Penulisan yang Benar Mempraktekkan atau Mempraktikkan

Dalam aktivitas menulis, baik di dunia akademik, jurnalistik, maupun digital seperti blog dan media sosial, kita sering menjumpai kebingungan dalam memilih kata yang benar secara kaidah bahasa. Salah satu contoh yang kerap menimbulkan pertanyaan adalah penulisan mempraktekkan atau mempraktikkan. Kedua bentuk ini tampak mirip, terdengar sama saat diucapkan, dan sama-sama sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, apakah keduanya benar menurut kaidah bahasa Indonesia baku?

Artikel ini akan membahas secara mendalam penulisan yang benar antara mempraktekkan dan mempraktikkan berdasarkan kaidah kebahasaan, khususnya yang merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Kita juga akan mengulas alasan linguistik di balik bentuk yang benar, contoh penggunaan dalam kalimat, kesalahan umum yang sering terjadi, serta tips agar kita dapat menulis dengan lebih cermat dan profesional.

Asal Kata dan Pembentukan Istilah

Untuk memahami mana penulisan yang benar, kita perlu menelusuri asal kata dasarnya. Kata kerja mempraktekkan atau mempraktikkan berasal dari kata dasar praktik. Kata praktik sendiri merujuk pada pelaksanaan atau penerapan suatu teori, konsep, atau pengetahuan dalam bentuk nyata.

Dalam bahasa Indonesia, proses pembentukan kata kerja sering kali melibatkan penambahan imbuhan, baik awalan (prefiks), akhiran (sufiks), maupun gabungan keduanya. Kata praktik dapat berubah menjadi kata kerja dengan penambahan awalan me- dan akhiran -kan.

Di sinilah muncul dua bentuk yang sering diperdebatkan: mempraktekkan dan mempraktikkan. Untuk menentukan mana yang benar, kita perlu kembali pada kaidah morfologi bahasa Indonesia dan rujukan resmi seperti KBBI.

Bentuk Baku Menurut KBBI

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, bentuk kata dasar yang baku adalah praktik, bukan praktek. Kata praktek tidak tercantum sebagai lema baku dalam KBBI, melainkan hanya dianggap sebagai bentuk tidak baku yang muncul akibat pengaruh pelafalan lisan.

Karena kata dasarnya adalah praktik, maka bentuk kata kerja yang benar mengikuti pola pembentukan dari kata tersebut, yaitu mempraktikkan. Dengan demikian, penulisan mempraktekkan tergolong tidak baku dan sebaiknya dihindari dalam penulisan formal.

Kesimpulan awal yang bisa kita tarik adalah bahwa mempraktikkan merupakan bentuk yang benar dan sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia baku.

Alasan Linguistik di Balik Penulisan yang Benar

Secara linguistik, perbedaan antara praktik dan praktek sering kali disebabkan oleh kebiasaan pengucapan. Dalam tuturan sehari-hari, banyak penutur bahasa Indonesia yang melafalkan bunyi -tik menjadi -tek. Kebiasaan ini kemudian terbawa ke dalam bentuk tulisan.

Namun, bahasa tulis memiliki standar yang berbeda dengan bahasa lisan. Bahasa tulis menuntut ketepatan ejaan dan konsistensi dengan kaidah yang telah ditetapkan. Oleh karena itu, meskipun mempraktekkan terdengar wajar di telinga, bentuk tersebut tidak dapat dibenarkan secara ejaan.

Kita perlu membedakan antara kebiasaan berbahasa dan aturan berbahasa. Dalam konteks formal dan profesional, aturan bahasa harus menjadi acuan utama.

Contoh Penggunaan dalam Kalimat

Agar pemahaman kita semakin jelas, berikut beberapa contoh penggunaan kata mempraktikkan dalam kalimat yang benar:

  • Kita perlu mempraktikkan teori yang telah dipelajari agar lebih mudah dipahami.
  • Mahasiswa diminta untuk mempraktikkan metode penelitian di lapangan.
  • Guru tersebut mengajak siswa mempraktikkan nilai-nilai kejujuran dalam kehidupan sehari-hari.

Jika kita mengganti kata tersebut dengan mempraktekkan, kalimatnya memang masih dapat kita pahami, tetapi secara kaidah bahasa menjadi tidak tepat.

Kesalahan Umum yang Sering Terjadi

Kesalahan penulisan mempraktekkan sering terjadi karena beberapa faktor. Pertama, pengaruh bahasa lisan yang sangat kuat. Kedua, kurangnya kebiasaan untuk memeriksa kata dalam kamus. Ketiga, adanya anggapan bahwa variasi ejaan tersebut sama-sama benar.

Selain itu, kesalahan ini juga kerap muncul dalam karya tulis akademik, artikel daring, hingga dokumen resmi. Hal ini tentu dapat menurunkan kualitas tulisan dan kesan profesional penulisnya.

Dengan memahami bahwa hanya mempraktikkan yang baku, kita dapat menghindari kesalahan berulang dan meningkatkan ketepatan berbahasa.

Perbedaan Praktik dan Praktis

Dalam pembahasan ini, kita juga perlu berhati-hati agar tidak mencampuradukkan kata praktik dengan praktis. Kata praktis memiliki makna berbeda, yaitu mudah kita lakukan atau efisien. Kata tersebut bukanlah dasar dari mempraktikkan.

Kesalahan memahami perbedaan makna ini dapat menyebabkan kekeliruan dalam memilih kata yang tepat sesuai konteks.

Pentingnya Menggunakan Kata Baku

Menggunakan kata baku seperti mempraktikkan bukan sekadar soal mengikuti aturan, tetapi juga mencerminkan sikap profesional dan penghargaan terhadap bahasa Indonesia. Bahasa yang baik dan benar membantu menyampaikan pesan secara lebih jelas dan meningkatkan kredibilitas penulis.

Dalam dunia pendidikan, media, dan komunikasi publik, ketepatan bahasa memiliki peran yang sangat penting. Kesalahan kecil dalam ejaan dapat memengaruhi persepsi pembaca terhadap kualitas isi tulisan.

Tips Agar Tidak Salah Menulis

Agar kita tidak lagi ragu antara mempraktekkan dan mempraktikkan, ada beberapa tips sederhana yang bisa kita terapkan. Pertama, biasakan untuk merujuk pada KBBI saat menemukan kata yang meragukan. Kedua, perbanyak membaca tulisan berkualitas yang menggunakan bahasa baku. Ketiga, lakukan proses penyuntingan sebelum memublikasikan tulisan.

Dengan langkah-langkah tersebut, kemampuan berbahasa kita akan semakin terasah dan kesalahan penulisan dapat kita minimalkan.

Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan di atas, dapat kita simpulkan bahwa penulisan yang benar dan baku menurut kaidah bahasa Indonesia adalah mempraktikkan, bukan mempraktekkan. Bentuk ini berasal dari kata dasar praktik yang telah tertulis dalam KBBI.

Meskipun bentuk tidak baku sering kita gunakan dalam percakapan sehari-hari, kita tetap perlu mengutamakan bentuk baku dalam penulisan formal dan profesional. Dengan demikian, kita turut berkontribusi dalam menjaga ketertiban dan keindahan bahasa Indonesia.

Semoga artikel ini membantu kita memahami perbedaan antara mempraktekkan dan mempraktikkan, serta mendorong kita untuk lebih cermat dalam berbahasa.