Dalam komunikasi sehari-hari, kita sering menggunakan kata “enggak”, “nggak”, atau “engga” untuk menyatakan penolakan atau jawaban tidak. Kata ini begitu akrab dalam percakapan lisan maupun tulisan informal, mulai dari pesan singkat, media sosial, hingga dialog dalam karya sastra populer. Namun, ketika kita berbicara tentang penulisan yang benar menurut kaidah bahasa Indonesia, muncul pertanyaan penting: manakah bentuk yang tepat engga, enggak, atau nggak?
Pertanyaan ini tampak sederhana, tetapi sesungguhnya berkaitan erat dengan standar bahasa, ragam lisan dan tulis, serta perkembangan kosakata dalam masyarakat. Melalui artikel ini, kita akan membahas secara komprehensif asal-usul kata tersebut, bentuk baku dan tidak baku, perbedaan fungsi dalam konteks formal dan informal, serta bagaimana sebaiknya kita menggunakannya dalam tulisan yang sesuai kaidah.
Asal-Usul Kata “Enggak”
Kata “enggak” berasal dari ragam bahasa Melayu Betawi yang kemudian menyebar luas melalui interaksi sosial, urbanisasi, serta media massa. Dalam perkembangannya, kata ini menjadi salah satu bentuk penolakan paling populer di Indonesia, berdampingan dengan kata baku “tidak”.
Secara historis, bentuk “enggak” diyakini sebagai variasi fonetis dari kata “tidak” dalam dialek tertentu, meskipun keduanya berbeda asal-usul. “Enggak” lebih dekat dengan ekspresi lisan masyarakat Jakarta dan sekitarnya, yang kemudian diadopsi secara luas oleh penutur bahasa Indonesia di berbagai daerah.
Perlu kita pahami bahwa tidak semua kata yang populer dalam percakapan otomatis menjadi bentuk baku dalam bahasa tulis formal. Di sinilah pentingnya membedakan antara kebiasaan berbahasa dan kaidah kebahasaan.
Bentuk Baku dan Tidak Baku
1. Enggak
Bentuk “enggak” tercatat dalam kamus bahasa Indonesia sebagai bentuk tidak baku dari “tidak”. Artinya, kata ini diakui keberadaannya, tetapi penggunaannya terbatas pada situasi nonformal. Dalam konteks percakapan santai, dialog cerita, atau tulisan populer, penggunaan “enggak” masih dapat diterima.
Contoh:
- Saya enggak tahu jawabannya.
- Dia enggak datang kemarin.
Namun, dalam karya ilmiah, laporan resmi, surat dinas, atau tulisan akademik, bentuk ini sebaiknya diganti dengan “tidak”.
2. Nggak
Bentuk “nggak” merupakan variasi ejaan tidak baku yang lebih mencerminkan pelafalan lisan. Dalam percakapan sehari-hari, banyak orang memang mengucapkannya tanpa vokal awal yang jelas, sehingga terdengar seperti “nggak”.
Meski sangat umum digunakan dalam pesan singkat dan media sosial, “nggak” tidak dianjurkan dalam tulisan formal. Bahkan dalam tulisan semi-formal, penggunaannya perlu dipertimbangkan agar tidak mengurangi kesan profesional.
Contoh penggunaan informal:
- Aku nggak setuju dengan pendapat itu.
- Kita nggak boleh menyerah.
3. Engga
Bentuk “engga” tanpa huruf “k” di akhir termasuk variasi yang lebih jauh dari standar ejaan bahasa Indonesia. Secara kaidah, bentuk ini tidak sesuai dengan pola pembentukan kata yang benar. Penulisan “engga” muncul akibat kebiasaan mengetik cepat atau pengaruh pengucapan lisan yang tidak menekankan konsonan akhir.
Dari sisi kebahasaan, “engga” tergolong bentuk tidak baku dan tidak dianjurkan, bahkan dalam tulisan informal yang tetap memperhatikan kerapian bahasa.
Perbandingan dengan Kata “Tidak”
Untuk memahami posisi ketiga bentuk tersebut, kita perlu membandingkannya dengan kata “tidak” sebagai bentuk baku. Kata “tidak” digunakan dalam semua situasi resmi dan menjadi standar dalam bahasa Indonesia formal.
Contoh dalam konteks formal:
- Peserta yang tidak hadir dianggap mengundurkan diri.
- Keputusan tersebut tidak dapat diganggu gugat.
Kita dapat melihat bahwa mengganti “tidak” dengan “enggak” atau “nggak” dalam kalimat tersebut akan menurunkan tingkat formalitas dan profesionalitas tulisan.
Ragam Bahasa: Lisan dan Tulis
Bahasa memiliki ragam yang berbeda sesuai konteks penggunaannya. Dalam ragam lisan, fleksibilitas lebih besar karena komunikasi didukung intonasi, ekspresi wajah, dan situasi percakapan. Oleh sebab itu, penggunaan “enggak” atau “nggak” terasa wajar dalam dialog sehari-hari.
Namun, dalam ragam tulis—terutama tulisan resmi—kita dituntut untuk mengikuti standar ejaan dan tata bahasa. Tulisan tidak memiliki bantuan intonasi atau ekspresi, sehingga kejelasan dan ketepatan menjadi sangat penting.
Kesadaran akan perbedaan ragam ini membantu kita memilih bentuk kata yang tepat sesuai konteks.
Aspek Sosiolinguistik
Dari sudut pandang sosiolinguistik, variasi “enggak”, “nggak”, dan “engga” mencerminkan dinamika bahasa dalam masyarakat. Bahasa tidak pernah statis; ia berkembang mengikuti kebiasaan penuturnya.
Media sosial mempercepat penyebaran bentuk-bentuk tidak baku karena pengguna cenderung menulis sebagaimana mereka berbicara. Akibatnya, batas antara bahasa lisan dan tulis semakin kabur.
Kita perlu bijak dalam menyikapi fenomena ini. Di satu sisi, variasi bahasa menunjukkan kreativitas dan identitas sosial. Di sisi lain, standar bahasa tetap berlaku untuk menjaga keseragaman dan kejelasan komunikasi nasional.
Kesalahan Umum dalam Penulisan
1. Menggunakan “nggak” dalam Tulisan Ilmiah
Kesalahan yang sering terjadi adalah penggunaan “nggak” dalam makalah, skripsi, atau laporan resmi. Hal ini menurunkan kualitas akademik tulisan.
2. Menghilangkan Huruf Akhir pada “enggak”
Penulisan “engga” kerap jadi hal sepele, padahal secara ejaan tidak tepat. Menghilangkan konsonan akhir dapat mengubah struktur fonologis kata.
3. Ketidakkonsistenan
Dalam satu tulisan, penulis kadang mencampur penggunaan “enggak”, “nggak”, dan “tidak” tanpa mempertimbangkan konteks. Ketidakkonsistenan ini membuat tulisan tampak kurang rapi.
Kapan Kita Boleh Menggunakan “Enggak” atau “Nggak”?
Penggunaan bentuk tidak baku tetap dapat kita terima dalam kondisi berikut:
- Dialog dalam cerpen atau novel untuk menggambarkan karakter.
- Percakapan di media sosial.
- Tulisan santai seperti blog pribadi dengan gaya kasual.
Namun, untuk artikel ilmiah, berita resmi, surat dinas, dan dokumen formal lainnya, kita sebaiknya konsisten menggunakan “tidak”.
Implikasi dalam Dunia Digital
Di era digital, kecepatan sering kali lebih utama daripada ketepatan. Orang menulis “nggak” karena lebih singkat dan terasa alami. Meski demikian, profesionalisme tetap penting, terutama dalam komunikasi bisnis dan publik.
Penggunaan bahasa yang tepat mencerminkan kredibilitas. Sebuah perusahaan atau institusi pendidikan yang konsisten menggunakan bentuk baku akan terlihat lebih terpercaya daripada yang menggunakan ragam santai secara sembarangan.
Kesimpulan
Dari pembahasan di atas, dapat kita simpulkan bahwa:
- “Tidak” adalah bentuk baku dan berguna dalam semua konteks formal.
- “Enggak” merupakan bentuk tidak baku yang masih dapat kita terima dalam situasi informal.
- “Nggak” adalah variasi ejaan tidak baku yang mencerminkan pelafalan lisan.
- “Engga” tanpa huruf “k” termasuk bentuk yang tidak sesuai kaidah ejaan.
Sebagai pengguna bahasa Indonesia yang baik, kita perlu memahami konteks sebelum memilih kata. Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga cerminan sikap dan profesionalitas. Dengan menggunakan bentuk yang tepat sesuai situasi, kita turut menjaga mutu dan martabat bahasa Indonesia.