Penulisan yang Benar Mengonsumsi atau Mengkonsumsi

Dalam praktik berbahasa Indonesia sehari-hari, kita sering menjumpai dua bentuk penulisan kata yang tampak serupa tetapi memicu kebingungan, yaitu mengonsumsi dan mengkonsumsi. Kedua bentuk ini kerap muncul dalam artikel, berita, karya ilmiah, hingga konten digital. Akibatnya, banyak penulis ragu menentukan mana yang benar secara kaidah bahasa Indonesia baku.

Sebagai penulis atau pengelola konten, terutama bagi kita yang menargetkan standar profesional seperti pengajuan Google AdSense, ketepatan bahasa menjadi aspek penting. Oleh karena itu, kita perlu memahami secara mendalam aturan kebahasaan yang melatarbelakangi penulisan kata mengonsumsi dan mengkonsumsi, bukan sekadar menebak atau mengikuti kebiasaan umum.

Artikel ini membahas penulisan yang benar menurut kaidah bahasa Indonesia, alasan linguistik di baliknya, contoh penggunaan, kesalahan umum, serta dampaknya dalam konteks akademik dan digital.

Pengertian Kata Konsumsi dalam Bahasa Indonesia

Kata konsumsi berasal dari bahasa Latin consumere yang berarti menghabiskan atau menggunakan. Dalam bahasa Indonesia, kata ini merujuk pada kegiatan menggunakan, memakan, atau memanfaatkan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), konsumsi didefinisikan sebagai pemakaian barang hasil produksi, terutama bahan pangan. Dari kata dasar inilah muncul berbagai bentuk turunan, seperti konsumen, konsumtif, dan mengonsumsi.

Memahami kata dasar ini penting karena pembentukan kata berimbuhan dalam bahasa Indonesia mengikuti aturan fonologis dan morfologis yang baku.

Mengonsumsi dan mengkonsumsi: Apa Perbedaannya?

Sekilas, kata mengonsumsi dan mengkonsumsi tampak sama. Keduanya memiliki arti yang identik dalam pemahaman awam, yakni kegiatan menggunakan atau memakan sesuatu. Namun, dari sudut pandang bahasa baku, hanya satu bentuk yang diakui secara resmi.

Perbedaan utama terletak pada proses pembentukan kata kerja dengan imbuhan meN-. Imbuhan ini mengalami perubahan bentuk tergantung pada huruf awal kata dasarnya. Aturan inilah yang menentukan apakah huruf tertentu tetap dipertahankan atau mengalami peluluhan.

Aturan Imbuhan meN- dalam Bahasa Indonesia

Dalam bahasa Indonesia, imbuhan meN- memiliki beberapa variasi bentuk, seperti men-, mem-, meng-, meny-, dan me-. Perubahan bentuk ini bergantung pada huruf awal kata dasar yang mengikutinya.

Secara umum, jika kata dasar diawali huruf vokal (a, i, u, e, o) atau huruf tertentu seperti g, h, dan k, maka imbuhan meN- berubah menjadi meng-. Selain itu, dalam kondisi tertentu, huruf awal kata dasar dapat luluh atau tetap, tergantung kaidah yang berlaku.

Kata konsumsi diawali dengan huruf k. Dalam proses pembentukan kata kerja aktif, huruf k pada kata dasar tersebut luluh ketika mendapat imbuhan meN-. Akibatnya, bentuk yang benar bukan mengkonsumsi, melainkan mengonsumsi.

Penulisan yang Benar Menurut KBBI

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bentuk yang benar dan baku adalah mengonsumsi. Bentuk mengkonsumsi tidak tercantum sebagai lema utama dan dianggap tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia standar.

KBBI hanya mengakui:

mengonsumsi: memakai, memakan, atau menggunakan sesuatu

Dengan demikian, dalam penulisan formal, akademik, jurnalistik, maupun konten digital profesional, kita seharusnya menggunakan bentuk mengonsumsi.

Contoh Penggunaan Kata Mengonsumsi yang Tepat

Agar pemahaman kita semakin jelas, berikut beberapa contoh penggunaan kata mengonsumsi dalam kalimat yang benar:

Kita dianjurkan mengonsumsi makanan bergizi seimbang setiap hari.

Masyarakat modern cenderung mengonsumsi informasi secara cepat melalui media digital.

Anak-anak perlu mengonsumsi susu untuk mendukung pertumbuhan tulang.

Kita harus bijak dalam mengonsumsi sumber daya alam agar tetap berkelanjutan.

Contoh-contoh tersebut menunjukkan bahwa kata mengonsumsi dapat digunakan dalam berbagai konteks, baik fisik maupun abstrak.

Mengapa Bentuk Mengkonsumsi Masih Sering Digunakan?

Meskipun tidak baku, kata mengkonsumsi masih sering kita temui. Hal ini terjadi karena beberapa faktor pendukung, antara lain:

1. Pengaruh Kebiasaan Lisan

Dalam percakapan sehari-hari, peluluhan huruf k sering tidak terasa. Akibatnya, banyak orang menuliskan kata tersebut sebagaimana mereka mengucapkannya.

2. Kurangnya Pemahaman Kaidah Bahasa

Tidak semua penulis memahami aturan imbuhan meN-. Tanpa rujukan KBBI, penulisan sering mengandalkan intuisi.

3. Warisan Penulisan Lama

Pada masa lalu, beberapa media dan buku menggunakan ejaan yang belum sepenuhnya mengikuti standar yang diperbarui. Hal ini menyebabkan bentuk tidak baku tetap tersebar luas.

Dampak Kesalahan Penulisan dalam Konten Digital

Kesalahan penulisan kata seperti mengkonsumsi dapat berdampak pada kualitas konten digital. Bagi kita yang mengelola blog atau situs web, ketepatan bahasa berpengaruh terhadap kredibilitas dan profesionalitas.

Dalam konteks Google AdSense, konten yang menggunakan bahasa Indonesia baku cenderung dinilai lebih berkualitas. Mesin pencari juga semakin cerdas dalam menilai struktur bahasa, sehingga penggunaan kata yang benar membantu meningkatkan kepercayaan algoritma.

Selain itu, pembaca yang kritis akan lebih menghargai artikel yang ditulis sesuai kaidah resmi.

Mengonsumsi dalam Berbagai Bidang Ilmu

Kata mengonsumsi tidak hanya kita gunakan dalam konteks makanan. Jadi, dalam berbagai disiplin ilmu, kata ini memiliki cakupan makna yang luas.

Dalam ekonomi, kita mengenal istilah perilaku konsumen yang mengonsumsi barang dan jasa. Dalam kesehatan, istilah ini berkaitan dengan asupan nutrisi. Sementara itu, dalam teknologi, kita sering membahas cara masyarakat mengonsumsi konten digital.

Keberagaman penggunaan ini semakin menegaskan pentingnya konsistensi penulisan yang benar.

Tips Agar Konsisten Menggunakan Bahasa Baku

Agar kita tidak lagi ragu dalam menulis, berikut beberapa tips praktis:

Biasakan memeriksa kata di KBBI daring.

Gunakan aplikasi pengecekan ejaan bahasa Indonesia.

Perbanyak membaca sumber tepercaya seperti buku dan media nasional.

Catat kata-kata yang sering salah penulisan dan pelajari polanya.

Dengan kebiasaan tersebut, kualitas tulisan kita akan meningkat secara signifikan.

Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan di atas, dapat kita simpulkan bahwa penulisan yang benar menurut kaidah bahasa Indonesia adalah mengonsumsi, bukan mengkonsumsi. Bentuk ini sesuai dengan aturan imbuhan meN- dan telah tercatat secara resmi dalam KBBI.

Sebagai penulis dan pengelola konten, kita memiliki tanggung jawab untuk menggunakan bahasa yang baik dan benar. Ketepatan penulisan bukan hanya soal aturan, tetapi juga mencerminkan profesionalitas dan kredibilitas di mata pembaca serta platform digital seperti Google AdSense.

Dengan memahami dan menerapkan kaidah ini, kita dapat menghasilkan konten yang berkualitas, edukatif, dan layak bersaing di ranah digital.