Dalam praktik berbahasa Indonesia sehari-hari, kita sering menjumpai dua bentuk penulisan kata kerja yang tampak mirip, tetapi menimbulkan keraguan: menafsirkan atau mentafsirkan. Kedua bentuk ini kerap digunakan secara bergantian dalam tulisan ilmiah, artikel populer, hingga media daring. Namun, pertanyaannya adalah, manakah yang benar menurut kaidah bahasa Indonesia baku?
Artikel ini akan membahas secara mendalam penulisan yang benar antara menafsirkan dan mentafsirkan berdasarkan kaidah morfologi, rujukan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), serta prinsip pembentukan kata berimbuhan. Dengan memahami pembahasan ini, kita dapat meningkatkan ketepatan dan kualitas bahasa dalam tulisan formal maupun nonformal.
Pengertian Kata Tafsir dan Menafsirkan
Sebelum membahas bentuk kata berimbuhan, kita perlu memahami makna kata dasarnya terlebih dahulu.
Makna Kata Tafsir
Menurut KBBI, tafsir berarti penjelasan atau keterangan tentang maksud suatu teks, terutama yang bersifat abstrak, simbolik, atau kompleks. Jadi, kata ini sering digunakan dalam konteks keagamaan, sastra, hukum, dan ilmu sosial.
Contoh penggunaan yaitu:
- Tafsir Al-Qur’an
- Tafsir makna puisi
- Tafsir data penelitian
Makna Kata Menafsirkan
Kata menafsirkan merupakan bentuk verba (kata kerja) yang berarti memberikan tafsir, menjelaskan makna, atau menafsirkan sesuatu berdasarkan pemahaman tertentu. Kata ini menunjukkan aktivitas aktif yang dilakukan oleh subjek.
Proses Pembentukan Kata Berimbuhan Me-
Untuk menentukan penulisan yang benar, kita harus memahami kaidah pembentukan kata kerja dengan imbuhan me- dalam bahasa Indonesia.
Aturan Umum Imbuhan Me-
Imbuhan me- mengalami perubahan bentuk (asimilasi) ketika bertemu dengan huruf awal kata dasar tertentu. Perubahan ini bertujuan untuk memudahkan pengucapan.
Beberapa contoh perubahan imbuhan me- yaitu:
- me- + baca → membaca
- me- + pukul → memukul
- me- + tulis → menulis
- me- + sapu → menyapu
Namun, tidak semua kata dasar mengalami perubahan bunyi yang sama.
Imbuhan Me- Bertemu Huruf T
Jika imbuhan me- bertemu dengan kata dasar yang diawali huruf t, maka huruf t pada kata dasar tersebut luluh (hilang), dan imbuhan berubah menjadi men-.
Contohnya yaitu:
- me- + tulis → menulis
- me- + tarik → menarik
- me- + timbang → menimbang
Kaidah ini menjadi kunci utama dalam menentukan penulisan yang benar antara menafsirkan dan mentafsirkan.
Analisis Menafsirkan atau Mentafsirkan
Sekarang, mari kita terapkan kaidah tersebut pada kata tafsir.
Kata Dasar Tafsir
Kata tafsir diawali dengan huruf t, sehingga ketika diberi imbuhan me-, huruf t seharusnya luluh.
Proses pembentukannya:
- me- + tafsir + -kan
- t luluh → menafsirkan
Dengan demikian, bentuk yang sesuai kaidah adalah menafsirkan, bukan mentafsirkan.
Mengapa Mentafsirkan Dianggap Tidak Baku?
Bentuk mentafsirkan masih mempertahankan huruf t pada kata dasar tafsir. Padahal, menurut kaidah morfologi bahasa Indonesia, huruf t tersebut harus luluh setelah mendapat imbuhan me-.
Oleh karena itu, mentafsirkan tergolong sebagai bentuk tidak baku, meskipun masih sering ditemukan dalam penggunaan sehari-hari.
Rujukan KBBI dan Bahasa Baku
Dalam KBBI, kita dapat menemukan entri kata menafsirkan, sementara bentuk mentafsirkan tidak tercantum sebagai lema baku.
Hal ini memperkuat kesimpulan bahwa:
✅ Menafsirkan → baku
❌ Mentafsirkan → tidak baku
Sebagai penulis, akademisi, atau pengelola konten digital, kita sebaiknya selalu merujuk pada KBBI untuk memastikan ketepatan bahasa yang kita gunakan.
Contoh Penggunaan Menafsirkan dalam Kalimat
Agar pemahaman semakin kuat, berikut beberapa contoh penggunaan kata menafsirkan dalam kalimat:
- Kita perlu menafsirkan data penelitian secara objektif agar kesimpulan yang dihasilkan akurat.
- Para ahli mencoba menafsirkan naskah kuno tersebut berdasarkan konteks sejarahnya.
- Setiap pembaca dapat menafsirkan sebuah karya sastra dengan sudut pandang yang berbeda.
- Guru membantu siswa menafsirkan makna simbol dalam cerita pendek.
Contoh-contoh tersebut menunjukkan bahwa kata menafsirkan digunakan secara alami dan sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.
Kesalahan Umum dalam Penulisan Kata Berimbuhan
Kesalahan seperti mentafsirkan bukanlah kasus tunggal. Kita juga sering menjumpai kesalahan serupa pada kata lain, misalnya:
- mentulis (seharusnya menulis)
- mentarik (seharusnya menarik)
- mentimbang (seharusnya menimbang)
Kesalahan ini umumnya terjadi karena kurangnya pemahaman terhadap proses peluluhan huruf dalam imbuhan me-.
Pentingnya Menggunakan Bahasa Baku dalam Tulisan
Menggunakan bahasa baku bukan sekadar soal aturan, tetapi juga mencerminkan profesionalisme dan kredibilitas penulis. Dalam konteks akademik, jurnalistik, dan digital marketing, penggunaan kata yang tidak baku dapat menurunkan kualitas tulisan.
Dengan memilih bentuk yang benar, yaitu menafsirkan, kita menunjukkan kepatuhan terhadap kaidah bahasa sekaligus meningkatkan kepercayaan pembaca terhadap isi tulisan.
Kesimpulan
Berdasarkan kaidah pembentukan kata, aturan peluluhan huruf t dalam imbuhan me-, serta rujukan KBBI, dapat kita simpulkan bahwa penulisan yang benar adalah menafsirkan, bukan mentafsirkan.
Memahami perbedaan ini membantu kita menulis dengan lebih tepat, sistematis, dan sesuai standar bahasa Indonesia. Dengan demikian, kita tidak hanya menyampaikan pesan, tetapi juga turut menjaga kualitas dan kelestarian bahasa nasional.