Penulisan yang Benar Kualitas atau Kwalitas

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menjumpai dua bentuk penulisan yang tampak mirip tetapi menimbulkan keraguan, yaitu kualitas dan kwalitas. Keduanya kerap digunakan secara bergantian, baik dalam percakapan lisan maupun tulisan formal. Namun, pertanyaan penting yang perlu kita jawab adalah: manakah penulisan yang benar menurut kaidah bahasa Indonesia?

Pemahaman yang tepat mengenai penulisan kata baku bukan sekadar persoalan teknis bahasa, melainkan juga mencerminkan tingkat literasi, profesionalisme, dan kredibilitas seseorang dalam berkomunikasi. Artikel ini akan membahas secara komprehensif penulisan yang benar antara kualitas atau kwalitas, dilengkapi dengan dasar kebahasaan, contoh penggunaan, serta implikasinya dalam dunia pendidikan, akademik, dan profesional.

Pengertian Kualitas dalam Bahasa Indonesia

Secara makna, kata kualitas merujuk pada tingkat baik atau buruknya sesuatu. Kualitas sering digunakan untuk menilai mutu barang, jasa, kinerja, pendidikan, hingga karakter seseorang. Dalam konteks yang lebih luas, kualitas juga berkaitan dengan standar, nilai, dan keunggulan.

Dalam bahasa Indonesia, kata ini digunakan secara luas, misalnya dalam frasa kualitas pendidikan, kualitas produk, atau kualitas sumber daya manusia. Oleh karena itu, pemahaman mengenai penulisan yang benar menjadi sangat penting karena kata ini termasuk kosakata inti dalam komunikasi formal.

Kualitas atau Kwalitas: Mana yang Baku?

Berdasarkan kaidah bahasa Indonesia yang mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), penulisan yang benar dan baku adalah kualitas, bukan kwalitas.

Kata kualitas tercatat secara resmi sebagai bentuk baku, sedangkan kwalitas tidak diakui sebagai entri tersendiri dan dianggap sebagai bentuk tidak baku. Dengan demikian, penggunaan kata kwalitas dalam tulisan formal, akademik, atau administratif sebaiknya dihindari.

Alasan Linguistik di Balik Penulisan “Kualitas”

Kata kualitas berasal dari bahasa Latin qualitas, yang kemudian diserap ke dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia. Dalam proses penyerapan kata asing, bahasa Indonesia memiliki aturan fonologis dan ortografis tertentu.

Huruf “qu” dalam bahasa asing umumnya sudah sederhana menjadi “k” dalam bahasa Indonesia. Hal ini dapat kita lihat pada kata-kata lain seperti:

  • quality → kualitas
  • quantity → kuantitas
  • qualification → kualifikasi

Pola ini menunjukkan konsistensi bahasa Indonesia dalam menyerap kata asing agar sesuai dengan sistem ejaan nasional. Oleh sebab itu, bentuk “kwalitas” tidak sesuai dengan kaidah yang berlaku.

Mengapa Kata “Kwalitas” Masih Sering Digunakan?

Meskipun tidak baku, kata kwalitas masih sering kita temukan dalam berbagai media, terutama di ruang digital. Ada beberapa faktor yang menyebabkan hal ini terjadi.

1. Pengaruh Kebiasaan Lama

Pada masa lalu, sebelum adanya standardisasi ejaan yang kuat, beberapa kata memang ditulis dengan awalan “kw”. Kebiasaan ini kemudian terbawa hingga sekarang, meskipun aturannya telah diperbarui.

2. Minimnya Kesadaran Bahasa Baku

Tidak semua penutur bahasa Indonesia memiliki akses atau kebiasaan untuk memeriksa kata baku di KBBI. Akibatnya, bentuk yang salah tetap digunakan dan dianggap benar karena sering terlihat.

3. Pengaruh Pengucapan Lisan

Dalam pengucapan sehari-hari, kata kualitas sering terdengar seperti “kwalitas”. Perbedaan antara bunyi dan tulisan inilah yang sering menimbulkan kekeliruan.

Pentingnya Menggunakan Kata Baku “Kualitas”

Menggunakan kata baku bukan sekadar mengikuti aturan, tetapi juga membawa dampak positif dalam berbagai aspek kehidupan.

1. Meningkatkan Kredibilitas Tulisan

Dalam dunia akademik, jurnalistik, dan profesional, penggunaan bahasa baku mencerminkan ketelitian dan kompetensi penulis. Tulisan yang konsisten menggunakan kata “kualitas” akan terlihat lebih meyakinkan dan terpercaya.

2. Mendukung Komunikasi yang Efektif

Bahasa baku berfungsi sebagai standar bersama. Dengan menggunakan kata yang benar, kita meminimalkan ambiguitas dan kesalahpahaman dalam komunikasi.

3. Menjaga Kelestarian Bahasa Indonesia

Bahasa adalah identitas bangsa. Dengan mematuhi kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar, kita turut berkontribusi dalam menjaga kelestarian dan martabat bahasa nasional.

Contoh Penggunaan Kata “Kualitas” yang Benar

Berikut beberapa contoh kalimat yang menggunakan kata kualitas secara tepat:

  • Kualitas pendidikan sangat menentukan masa depan generasi muda.
  • Perusahaan ini terkenal karena kualitas produknya yang konsisten.
  • Peningkatan kualitas layanan menjadi prioritas utama organisasi.

Semua contoh di atas menggunakan bentuk baku dan sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.

Kesalahan Umum dalam Penulisan Kata Serapan

Kekeliruan antara kualitas dan kwalitas sebenarnya merupakan bagian dari masalah yang lebih luas, yaitu kesalahan dalam menulis kata serapan. Beberapa contoh lain yang sering keliru antara lain:

  • Aktif (baku) – Aktip (tidak baku)
  • Praktik (baku) – Praktek (tidak baku)
  • Risiko (baku) – Resiko (tidak baku)

Dengan memahami pola penyerapan kata asing, kita dapat menghindari kesalahan serupa di masa mendatang.

Peran Pendidikan Bahasa dalam Meningkatkan Kualitas Literasi

Pendidikan bahasa memiliki peran strategis dalam meningkatkan kualitas literasi masyarakat. Pembelajaran bahasa Indonesia tidak hanya menekankan kemampuan berbicara, tetapi juga ketepatan dalam menulis.

Ketika kita terbiasa menggunakan kata baku seperti “kualitas”, secara tidak langsung kita sedang membangun budaya literasi yang lebih baik. Hal ini penting, terutama di era digital ketika tulisan menyebar dengan sangat cepat dan luas.

Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan yang telah kita uraikan, dapat kita simpulkan bahwa penulisan yang benar dan baku adalah kualitas, bukan kwalitas. Bentuk “kualitas” telah sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia dan tercatat secara resmi dalam KBBI.

Penggunaan kata baku mencerminkan kualitas berbahasa kita sekaligus menunjukkan sikap profesional, cermat, dan bertanggung jawab dalam berkomunikasi. Oleh karena itu, mari kita biasakan menggunakan kata “kualitas” dalam setiap konteks penulisan formal maupun informal.

Dengan kesadaran berbahasa yang baik, kita tidak hanya meningkatkan kualitas tulisan, tetapi juga berkontribusi dalam menjaga standar dan martabat bahasa Indonesia.