Dalam kehidupan sehari-hari, kita hampir tidak pernah lepas dari istilah media sosial atau sosial media. Istilah ini sering muncul di berita, artikel akademik, media daring, hingga percakapan santai di ruang digital. Namun, tidak sedikit dari kita yang masih bertanya-tanya: manakah penulisan yang benar menurut kaidah bahasa Indonesia, media sosial atau sosial media?
Pertanyaan ini terlihat sederhana, tetapi sebenarnya menyentuh aspek penting dalam kebahasaan, khususnya terkait tata bahasa, pembentukan istilah, dan pengaruh bahasa asing terhadap bahasa Indonesia. Dalam artikel ini, kita akan membahas secara komprehensif penulisan yang benar, alasan kebahasaannya, serta bagaimana penggunaannya dalam konteks formal dan informal.
Pengertian Media Sosial Secara Umum
Sebelum membahas penulisannya, kita perlu memahami makna dari istilah media sosial itu sendiri. Media sosial adalah sarana atau platform digital yang memungkinkan penggunanya untuk berinteraksi, berbagi informasi, berkomunikasi, dan membangun jejaring secara virtual.
Platform seperti Facebook, Instagram, X (Twitter), TikTok, dan YouTube merupakan contoh nyata media sosial yang kini memegang peran penting dalam kehidupan sosial, ekonomi, pendidikan, dan budaya. Media sosial bukan sekadar alat hiburan, tetapi juga menjadi medium komunikasi massa modern.
Asal Usul Istilah Media Sosial
Istilah media sosial berasal dari terjemahan bahasa Inggris social media. Dalam bahasa Inggris, frasa ini terdiri dari kata social (bersifat sosial) dan media (sarana atau perantara).
Ketika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, terjadi proses adaptasi bahasa. Proses ini tidak selalu dilakukan secara harfiah, tetapi disesuaikan dengan kaidah tata bahasa Indonesia. Di sinilah muncul dua variasi penulisan: media sosial dan sosial media.
Penulisan yang Benar Menurut KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), penulisan yang benar dan baku adalah media sosial. Istilah ini tercatat secara resmi dan digunakan dalam berbagai konteks formal, termasuk pendidikan, jurnal ilmiah, dan dokumen pemerintahan.
Sementara itu, istilah sosial media tidak tercatat sebagai entri baku dalam KBBI. Penggunaan sosial media lebih merupakan hasil serapan langsung dari struktur bahasa Inggris tanpa penyesuaian kaidah bahasa Indonesia.
Alasan Kebahasaan Mengapa Media Sosial Lebih Tepat
1. Pola Diterangkan–Menerangkan dalam Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia menganut pola diterangkan–menerangkan (DM). Artinya, kata inti (nomina) biasanya diletakkan di depan, lalu diikuti kata yang menerangkan.
Dalam frasa media sosial:
- Media adalah kata inti
- Sosial berfungsi sebagai kata sifat yang menerangkan
Pola ini sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia, seperti pada frasa “rumah sakit”, “air bersih”, atau “teknologi informasi”.
2. Sosial Media Mengikuti Struktur Bahasa Inggris
Penulisan sosial media mengikuti pola bahasa Inggris, yaitu menerangkan–diterangkan. Struktur ini tidak sesuai dengan tata bahasa Indonesia, sehingga dianggap tidak baku dalam konteks formal.
Penggunaan Media Sosial dalam Konteks Formal
Dalam konteks formal seperti penulisan artikel ilmiah, karya tulis akademik, laporan resmi, berita, dan dokumen pemerintahan, kita wajib menggunakan istilah media sosial. Penggunaan istilah baku mencerminkan ketepatan bahasa dan profesionalisme penulis.
Kesalahan dalam penggunaan istilah, meskipun terlihat kecil, dapat memengaruhi kredibilitas tulisan, terutama jika ditujukan untuk pembaca akademik atau institusional.
Penggunaan Sosial Media dalam Konteks Informal
Meski tidak baku, istilah sosial media cukup sering kita temui dalam percakapan sehari-hari, media sosial itu sendiri, hingga konten pemasaran digital. Dalam konteks informal, penggunaan istilah ini masih dapat dimaklumi.
Namun, kita tetap perlu menyadari bahwa popularitas suatu istilah tidak selalu berarti kebenaran secara kebahasaan. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mampu membedakan penggunaan bahasa formal dan informal.
Dampak Penggunaan Media Sosial dalam Kehidupan Kita
1. Dampak Positif Media Sosial
Media sosial memberikan banyak manfaat, antara lain:
- Mempermudah komunikasi tanpa batas ruang dan waktu
- Menjadi sarana edukasi dan penyebaran informasi
- Membuka peluang ekonomi dan bisnis digital
- Menjadi media ekspresi dan kreativitas
2. Dampak Negatif Media Sosial
Di sisi lain, penggunaan media sosial yang tidak bijak juga dapat menimbulkan dampak negatif, seperti:
- Penyebaran hoaks dan informasi palsu
- Kecanduan digital
- Penurunan kualitas interaksi sosial langsung
- Masalah privasi dan keamanan data
Oleh karena itu, literasi digital menjadi aspek penting yang harus kita kembangkan bersama.
Pentingnya Menggunakan Bahasa yang Benar di Media Sosial
Menariknya, media sosial justru menjadi ruang utama penggunaan bahasa oleh masyarakat luas. Jika kita terbiasa menggunakan istilah yang benar, seperti media sosial, maka secara tidak langsung kita turut berkontribusi dalam menjaga kualitas bahasa Indonesia.
Bahasa adalah identitas bangsa. Dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar, kita tidak hanya berkomunikasi, tetapi juga merawat warisan budaya.
Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas, dapat kita simpulkan bahwa penulisan yang benar menurut kaidah bahasa Indonesia dan KBBI adalah media sosial, bukan sosial media. Istilah media sosial sesuai dengan pola tata bahasa Indonesia dan digunakan secara resmi dalam konteks formal.
Sementara itu, sosial media merupakan bentuk tidak baku yang masih sering orang gunakan dalam konteks informal. Sebagai pengguna bahasa yang cerdas, kita perlu memahami perbedaannya agar dapat menggunakan istilah yang tepat sesuai situasi.
Dengan pemahaman ini, kita tidak hanya aktif menggunakan media sosial, tetapi juga bijak dan benar dalam berbahasa.