Penulisan yang Benar Memasukan atau Memasukkan

Dalam praktik berbahasa Indonesia sehari-hari, kita sering menjumpai dua bentuk kata yang tampak mirip, tetapi sebenarnya berbeda secara kaidah, yaitu memasukan dan memasukkan. Perbedaan satu huruf “k” mungkin terlihat sepele, tetapi dalam tata bahasa Indonesia, perbedaan kecil ini memiliki konsekuensi penting terhadap makna, struktur kata, dan ketepatan penggunaan.

Kesalahan penulisan kata seperti ini kerap terjadi dalam karya tulis, artikel daring, laporan akademik, bahkan dokumen resmi. Oleh karena itu, memahami mana bentuk yang benar bukan hanya soal ejaan, melainkan juga mencerminkan profesionalisme dan kecermatan kita dalam berbahasa.

Melalui pembahasan ini, kita akan mengulas secara menyeluruh mengenai perbedaan memasukan dan memasukkan, mulai dari aspek morfologi, fungsi imbuhan, rujukan kaidah bahasa Indonesia, hingga contoh penggunaan dalam kalimat. Dengan pemahaman yang sistematis, kita dapat menghindari kesalahan serupa di masa depan.

Asal Kata dan Struktur Morfologis

Untuk memahami perbedaannya, kita perlu menelusuri akar katanya terlebih dahulu. Kata dasar dari kedua bentuk tersebut adalah masuk. Kata ini tergolong verba (kata kerja) yang berarti bergerak dari luar ke dalam.

Dari kata dasar masuk, terbentuklah berbagai turunan melalui proses afiksasi (pembubuhan imbuhan), seperti:

  • masukan
  • memasuki
  • memasukkan

Di sinilah letak kunci persoalan. Bentuk memasukkan berasal dari proses berikut:

meN- + masuk + -kan → memasukkan

Sementara bentuk memasukan secara struktur tidak melalui proses morfologis yang tepat menurut kaidah bahasa Indonesia baku.

Mengapa “Memasukkan” yang Benar?

1. Kaidah Imbuhan MeN-

Dalam tata bahasa Indonesia, awalan meN- berfungsi membentuk kata kerja aktif. Ketika bertemu dengan kata dasar yang berawalan huruf “m”, seperti masuk, bentuknya tetap menjadi mem-.

Contoh:

  • meN- + makan → memakan
  • meN- + minum → meminum
  • meN- + masuk → memasukkan (dengan tambahan -kan)

Namun, perlu diperhatikan bahwa kata memasukkan bukan sekadar hasil dari awalan meN-. Kata ini juga mengandung akhiran -kan.

2. Fungsi Akhiran -kan

Akhiran -kan memiliki fungsi penting, yaitu:

  • Membentuk verba transitif (memerlukan objek)
  • Memberikan makna kausatif (menyebabkan sesuatu menjadi)
  • Menyatakan tindakan yang dilakukan terhadap objek tertentu

Dalam kata memasukkan, akhiran -kan menjadikan kata tersebut bermakna “membuat sesuatu menjadi masuk” atau “menempatkan sesuatu ke dalam”.

Contoh kalimat:

  • Kita harus memasukkan data dengan benar.
  • Ia memasukkan buku ke dalam tas.
  • Panitia akan memasukkan nama peserta ke daftar resmi.

Semua contoh di atas menunjukkan adanya objek yang dikenai tindakan.

Lalu, Bagaimana dengan “Memasukan”?

Bentuk memasukan sering muncul dalam tulisan informal, pesan singkat, atau media sosial. Namun, menurut kaidah bahasa Indonesia baku, bentuk ini tidak tepat jika digunakan sebagai verba aktif.

Kesalahan ini biasanya terjadi karena penulis mengira kata masukan adalah bentuk dasar yang tinggal diberi awalan me-. Padahal, masukan sendiri merupakan kata benda (nomina), bukan kata kerja.

Perhatikan perbedaannya:

  • Masukan (nomina): saran, input, atau sesuatu yang dimasukkan
  • Memasukkan (verba): melakukan tindakan memasukkan sesuatu

Contoh penggunaan kata masukan yang benar:

  • Kami menerima banyak masukan dari pembaca.
  • Terima kasih atas masukan yang membangun.

Jadi, jika kita ingin menggunakan bentuk kata kerja aktif, maka bentuk yang benar adalah memasukkan, bukan memasukan.

Perbedaan Makna: Masuk, Masukan, dan Memasukkan

Agar lebih jelas, mari kita bedakan ketiga bentuk ini:

1. Masuk (Verba Intransitif)

Tidak memerlukan objek.

  • Ia masuk ke ruangan.

2. Masukan (Nomina)

Bermakna saran atau input.

  • Kita membutuhkan masukan dari ahli.

3. Memasukkan (Verba Transitif)

Memerlukan objek.

  • Kita memasukkan laporan ke sistem.

Melalui perbandingan ini, kita dapat melihat bahwa perbedaan satu huruf “k” membawa perubahan kelas kata sekaligus fungsi sintaksis.

Kesalahan yang Sering Terjadi dalam Penulisan

Beberapa faktor yang menyebabkan kesalahan penulisan antara lain:

1. Pengaruh Bahasa Lisan

Dalam percakapan sehari-hari, pengucapan “memasukkan” sering terdengar seperti “memasukan” karena pelafalan huruf rangkap kurang jelas.

2. Kurangnya Pemahaman Imbuhan

Banyak penulis belum memahami perbedaan fungsi antara akhiran -kan dan -an.

3. Kebiasaan di Media Sosial

Lingkungan digital yang serba cepat membuat ketelitian ejaan sering diabaikan.

Pentingnya Ketepatan Ejaan dalam Penulisan Profesional

Ketepatan ejaan bukan sekadar soal tata bahasa. Dalam konteks profesional, kesalahan kecil dapat berdampak pada:

  • Menurunnya kredibilitas penulis
  • Kesalahpahaman makna
  • Kurangnya kepercayaan pembaca

Dalam dokumen resmi, laporan akademik, maupun konten digital, penggunaan bentuk baku menunjukkan bahwa kita menghargai kaidah bahasa Indonesia.

Strategi Agar Tidak Salah Lagi

Untuk menghindari kekeliruan antara memasukan dan memasukkan, kita dapat menerapkan beberapa langkah berikut:

1. Pahami Kelas Kata

Tentukan terlebih dahulu apakah kata yang digunakan berfungsi sebagai kata kerja atau kata benda.

2. Periksa di KBBI

Kamus Besar Bahasa Indonesia menjadi rujukan utama dalam menentukan bentuk baku.

3. Gunakan Logika Objek

Jika ada objek setelah kata tersebut, besar kemungkinan bentuk yang tepat adalah memasukkan.

Contoh:

  • Kita memasukkan apa? → Data (ada objek, jadi gunakan -kan).

Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa bentuk yang benar untuk menyatakan tindakan aktif adalah memasukkan, bukan memasukan. Kata memasukkan terbentuk dari kata dasar masuk yang mendapatkan awalan meN- dan akhiran -kan, sehingga menjadi verba transitif yang memerlukan objek.

Sementara itu, masukan adalah kata benda yang bermakna saran atau input. Adapun bentuk memasukan tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia baku jika digunakan sebagai verba.

Dengan memahami struktur kata dan fungsi imbuhan secara tepat, kita tidak hanya meningkatkan kualitas tulisan, tetapi juga menunjukkan kepedulian terhadap penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Ketelitian kecil seperti ini mencerminkan profesionalisme yang besar.

Semoga setelah membaca pembahasan ini, kita tidak lagi ragu dalam memilih antara memasukan atau memasukkan. Gunakan bentuk yang benar, dan jadikan bahasa sebagai alat komunikasi yang akurat serta berwibawa.

Tinggalkan komentar