Dalam praktik berbahasa Indonesia sehari-hari, kita sering menjumpai dua bentuk penulisan yang tampak serupa, tetapi menimbulkan keraguan: jadwal atau jadual. Kedua bentuk ini kerap digunakan secara bergantian, baik dalam percakapan lisan maupun tulisan resmi, seperti surat undangan, pengumuman, dokumen akademik, hingga konten digital. Pertanyaannya, manakah penulisan yang benar dan sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia baku?
Artikel ini akan mengulas secara komprehensif perbedaan jadwal dan jadual, mulai dari asal-usul kata, rujukan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kaidah ejaan yang berlaku, hingga contoh penggunaan yang tepat dalam berbagai konteks. Dengan pembahasan yang sistematis dan edukatif, kita diharapkan dapat menggunakan bahasa Indonesia secara lebih cermat dan profesional.
Pentingnya Ketepatan Ejaan dalam Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia memiliki peran penting sebagai bahasa persatuan dan bahasa resmi negara. Oleh karena itu, ketepatan ejaan bukan sekadar persoalan teknis, melainkan juga mencerminkan sikap kita terhadap bahasa itu sendiri. Kesalahan ejaan yang tampak sepele dapat berdampak pada menurunnya kredibilitas sebuah tulisan, terutama dalam konteks akademik, jurnalistik, dan administrasi.
Dalam dunia pendidikan dan profesional, penggunaan kata yang tidak baku sering dianggap sebagai kurangnya ketelitian atau pemahaman terhadap kaidah bahasa. Oleh sebab itu, memahami mana bentuk kata yang benar termasuk dalam kasus jadwal atau jadual menjadi bagian dari literasi berbahasa yang perlu kita kuasai.
Asal-Usul Kata Jadwal/Jadual
Untuk memahami perbedaan penulisan jadwal dan jadual, kita perlu menelusuri asal-usul katanya. Kata ini berasal dari bahasa Arab, yaitu jadwal (جدول), yang berarti daftar, tabel, atau susunan. Dalam bahasa Arab, kata tersebut dilafalkan dengan bunyi vokal /a/ yang cukup jelas.
Ketika diserap ke dalam bahasa Indonesia, banyak kata serapan dari bahasa Arab mengalami penyesuaian ejaan dan pelafalan agar sesuai dengan sistem fonologi dan ortografi bahasa Indonesia. Proses penyesuaian inilah yang sering menimbulkan variasi penulisan pada masa lalu, termasuk munculnya bentuk jadual.
Jadwal atau Jadual Menurut KBBI
Rujukan Kamus Besar Bahasa Indonesia
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) merupakan rujukan utama dalam menentukan kata baku bahasa Indonesia. Menurut KBBI edisi terbaru, bentuk kata yang baku dan tercatat secara resmi adalah jadwal.
Sementara itu, bentuk jadual tidak lagi tercantum sebagai entri utama dalam KBBI. Jika pun ditemukan dalam sumber-sumber lama, bentuk tersebut dianggap sebagai variasi ejaan lama yang kini sudah tidak digunakan dalam kaidah bahasa Indonesia modern.
Status Kebakuan Kata
Berdasarkan penjelasan KBBI, dapat ditegaskan yaitu:
- Jadwal adalah bentuk baku.
- Jadual adalah bentuk tidak baku dan sebaiknya kita hindari.
Dengan demikian, dalam penulisan resmi dan formal, kita harus menggunakan kata jadwal.
Sejarah Perubahan Ejaan dalam Bahasa Indonesia
Munculnya keraguan antara jadwal dan jadual tidak dapat terlepas dari sejarah perubahan ejaan bahasa Indonesia. Sejak masa Ejaan van Ophuijsen, Ejaan Republik, hingga Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) dan kini Ejaan Bahasa Indonesia (EBI), banyak kata mengalami penyederhanaan.
Huruf vokal rangkap seperti “ua” dalam beberapa kata serapan cenderung lebih sederhana menjadi satu bunyi yang lebih sesuai dengan pelafalan penutur bahasa Indonesia. Proses ini bertujuan untuk memudahkan pembelajaran dan penggunaan bahasa secara luas.
Dalam konteks inilah, penulisan jadual yang pernah digunakan pada masa lampau akhirnya disederhanakan menjadi jadwal dan ditetapkan sebagai bentuk baku.
Penggunaan Jadwal dalam Kalimat
Contoh Kalimat yang Benar
Berikut beberapa contoh penggunaan kata jadwal yang tepat dalam kalimat:
- Kita perlu menyusun jadwal kegiatan agar pekerjaan lebih terorganisasi.
- Jadwal ujian akhir semester akan diumumkan minggu depan.
- Panitia telah merevisi jadwal acara karena adanya perubahan teknis.
Penggunaan kata jadwal dalam contoh di atas sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia baku dan layak kita gunakan dalam konteks formal maupun nonformal.
Contoh Penggunaan yang Keliru
Sebagai perbandingan, berikut contoh penggunaan yang tidak sesuai dengan kaidah:
- Panitia telah mengumumkan jadual kegiatan tahunan.
Kalimat tersebut seharusnya menggunakan kata jadwal, bukan jadual.
Dampak Penggunaan Kata Tidak Baku
Penggunaan kata tidak baku seperti jadual dapat menimbulkan beberapa dampak, antara lain:
1. Menurunkan Kredibilitas Tulisan
Dalam karya ilmiah, laporan resmi, atau artikel profesional, kesalahan ejaan dapat membuat pembaca meragukan kualitas dan keakuratan isi tulisan.
2. Menyebabkan Inkonsistensi Bahasa
Penggunaan bentuk baku dan tidak baku secara bergantian dapat menciptakan ketidakkonsistenan yang mengganggu alur baca.
3. Menghambat Pembelajaran Bahasa
Bagi pelajar dan pembelajar bahasa Indonesia, penggunaan kata tidak baku dapat menimbulkan kebingungan dan memperlambat proses pemahaman kaidah bahasa.
Tips Agar Konsisten Menggunakan Kata Baku
Agar kita terhindar dari kesalahan penulisan seperti jadual, berikut beberapa tips yang dapat kita terapkan:
- Biasakan merujuk pada KBBI daring atau cetak.
- Gunakan fitur pemeriksa ejaan saat menulis di perangkat digital.
- Perbanyak membaca teks-teks resmi dan berkualitas.
- Catat kata-kata yang sering menimbulkan keraguan.
Dengan kebiasaan tersebut, ketepatan berbahasa akan meningkat secara bertahap.
Kesimpulan
Perdebatan antara jadwal atau jadual sejatinya dapat kita jawab dengan merujuk pada kaidah bahasa Indonesia yang berlaku. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia dan ketentuan Ejaan Bahasa Indonesia, bentuk yang benar dan baku adalah jadwal. Sementara itu, jadual merupakan bentuk tidak baku yang sudah jarang dalam penggunaan bahasa Indonesia modern.
Jadi, sebagai penutur bahasa Indonesia yang baik, kita memiliki tanggung jawab untuk menggunakan bahasa secara tepat dan konsisten. Oleh karena itu dengan memilih kata baku seperti jadwal, kita turut berkontribusi dalam menjaga mutu dan kejelasan bahasa Indonesia di berbagai ranah komunikasi.