafalan. Meski sering digunakan dalam percakapan sehari-hari, penggunaannya sebaiknya dihindari dalam konteks penulisan formal.
Dengan memahami perbedaan ini, kita tidak hanya meningkatkan kualitas bahasa, tetapi juga menjaga profesionalisme dan kredibilitas dalam setiap karya tulis yang kita hasilkan.