Dalam kehidupan sehari-hari, terutama di lingkungan pendidikan, kita sering mendengar istilah mencontek dan menyontek. Kedua kata ini kerap digunakan secara bergantian, bahkan dianggap memiliki makna dan status kebahasaan yang sama. Namun, ketika kita menulis artikel, karya ilmiah, atau konten digital yang mengutamakan kaidah bahasa baku, pertanyaan penting pun muncul: manakah penulisan yang benar menurut kaidah bahasa Indonesia, mencontek atau menyontek?
Pemahaman yang tepat tentang penulisan kata sangat penting, terutama bagi kita yang aktif menulis untuk media daring, pendidikan, maupun kebutuhan profesional. Artikel ini akan membahas secara komprehensif penulisan yang benar antara mencontek dan menyontek, dilengkapi dengan aspek kebahasaan, etimologi, contoh penggunaan, serta implikasinya dalam dunia pendidikan dan literasi digital.
Makna dan Penggunaan Kata dalam Kehidupan Sehari-hari
Secara makna, baik mencontek maupun menyontek merujuk pada tindakan meniru atau menyalin pekerjaan orang lain secara tidak sah, terutama dalam konteks ujian atau tugas akademik. Dalam praktik sehari-hari, masyarakat sering menggunakan kedua istilah ini tanpa membedakan mana yang baku dan mana yang tidak.
Namun, dalam konteks bahasa Indonesia yang baik dan benar, kita tidak dapat hanya bergantung pada kebiasaan lisan. Kita perlu merujuk pada kaidah kebahasaan resmi agar tulisan yang kita hasilkan memiliki nilai akademik dan profesional yang tinggi.
Tinjauan Kebahasaan Mencontek dan Menyontek
Asal Usul Kata Menyontek
Kata menyontek berasal dari bentuk dasar sontek. Dalam pembentukan verba aktif, bahasa Indonesia mengenal proses afiksasi dengan menambahkan awalan me-. Ketika awalan me- bertemu dengan kata dasar yang diawali huruf s, maka huruf tersebut akan luluh dan berubah menjadi bunyi ny.
Proses ini sesuai dengan kaidah peluluhan fonem dalam bahasa Indonesia. Oleh karena itu, bentuk yang benar secara morfologis adalah menyontek, bukan mencontek.
Mengapa Kata Mencontek Banyak Digunakan?
Meskipun tidak sesuai kaidah baku, kata mencontek sangat populer dalam komunikasi lisan. Hal ini terjadi karena faktor kebiasaan, pengaruh bahasa daerah, serta proses simplifikasi pengucapan. Dalam percakapan informal, masyarakat cenderung memilih bentuk yang terasa lebih mudah diucapkan.
Namun, popularitas sebuah kata tidak selalu menjadikannya benar secara tata bahasa. Dalam penulisan formal, kita tetap perlu mengutamakan bentuk yang sesuai dengan pedoman resmi bahasa Indonesia.
Bentuk Baku Menurut Kaidah Bahasa Indonesia
Berdasarkan kaidah pembentukan kata kerja dalam bahasa Indonesia, bentuk yang baku adalah menyontek. Sementara itu, kata mencontek termasuk sebagai bentuk tidak baku yang sebaiknya kita hihindari dalam penulisan resmi.
Dengan memahami perbedaan ini, kita dapat meningkatkan kualitas tulisan, terutama ketika menulis artikel edukatif, karya ilmiah, laporan resmi, maupun konten digital untuk khalayak luas.
Contoh Penggunaan dalam Kalimat
Contoh Penggunaan Kata Menyontek (Baku)
- Kita harus menanamkan nilai kejujuran agar siswa tidak terbiasa menyontek saat ujian.
- Menyontek dalam dunia pendidikan dapat merusak integritas akademik.
- Guru perlu memberikan edukasi tentang dampak negatif menyontek sejak dini.
Penggunaan Kata Mencontek (Tidak Baku)
- Ia ketahuan mencontek jawaban temannya saat ulangan.
- Kebiasaan mencontek sering dianggap sepele oleh sebagian pelajar.
Contoh di atas menunjukkan bahwa meskipun maknanya dapat kita pahami, penggunaan kata tidak baku sebaiknya kita batasi pada konteks informal saja.
Dampak Penggunaan Kata Tidak Baku dalam Tulisan
Penggunaan kata tidak baku seperti mencontek dalam tulisan formal dapat menurunkan kredibilitas penulis. Dalam konteks akademik dan profesional, kesalahan semacam ini bisa menimbulkan kesan kurang cermat dan tidak memahami kaidah bahasa.
Bagi kita yang ingin mengembangkan situs edukatif atau mengajukan monetisasi melalui Google AdSense, konsistensi penggunaan bahasa baku menjadi salah satu indikator kualitas konten. Mesin pencari dan pembaca sama-sama menghargai tulisan yang rapi, sistematis, dan sesuai kaidah.
Menyontek dalam Perspektif Pendidikan dan Etika
Selain aspek kebahasaan, istilah menyontek juga berkaitan erat dengan nilai etika dan karakter. Dalam dunia pendidikan, menyontek mencerminkan kurangnya kejujuran dan tanggung jawab pribadi. Oleh karena itu, pembahasan tentang kata ini tidak hanya berhenti pada bentuk penulisan, tetapi juga pada makna moral yang dikandungnya.
Kita perlu memahami bahwa bahasa memiliki peran penting dalam membentuk cara berpikir. Dengan menggunakan istilah yang tepat dan baku, kita turut berkontribusi dalam membangun budaya literasi dan integritas.
Relevansi bagi Penulis dan Pengelola Konten Digital
Bagi penulis artikel, blogger, dan pengelola situs web, pemilihan kata yang tepat sangat menentukan kualitas konten. Penggunaan kata baku seperti menyontek menunjukkan bahwa kita menghargai kaidah bahasa dan memperhatikan detail.
Hal ini menjadi nilai tambah, terutama jika tujuan kita adalah membangun situs edukatif yang berkelanjutan dan dipercaya oleh pembaca serta mesin pencari.
Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas, dapat kita simpulkan bahwa penulisan yang benar menurut kaidah bahasa Indonesia adalah menyontek, bukan mencontek. Kata menyontek terbentuk melalui proses morfologis yang sesuai dengan aturan peluluhan fonem, sedangkan mencontek hanyalah bentuk tidak baku yang muncul akibat kebiasaan lisan.
Dengan menggunakan bentuk baku dalam tulisan, kita tidak hanya meningkatkan kualitas bahasa, tetapi juga menunjukkan sikap profesional, edukatif, dan bertanggung jawab. Pemahaman ini sangat penting bagi siapa pun yang aktif menulis, terutama dalam konteks pendidikan dan publikasi digital.