Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menemukan perbedaan penulisan kata yang sekilas tampak sepele, tetapi sebenarnya penting dalam konteks bahasa Indonesia yang baku. Salah satu contohnya adalah perdebatan mengenai penulisan cenderamata atau cinderamata. Kedua bentuk ini kerap digunakan secara bergantian, baik dalam percakapan lisan, tulisan informal, hingga media daring. Namun, pertanyaannya adalah: manakah penulisan yang benar menurut kaidah bahasa Indonesia?
Artikel ini akan mengulas secara komprehensif penulisan kata cenderamata dan cinderamata, mulai dari asal-usul kata, ketentuan kebahasaan, rujukan kamus, hingga contoh penggunaannya dalam kalimat. Dengan pembahasan yang mendalam, kita diharapkan dapat memahami dan menggunakan bentuk kata yang tepat sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Pengertian Cenderamata dalam Kehidupan Sehari-hari
Sebelum membahas penulisan yang benar, kita perlu memahami terlebih dahulu makna kata cenderamata. Dalam penggunaan umum, cenderamata merujuk pada barang atau benda yang diberikan sebagai kenang-kenangan. Biasanya, cenderamata diberikan kepada seseorang sebagai tanda ingatan, penghargaan, atau kenangan dari suatu tempat, acara, atau momen tertentu.
Dalam konteks budaya Indonesia, cenderamata memiliki nilai simbolis yang cukup kuat. Kita sering memberikan cenderamata kepada tamu kehormatan, peserta acara, kolega kerja, atau keluarga sebagai bentuk perhatian dan penghormatan. Oleh karena itu, kata ini sering muncul dalam teks formal seperti undangan, laporan kegiatan, proposal acara, hingga berita.
Asal-Usul Kata Cenderamata
Secara etimologis, kata cenderamata berasal dari bahasa Sanskerta. Kata ini tersusun dari dua unsur, yaitu cendera dan mata. Dalam bahasa Sanskerta, cendera dapat diartikan sebagai tanda atau ciri, sedangkan mata bermakna pikiran atau perhatian. Jika kita gabungkan, maknanya mengarah pada sesuatu yang menjadi tanda untuk mengingat.
Proses penyerapan kata asing ke dalam bahasa Indonesia sering mengalami penyesuaian ejaan agar sesuai dengan sistem fonologi dan ortografi bahasa Indonesia. Dari sinilah muncul perbedaan penulisan antara cenderamata dan cinderamata.
Cenderamata atau Cinderamata: Mana yang Baku?
Rujukan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
Untuk menentukan penulisan yang benar, kita perlu merujuk pada sumber otoritatif, yaitu Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Dalam KBBI, bentuk kata yang diakui dan dinyatakan sebagai kata baku adalah cenderamata.
Sementara itu, penulisan cinderamata tidak tercantum sebagai entri utama dalam KBBI. Jika pun ditemukan dalam beberapa sumber, bentuk tersebut biasanya dikategorikan sebagai bentuk tidak baku atau variasi yang muncul akibat kebiasaan pengucapan masyarakat.
Dengan demikian, dapat kita simpulkan bahwa penulisan yang benar dan baku menurut kaidah bahasa Indonesia adalah “cenderamata”, bukan “cinderamata”.
Alasan Munculnya Bentuk “Cinderamata”
Meskipun tidak baku, kata cinderamata terlanjur populer dan banyak digunakan. Ada beberapa faktor yang menyebabkan hal ini, antara lain:
- Pengaruh pelafalan lisan, di mana bunyi “e” sering terdengar seperti “i” dalam percakapan sehari-hari.
- Kebiasaan turun-temurun, sehingga bentuk yang salah terus kita gunakan.
- Kurangnya rujukan kebahasaan saat menulis, terutama dalam konteks nonformal.
Fenomena ini tidak hanya terjadi pada kata cenderamata, tetapi juga pada banyak kata lain dalam bahasa Indonesia yang memiliki perbedaan antara bentuk lisan dan bentuk tulis baku.
Pentingnya Menggunakan Kata Baku
Menggunakan kata baku dalam tulisan memiliki peranan penting, terutama dalam konteks formal dan profesional. Kata baku mencerminkan ketepatan berbahasa, meningkatkan kredibilitas penulis, serta memudahkan pembaca memahami maksud yang ingin ia sampaikan.
Dalam dunia akademik, jurnalistik, administrasi, dan komunikasi resmi, penggunaan kata tidak baku seperti cinderamata dapat kita anggap sebagai kesalahan bahasa. Oleh karena itu, kita perlu membiasakan diri menggunakan bentuk yang benar, yaitu cenderamata.
Contoh Penggunaan Kata Cenderamata dalam Kalimat
Agar pemahaman kita semakin jelas, berikut beberapa contoh penggunaan kata cenderamata dalam kalimat:
- Panitia seminar memberikan cenderamata kepada para pembicara sebagai bentuk apresiasi.
- Kita membeli cenderamata khas daerah tersebut untuk dibagikan kepada keluarga di rumah.
- Setiap tamu kehormatan menerima cenderamata berupa kerajinan tangan lokal.
- Acara perpisahan itu ditutup dengan penyerahan cenderamata dari karyawan kepada pimpinan.
Dari contoh-contoh tersebut, terlihat bahwa kata cenderamata dapat kita gunakan dalam berbagai konteks, baik formal maupun semi-formal.
Cenderamata dalam Konteks Budaya dan Pariwisata
Dalam dunia pariwisata, cenderamata memiliki peran yang sangat penting. Cenderamata bukan sekadar barang kenang-kenangan, tetapi juga representasi budaya, identitas daerah, dan kreativitas masyarakat setempat. Oleh karena itu, istilah cenderamata sering muncul dalam promosi pariwisata, katalog produk UMKM, dan laporan kegiatan pariwisata.
Penggunaan istilah yang tepat dan baku menjadi penting agar pesan yang tersampaikan bersifat profesional memiliki makna secara luas. Dalam dokumen resmi pariwisata, penggunaan kata cinderamata sebaiknya kita hindari dan ganti dengan cenderamata.
Kesalahan Umum dalam Penulisan Kata Serapan
Kasus cenderamata atau cinderamata merupakan salah satu contoh kesalahan umum dalam penulisan kata serapan. Kesalahan semacam ini sering terjadi karena kita lebih mengandalkan kebiasaan mendengar daripada rujukan tertulis.
Untuk menghindari kesalahan serupa, ada beberapa langkah yang bisa kita lakukan:
- Selalu merujuk pada KBBI saat ragu dengan penulisan suatu kata.
- Meningkatkan kesadaran akan pentingnya bahasa baku.
- Membiasakan membaca teks-teks berkualitas yang menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar.
Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas, dapat kita tegaskan bahwa penulisan yang benar menurut kaidah bahasa Indonesia adalah “cenderamata”. Sementara itu, cinderamata merupakan bentuk tidak baku yang muncul akibat kebiasaan penggunaan dalam masyarakat.
Sebagai pengguna bahasa Indonesia yang baik, kita sebaiknya membiasakan diri menggunakan kata baku, terutama dalam tulisan formal dan profesional. Dengan demikian, kita turut berkontribusi dalam menjaga ketertiban dan kelestarian bahasa Indonesia sebagai identitas bangsa.
Semoga artikel ini dapat menjadi rujukan yang bermanfaat dan membantu kita memahami perbedaan antara cenderamata dan cinderamata secara lebih jelas dan mendalam.