Penulisan yang Benar Hakikat atau Hakekat

Dalam bahasa Indonesia, kita sering menjumpai pasangan kata yang terdengar sama, memiliki makna serupa, tetapi berbeda dalam penulisan. Salah satu contoh yang cukup sering menimbulkan kebingungan adalah hakikat dan hakekat. Kedua bentuk ini kerap digunakan secara bergantian dalam tulisan akademik, artikel opini, hingga percakapan sehari-hari. Namun, pertanyaannya adalah: manakah penulisan yang benar menurut kaidah bahasa Indonesia?

Artikel ini akan mengulas secara mendalam penulisan yang tepat antara hakikat atau hakekat, dilengkapi dengan penjelasan etimologi, pandangan kebahasaan, rujukan kaidah baku, serta contoh penggunaan dalam berbagai konteks. Dengan pembahasan yang komprehensif, kita diharapkan mampu memahami bukan hanya bentuk yang benar, tetapi juga alasan linguistik di baliknya.

Pengertian Hakikat dalam Bahasa Indonesia

Secara makna, kata hakikat merujuk pada inti, esensi, atau kenyataan yang sesungguhnya dari suatu hal. Dalam konteks filsafat, hakikat sering digunakan untuk menjelaskan sifat paling mendasar yang membuat sesuatu itu ada dan berbeda dari yang lain. Sementara dalam penggunaan umum, hakikat dapat diartikan sebagai keadaan yang sebenarnya atau makna terdalam.

Contoh penggunaan kata hakikat dalam kalimat:

  • Kita perlu memahami hakikat pendidikan sebagai proses memanusiakan manusia.
  • Hakikat masalah ini terletak pada kurangnya komunikasi yang efektif.

Dari contoh tersebut, terlihat bahwa kata hakikat berguna untuk menekankan esensi atau inti persoalan, bukan sekadar gejala luarnya.

Asal Usul Kata Hakikat

Untuk memahami perbedaan penulisan hakikat dan hakekat, kita perlu menelusuri asal-usul katanya. Kata hakikat berasal dari bahasa Arab ḥaqīqah (حقيقة), yang berarti kebenaran, kenyataan, atau realitas yang sesungguhnya.

Dalam proses penyerapan ke dalam bahasa Indonesia, banyak kata dari bahasa Arab mengalami penyesuaian bunyi dan ejaan agar sesuai dengan sistem fonologi dan ortografi bahasa Indonesia. Proses inilah yang menyebabkan munculnya variasi penulisan pada masa lalu, termasuk penggunaan huruf e pada kata-kata tertentu.

Hakikat atau Hakekat: Manakah yang Baku?

Berdasarkan kaidah bahasa Indonesia yang berlaku saat ini, penulisan yang baku dan benar adalah “hakikat”, bukan “hakekat”. Bentuk hakikat telah tercatat sebagai bentuk standar dan tercantum dalam kamus bahasa Indonesia sebagai lema resmi.

Sementara itu, bentuk hakekat tergolong sebagai bentuk tidak baku. Meskipun pernah digunakan secara luas pada masa lalu, terutama dalam karya-karya lama atau penulisan sebelum adanya standardisasi ejaan yang lebih ketat, bentuk ini kini tidak lagi dianjurkan dalam penulisan formal.

Alasan Penulisan “Hakikat” Dianggap Baku

Ada beberapa alasan mengapa kata hakikat dinyatakan baku, antara lain:

  1. Keselarasan dengan ejaan bahasa Indonesia modern
    Bahasa Indonesia modern cenderung menghilangkan penggunaan huruf e pepet yang tidak perlu dalam penyerapan kata asing.
  2. Konsistensi dengan kata serumpun
    Banyak kata serapan dari bahasa Arab yang menggunakan pola serupa, seperti hak, hakim, dan hakiki, yang semuanya menggunakan huruf a, bukan e.
  3. Standarisasi kebahasaan
    Dalam dunia pendidikan, jurnal ilmiah, dan dokumen resmi, konsistensi penulisan sangat penting. Oleh karena itu, hanya bentuk baku yang dianjurkan.

Mengapa Bentuk “Hakekat” Masih Sering Digunakan?

Meskipun tidak baku, kita masih sering menemukan kata hakekat dalam berbagai tulisan. Hal ini tidak lepas dari beberapa faktor berikut:

1. Pengaruh Penulisan Lama

Pada masa sebelum pembakuan ejaan yang ketat, penulisan kata serapan belum sepenuhnya konsisten. Bentuk hakekat pernah ada dalam buku-buku lama, sehingga sebagian orang menganggapnya masih benar.

2. Kebiasaan dan Tradisi

Dalam dunia pendidikan atau lingkungan tertentu, penggunaan kata hakekat telah menjadi kebiasaan turun-temurun. Kebiasaan ini kemudian terbawa hingga sekarang, meskipun kaidahnya telah berubah.

3. Persepsi Bunyi dalam Pengucapan

Dalam pengucapan lisan, bunyi a dan e pada suku kata tertentu terdengar mirip, sehingga penulis sering kali menuliskannya sesuai dengan apa yang terdengar.

Contoh Penggunaan yang Benar dalam Kalimat

Agar lebih jelas, berikut beberapa contoh penggunaan kata hakikat yang benar dalam berbagai konteks:

  • Hakikat kehidupan manusia tidak hanya kita ukur dari materi, tetapi juga nilai moral.
  • Kita perlu memahami hakikat demokrasi agar tidak terjebak pada formalitas semata.
  • Penelitian ini bertujuan mengungkap hakikat perubahan sosial di masyarakat urban.

Semua contoh tersebut menunjukkan penggunaan kata hakikat sebagai inti atau esensi dari suatu konsep.

Kesalahan Umum dalam Penulisan Hakikat

Kesalahan yang paling umum tentu saja adalah penggunaan kata hakekat dalam tulisan formal. Selain itu, ada pula kesalahan lain yang perlu kita hindari, seperti:

  • Menggabungkan kata hakikat dengan makna yang tidak tepat, sehingga konteksnya menjadi kabur.
  • Menggunakan hakikat sebagai sinonim mutlak dari “makna”, padahal tidak selalu sama.

Dengan memahami fungsi dan makna kata hakikat secara tepat, kualitas tulisan kita akan meningkat secara signifikan.

Pentingnya Menggunakan Kata Baku dalam Tulisan

Menggunakan kata baku seperti hakikat bukan sekadar soal benar atau salah, tetapi juga mencerminkan sikap kita terhadap bahasa. Dalam konteks profesional dan akademik, ketepatan berbahasa menunjukkan kredibilitas, ketelitian, dan penghargaan terhadap pembaca.

Selain itu, penggunaan kata baku membantu menjaga keseragaman bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi nasional. Jika setiap orang bebas menggunakan bentuk tidak baku, maka potensi salah paham akan semakin besar.

Kesimpulan

Dari pembahasan di atas, dapat kita simpulkan bahwa penulisan yang benar dan baku adalah “hakikat”, bukan “hakekat”. Kata hakikat memiliki makna esensi atau inti dari sesuatu dan berasal dari bahasa Arab ḥaqīqah. Bentuk hakekat hanyalah variasi lama yang kini tidak lagi ada dalam penulisan formal.

Dengan memahami perbedaan ini, kita dapat menulis dengan lebih tepat, profesional, dan sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Pada akhirnya, ketepatan berbahasa bukan hanya soal aturan, tetapi juga cerminan kualitas berpikir dan berkomunikasi kita.