Penulisan yang Benar Cokelat atau Coklat

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sangat akrab dengan kata cokelat atau coklat. Kata ini sering kita jumpai dalam percakapan, iklan makanan, resep masakan, hingga karya tulis ilmiah. Namun, tidak sedikit orang yang masih bingung: manakah penulisan yang benar menurut kaidah bahasa Indonesia, cokelat atau coklat? Pertanyaan ini tampak sederhana, tetapi sebenarnya menyentuh aspek penting dalam penggunaan bahasa yang baik dan benar.

Melalui artikel ini, kita akan membahas secara mendalam perbedaan penulisan cokelat dan coklat, mulai dari tinjauan etimologi, aturan baku menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), faktor kebiasaan masyarakat, hingga implikasinya dalam dunia pendidikan, media, dan penulisan profesional. Dengan pembahasan yang komprehensif, kita diharapkan dapat memahami dan menerapkan penulisan yang tepat secara konsisten.

Asal Usul Kata Cokelat

Untuk memahami perbedaan penulisan cokelat dan coklat, kita perlu menelusuri asal-usul kata tersebut. Kata cokelat berasal dari bahasa Spanyol chocolate, yang pada awalnya diambil dari bahasa Nahuatl, yaitu xocolātl. Kata ini merujuk pada minuman pahit yang dibuat dari biji kakao oleh peradaban kuno di Mesoamerika.

Seiring dengan penyebaran kakao ke berbagai belahan dunia, kata ini mengalami penyesuaian lafal dan ejaan sesuai dengan sistem bahasa masing-masing. Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai chocolate, dalam bahasa Belanda menjadi chocolade, dan dalam bahasa Prancis disebut chocolat. Bahasa Indonesia kemudian menyerap kata tersebut dengan penyesuaian fonologis dan ortografis.

Penyerapan Kata Asing dalam Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia memiliki aturan khusus dalam menyerap kata asing. Penyerapan ini bertujuan agar kata tersebut sesuai dengan sistem bunyi, ejaan, dan kaidah bahasa Indonesia. Dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI), penyerapan kata asing sering kali mengalami penyesuaian huruf vokal dan konsonan.

Pada kasus kata chocolate atau chocolat, bunyi vokal pada suku kata terakhir mengalami perubahan agar lebih sesuai dengan lafal penutur bahasa Indonesia. Dari sinilah muncul bentuk cokelat, yang dianggap lebih representatif secara fonetis dibandingkan coklat.

Cokelat Menurut KBBI

Jika kita merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sebagai rujukan resmi bahasa Indonesia, maka jawabannya menjadi sangat jelas. Bentuk baku yang diakui adalah cokelat, bukan coklat.

Dalam KBBI, kata cokelat memiliki beberapa makna, antara lain:

  • Warna cokelat, yaitu warna yang menyerupai warna kayu atau tanah.
  • Makanan atau minuman yang dibuat dari biji kakao.

Sementara itu, bentuk coklat tidak tercantum sebagai lema utama dalam KBBI dan hanya dianggap sebagai bentuk tidak baku yang muncul akibat kebiasaan lisan masyarakat.

Mengapa Banyak Orang Menulis Coklat?

Meskipun bentuk bakunya adalah cokelat, kita tidak dapat menutup mata bahwa penulisan coklat jauh lebih populer dalam penggunaan sehari-hari. Ada beberapa faktor yang menyebabkan hal ini terjadi.

1. Pengaruh Pengucapan Lisan

Dalam percakapan sehari-hari, banyak penutur bahasa Indonesia yang melafalkan kata ini tanpa bunyi vokal e yang jelas, sehingga terdengar seperti coklat. Kebiasaan ini kemudian terbawa ke dalam bentuk tulisan.

2. Kebiasaan Sejak Lama

Penulisan coklat sudah digunakan sejak lama, bahkan sebelum masyarakat akrab dengan rujukan bahasa seperti KBBI daring. Akibatnya, bentuk ini terlanjur melekat dan dianggap wajar oleh sebagian besar penutur.

3. Pengaruh Media dan Iklan

Tidak sedikit media massa, iklan produk, dan kemasan makanan yang masih menggunakan penulisan coklat. Paparan yang berulang membuat masyarakat semakin terbiasa dengan bentuk tidak baku tersebut.

Dampak Penggunaan Bentuk Tidak Baku

Penggunaan bentuk tidak baku seperti coklat sebenarnya tidak selalu menimbulkan kesalahpahaman dalam komunikasi sehari-hari. Namun, dalam konteks tertentu, hal ini dapat menimbulkan dampak yang cukup signifikan.

1. Dunia Pendidikan

Dalam dunia pendidikan, penggunaan bahasa baku sangat ditekankan. Penulisan coklat dalam tugas, laporan, atau karya ilmiah dapat dianggap sebagai kesalahan ejaan dan berpengaruh pada penilaian.

2. Penulisan Akademik dan Profesional

Dalam penulisan akademik, jurnal ilmiah, atau dokumen resmi, konsistensi penggunaan bahasa baku mencerminkan profesionalisme penulis. Menggunakan kata cokelat sesuai KBBI menunjukkan kepatuhan terhadap kaidah bahasa.

3. Kredibilitas Media

Bagi media massa dan penulis konten, penggunaan ejaan yang benar turut memengaruhi kredibilitas. Kesalahan ejaan yang berulang dapat menurunkan kepercayaan pembaca terhadap kualitas informasi yang kita sajikan.

Perbedaan Cokelat sebagai Warna dan Makanan

Menariknya, kata cokelat digunakan baik untuk menyebut warna maupun jenis makanan. Dalam kedua konteks tersebut, penulisan yang benar tetap sama, yaitu cokelat.

Contoh penggunaan yang tepat:

  • Baju itu berwarna cokelat tua.
  • Kita membeli kue cokelat untuk acara keluarga.

Tidak ada perbedaan ejaan antara cokelat sebagai warna dan cokelat sebagai makanan, sehingga konsistensi menjadi kunci utama.

Strategi Membiasakan Penulisan yang Benar

Membiasakan diri menggunakan penulisan cokelat memang membutuhkan kesadaran dan latihan. Berikut beberapa strategi yang dapat kita terapkan.

1. Aktif Merujuk KBBI

KBBI daring kini sangat mudah kita akses. Dengan membiasakan diri mengecek ejaan kata, kita dapat mengurangi kesalahan penulisan.

2. Membaca Tulisan Berkualitas

Membaca buku, artikel, atau media yang konsisten menggunakan bahasa baku akan membantu kita menyerap bentuk penulisan yang benar secara alami.

3. Konsistensi dalam Menulis

Dalam satu tulisan, usahakan untuk selalu menggunakan bentuk cokelat. Konsistensi ini akan memperkuat kebiasaan dan meminimalkan kekeliruan.

Cokelat dalam Perspektif Bahasa dan Budaya

Fenomena cokelat atau coklat menunjukkan bahwa bahasa tidak hanya soal aturan, tetapi juga kebiasaan dan budaya. Bahasa hidup bersama penuturnya, sehingga variasi penggunaan kerap muncul. Namun, bahasa baku tetap kita perlukan sebagai acuan bersama, terutama dalam situasi formal.

Dengan memahami bahwa cokelat adalah bentuk yang benar, kita tidak hanya mengikuti aturan, tetapi juga ikut menjaga keteraturan dan kejelasan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi nasional.

Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan di atas, dapat kita simpulkan bahwa penulisan yang benar menurut kaidah bahasa Indonesia adalah cokelat, bukan coklat. Bentuk cokelat telah tercatat sebagai kata baku dalam KBBI dan sejalan dengan aturan penyerapan kata asing.

Meskipun penulisan coklat masih sering kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam konteks informal, kita sebaiknya membiasakan diri menggunakan bentuk yang benar, khususnya dalam penulisan resmi, akademik, dan profesional. Dengan demikian, kita turut berkontribusi dalam menjaga kualitas dan ketepatan penggunaan bahasa Indonesia.

Pada akhirnya, memahami perbedaan cokelat atau coklat bukan sekadar soal ejaan, melainkan juga wujud kepedulian kita terhadap bahasa sebagai identitas dan alat komunikasi bersama.