Penulisan yang Benar Mencolok atau Menyolok

Dalam praktik berbahasa Indonesia sehari-hari, kita sering menjumpai kata-kata yang terdengar mirip tetapi penulisannya berbeda. Salah satu pasangan kata yang kerap menimbulkan kebingungan adalah “mencolok” dan “menyolok”. Tidak sedikit penutur bahasa Indonesia yang menggunakan kedua kata ini secara bergantian tanpa mempertimbangkan kaidah kebahasaan yang berlaku.

Padahal, dalam konteks bahasa baku, hanya satu bentuk yang diakui secara resmi. Kesalahan penulisan seperti ini tidak boleh dianggap sepele, terutama dalam penulisan artikel, karya ilmiah, berita, maupun konten digital yang menuntut ketepatan bahasa. Oleh karena itu, melalui artikel ini, kita akan membahas secara tuntas penulisan yang benar antara “mencolok” dan “menyolok” beserta aspek-aspek pendukungnya.

Pengertian Kata Mencolok

Kata mencolok berasal dari bentuk dasar colok yang mendapatkan imbuhan awalan me-. Dalam bahasa Indonesia, kata ini memiliki makna yang cukup luas tergantung pada konteks penggunaannya.

Menurut kaidah bahasa baku, mencolok dapat diartikan sebagai:

  • Menarik perhatian secara kuat atau mencolok mata
  • Menonjol dibandingkan dengan lingkungan sekitarnya
  • Menusuk atau memasukkan sesuatu dengan cara ditusukkan

Contoh penggunaan kata mencolok dalam kalimat:

  • Warna bajunya sangat mencolok sehingga mudah dikenali dari kejauhan.
  • Perbedaan harga itu tampak mencolok dibandingkan toko lain.
  • Ia mencolokkan steker ke stop kontak dengan hati-hati.

Dari contoh-contoh tersebut, terlihat bahwa kata mencolok dapat kita gunakan baik dalam makna harfiah maupun makna kiasan.

Apakah Kata Menyolok Itu Benar?

Kata menyolok sering muncul dalam percakapan lisan maupun tulisan nonformal. Namun, pertanyaan pentingnya adalah: apakah kata ini termasuk bentuk baku dalam bahasa Indonesia?

Berdasarkan penelusuran kaidah kebahasaan dan rujukan kamus resmi bahasa Indonesia, “menyolok” tidak termasuk bentuk kata baku. Kata ini tidak tercatat sebagai entri utama yang tertulis secara normatif.

Kemunculan kata menyolok umumnya tergantung pada:

  • Kesalahan analogi dengan kata berawalan meny-
  • Pengaruh pengucapan lisan yang tidak sesuai kaidah
  • Kebiasaan berbahasa yang keliru dan terus berulang

Dengan demikian, dalam penulisan formal dan baku, penggunaan kata menyolok sebaiknya kita hindari.

Penjelasan Imbuhan Me- dalam Kata Mencolok

Untuk memahami mengapa bentuk yang benar adalah mencolok, kita perlu meninjau aturan penggunaan imbuhan me- dalam bahasa Indonesia.

Aturan Perubahan Imbuhan Me-

Imbuhan me- mengalami penyesuaian bunyi ketika bertemu dengan kata dasar tertentu. Penyesuaian ini yaitu sebagai proses peluluhan atau asimilasi fonem.

Kata dasar colok diawali dengan huruf c. Dalam aturan bahasa Indonesia:

  • Awalan me- + kata dasar berawalan c berubah menjadi men-
  • Tidak terjadi peluluhan huruf c

Sehingga, proses pembentukannya adalah:

me- + colok = mencolok

Bentuk inilah yang sesuai dengan kaidah morfologi bahasa Indonesia.

Mengapa Bukan Menyolok?

Awalan meny- dalam bahasa Indonesia kita gunakan jika kata dasar diawali huruf s, dan huruf s tersebut mengalami peluluhan.

Contoh:

  • me- + sapu → menyapu
  • me- + siram → menyiram

Karena kata dasar colok tidak diawali huruf s, maka penggunaan awalan meny- pada kata ini tidak tepat. Inilah alasan linguistik utama mengapa kata menyolok menjadi tidak baku.

Penggunaan Mencolok dalam Berbagai Konteks

Kata mencolok memiliki fleksibilitas makna yang cukup tinggi. Kita dapat menemukannya dalam berbagai bidang dan situasi.

Dalam Bahasa Sehari-hari

Dalam komunikasi sehari-hari, kata mencolok sering kita gunakan untuk menggambarkan sesuatu yang sangat menonjol.

Contoh:

  • Riasan wajahnya terlalu mencolok untuk acara formal.
  • Perilakunya mencolok di tengah kerumunan.

Dalam Dunia Akademik dan Penulisan Ilmiah

Dalam karya ilmiah, kata mencolok biasanya kita gunakan untuk menegaskan perbedaan atau kontras yang signifikan.

Contoh:

  • Terdapat perbedaan yang mencolok antara data kelompok kontrol dan kelompok eksperimen.

Dalam Konteks Teknologi dan Kehidupan Modern

Kata mencolok juga sering kita pakai dalam konteks teknologi, terutama yang berkaitan dengan perangkat listrik.

Contohnya yaitu:

  • Kita harus berhati-hati saat mencolokkan kabel ke sumber listrik.

Dampak Kesalahan Penulisan Menyolok

Kesalahan penulisan antara mencolok dan menyolok dapat berdampak cukup serius, terutama dalam konteks formal dan profesional.

Beberapa dampak yang mungkin terjadi yaitu:

  • Menurunkan kredibilitas penulis
  • Dianggap kurang memahami kaidah bahasa Indonesia
  • Memengaruhi kualitas artikel di mata pembaca dan mesin pencari

Oleh karena itu, ketelitian dalam memilih kata baku menjadi hal yang sangat penting.

Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan yang telah kita uraikan secara menyeluruh, dapat kita simpulkan bahwa penulisan yang benar dan baku adalah “mencolok”, bukan “menyolok”. Jadi, kata mencolok terbentuk melalui proses morfologis yang sesuai dengan aturan imbuhan me- dalam bahasa Indonesia.

Sementara itu, kata menyolok muncul akibat kesalahan analogi dan kebiasaan berbahasa yang tidak sesuai dengan kaidah resmi. Oleh sebab itu, dalam penulisan formal, akademik, maupun konten digital profesional, kita harus selalu menggunakan bentuk yang benar, yaitu mencolok.

Dengan memahami perbedaan ini, kita tidak hanya meningkatkan ketepatan berbahasa, tetapi juga turut menjaga kualitas dan kelestarian bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.