Dalam praktik berbahasa Indonesia sehari-hari, kita sering menjumpai dua bentuk penulisan yang tampak serupa tetapi menimbulkan pertanyaan: diimbau atau dihimbau? Perbedaan satu huruf saja, yakni kehadiran atau ketiadaan huruf h, kerap membuat kita ragu saat menulis surat resmi, pengumuman, berita, atau konten digital. Padahal, ketepatan ejaan bukan sekadar persoalan teknis, melainkan mencerminkan ketelitian, profesionalisme, dan pemahaman kita terhadap kaidah bahasa Indonesia.
Melalui artikel ini, kita akan membahas secara komprehensif mana bentuk yang benar menurut kaidah resmi, mengapa bentuk tersebut yang digunakan, bagaimana sejarah dan proses pembentukannya, serta kesalahan umum yang sering terjadi. Dengan pemahaman yang menyeluruh, kita tidak hanya mengetahui jawabannya, tetapi juga memahami alasan di baliknya.
Bentuk yang Benar Menurut Kaidah Bahasa Indonesia
Menurut kaidah yang berlaku dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) dan rujukan kamus resmi bahasa Indonesia, bentuk yang benar adalah diimbau, bukan dihimbau.
Kata dasarnya adalah imbau, bukan himbau. Oleh karena itu, ketika mendapatkan awalan di-, penulisannya menjadi diimbau. Huruf h tidak digunakan karena memang tidak terdapat dalam bentuk baku kata dasarnya.
Contoh penggunaan yang benar:
- Masyarakat diimbau untuk tetap menjaga kebersihan lingkungan.
- Warga diimbau agar tidak terpancing isu yang belum jelas kebenarannya.
- Pengunjung diimbau mematuhi peraturan yang berlaku.
Sementara itu, bentuk dihimbau merupakan bentuk tidak baku karena berasal dari kata dasar yang juga tidak baku, yaitu himbau.
Asal Usul Kata “Imbau”
Makna Kata Imbau
Kata imbau memiliki arti memanggil, menyeru, atau mengajak dengan penuh pertimbangan dan tujuan tertentu. Dalam konteks formal, kata ini sering digunakan oleh instansi pemerintah, lembaga pendidikan, maupun organisasi untuk menyampaikan ajakan atau peringatan secara persuasif.
Contohnya:
- Pemerintah mengimbau masyarakat untuk bijak menggunakan media sosial.
- Kepala sekolah mengimbau siswa menjaga ketertiban.
Mengapa Banyak Orang Menulis “Himbau”?
Kesalahan penulisan himbau kemungkinan besar dipengaruhi oleh kebiasaan pengucapan atau analogi dengan kata lain yang memang diawali huruf h, seperti himbauan yang dulu sempat banyak digunakan secara tidak baku. Selain itu, faktor kebiasaan turun-temurun dalam lingkungan tertentu juga memperkuat penggunaan bentuk yang keliru.
Dalam bahasa Indonesia, tidak semua kata yang terdengar seperti memiliki bunyi /h/ harus ditulis dengan huruf h. Ejaan bahasa Indonesia bersifat baku dan diatur secara sistematis, sehingga penulisan harus merujuk pada bentuk resmi yang telah ditetapkan.
Pembentukan Kata: Mengapa Menjadi “Diimbau”?
Struktur Morfologis
Kata diimbau terbentuk dari:
- di- (awalan pasif)
- imbau (kata dasar)
Ketika awalan di- bertemu dengan kata dasar yang diawali huruf vokal (dalam hal ini huruf “i”), maka penulisannya digabung tanpa spasi dan menghasilkan dua huruf vokal yang berdampingan: diimbau.
Hal serupa juga terjadi pada kata-kata berikut:
- di + isi → diisi
- di + ikat → diikat
- di + ulang → diulang
Dengan pola yang sama, di + imbau → diimbau.
Perbedaan “Di” sebagai Awalan dan “Di” sebagai Kata Depan
Untuk memperluas pemahaman kita, penting juga membedakan antara di- sebagai awalan dan di sebagai kata depan.
- di- (awalan) → digabung dengan kata kerja (misalnya: diimbau, ditulis, dibaca)
- di (kata depan) → ditulis terpisah karena menunjukkan tempat (misalnya: di rumah, di kantor, di sekolah)
Kesalahan sering terjadi ketika kita tidak membedakan keduanya. Namun, dalam kasus diimbau, jelas bahwa di- berfungsi sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif, sehingga harus digabung.
Penggunaan “Diimbau” dalam Konteks Resmi
Bahasa Pemerintahan
Dalam surat edaran, pengumuman resmi, maupun siaran pers, kata diimbau sering digunakan untuk menyampaikan ajakan yang bersifat persuasif, bukan perintah keras.
Contoh:
“Seluruh masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan petugas.”
Penggunaan kata ini menunjukkan sikap komunikatif yang tidak memaksa, tetapi tetap memiliki otoritas.
Bahasa Jurnalistik
Media massa juga banyak menggunakan kata diimbau dalam pemberitaan, terutama ketika mengutip pernyataan pejabat atau tokoh masyarakat.
Contoh:
“Warga diimbau waspada terhadap potensi banjir susulan.”
Penggunaan yang tepat dalam media sangat penting karena media berperan besar dalam membentuk kebiasaan berbahasa masyarakat.
Kesalahan Umum yang Berkaitan dengan “Diimbau”
1. Menambahkan Huruf H
Kesalahan paling umum adalah menulis dihimbau. Bentuk ini tidak sesuai dengan kaidah karena kata dasar yang benar adalah imbau.
2. Memisahkan Penulisan
Ada pula yang menulis di imbau. Penulisan ini salah karena di- berfungsi sebagai awalan, bukan kata depan.
3. Salah dalam Bentuk Turunan
Selain “diimbau”, bentuk turunan lain yang benar adalah:
- imbauan (bukan himbauan)
- mengimbau (bukan menghimbau)
- pengimbauan
Contoh kalimat:
- Kita perlu memperhatikan imbauan tersebut.
- Pemerintah mengimbau masyarakat.
- Proses pengimbauan dilakukan secara bertahap.
Mengapa Ketepatan Ejaan Itu Penting?
1. Mencerminkan Profesionalisme
Dalam dokumen resmi, kesalahan ejaan dapat mengurangi kredibilitas penulis maupun institusi. Ketelitian dalam menulis menunjukkan keseriusan dan tanggung jawab.
2. Menjaga Standar Bahasa
Bahasa Indonesia memiliki standar baku agar dapat digunakan secara seragam di seluruh wilayah. Jika kita membiarkan kesalahan terus berulang, standar tersebut bisa kabur dan menimbulkan kebingungan.
3. Mendukung Literasi Nasional
Dengan menggunakan bentuk yang benar seperti diimbau, kita turut berkontribusi menjaga kualitas literasi masyarakat. Bahasa yang benar memudahkan pemahaman dan memperkuat komunikasi.
Tips Agar Tidak Salah Lagi
- Selalu periksa kata dasar terlebih dahulu sebelum menambahkan awalan.
- Biasakan merujuk pada kamus resmi bahasa Indonesia.
- Bedakan fungsi di- sebagai awalan dan di sebagai kata depan.
- Perbanyak membaca teks resmi agar terbiasa dengan bentuk baku.
Kesimpulan
Dari pembahasan yang telah kita uraikan, dapat ditegaskan bahwa bentuk yang benar adalah diimbau, bukan dihimbau. Kata dasarnya adalah imbau, sehingga semua bentuk turunannya mengikuti pola tersebut: mengimbau, imbauan, dan pengimbauan.
Kesalahan penambahan huruf h kemungkinan besar dipengaruhi kebiasaan dan analogi yang keliru. Namun, sebagai pengguna bahasa yang baik, kita perlu merujuk pada kaidah resmi agar komunikasi tetap efektif dan profesional.
Dengan memahami struktur kata, fungsi awalan, serta prinsip ejaan yang berlaku, kita tidak hanya mengetahui mana yang benar, tetapi juga mengerti alasan linguistik di baliknya. Semoga setelah membaca artikel ini, kita tidak lagi ragu memilih antara “diimbau” atau “dihimbau”. Jawabannya jelas: diimbau adalah bentuk yang benar.