Penulisan yang Benar Atlet atau Atlit

Dalam penggunaan bahasa Indonesia sehari-hari, kita kerap menjumpai perbedaan penulisan kata yang sekilas tampak sepele, tetapi sebenarnya berdampak besar pada ketepatan berbahasa. Salah satu contoh yang paling sering memunculkan kebingungan adalah penulisan “atlet” atau “atlit”. Kedua bentuk ini sama-sama sering digunakan di media massa, media sosial, bahkan dalam dokumen resmi. Namun, pertanyaannya adalah: manakah yang benar menurut kaidah bahasa Indonesia baku?

Melalui artikel ini, kita akan membahas secara mendalam penulisan yang benar antara atlet dan atlit, mulai dari dasar kebahasaan, rujukan resmi, latar belakang kesalahan penulisan, hingga contoh penggunaannya dalam berbagai konteks. Dengan pembahasan yang komprehensif, kita diharapkan dapat menggunakan kata ini secara tepat dan konsisten.

Pengertian Atlet dalam Bahasa Indonesia

Secara umum, kata atlet merujuk pada seseorang yang menekuni dan berprestasi dalam bidang olahraga tertentu. Atlet bukan sekadar orang yang berolahraga, melainkan individu yang menjalani latihan terstruktur, mengikuti kompetisi, dan memiliki tujuan prestasi, baik di tingkat daerah, nasional, maupun internasional.

Dalam konteks modern, makna atlet juga berkembang. Kita tidak hanya mengenal atlet cabang olahraga tradisional seperti sepak bola, atletik, atau bulu tangkis, tetapi juga atlet e-sports yang diakui secara profesional. Meski bidangnya berbeda, istilah “atlet” tetap digunakan untuk menandai status profesional dan kompetitif seseorang dalam dunia olahraga.

Atlet atau Atlit: Mana yang Baku?

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bentuk kata yang baku dan benar adalah atlet, bukan atlit. Kata “atlet” tercatat secara resmi dan memiliki definisi yang jelas dalam KBBI sebagai pelaku olahraga yang mengikuti pertandingan atau perlombaan.

Sementara itu, bentuk “atlit” tidak termasuk dalam entri kata baku KBBI. Dengan demikian, penggunaan kata “atlit” dikategorikan sebagai tidak baku dan sebaiknya dihindari, terutama dalam penulisan formal seperti karya ilmiah, artikel jurnalistik, dokumen akademik, maupun konten profesional.

Kesimpulan Singkat

  • Atlet → bentuk baku dan benar
  • Atlit → bentuk tidak baku

Asal Usul Kata Atlet

Untuk memahami mengapa bentuk “atlet” yang dianggap benar, kita perlu menilik asal-usul katanya. Kata atlet berasal dari bahasa Yunani athlētēs, yang berarti “orang yang berlomba” atau “petarung dalam pertandingan”. Kata ini kemudian diserap ke dalam bahasa Latin dan bahasa-bahasa Eropa modern seperti Inggris (athlete).

Dalam proses penyerapan ke bahasa Indonesia, terjadi penyesuaian ejaan agar sesuai dengan sistem fonologi dan ortografi bahasa Indonesia. Dari kata athlete, bahasa Indonesia menyerapnya menjadi atlet. Penyesuaian ini mengikuti pola umum penyerapan kata asing, di mana huruf dan bunyi lebih sederhana tanpa mengubah makna dasar.

Bentuk “atlit” kemungkinan muncul karena pengaruh pelafalan lisan. Dalam percakapan sehari-hari, bunyi “e” pada kata “atlet” sering terdengar samar sehingga sebagian orang menuliskannya sebagai “i”. Namun, secara kaidah, pelafalan lisan tidak selalu menjadi dasar penulisan baku.

Mengapa Penulisan “Atlit” Masih Banyak Digunakan?

Meskipun sudah jelas bahwa “atlet” adalah bentuk baku, kita tidak bisa menutup mata terhadap fakta bahwa “atlit” masih sering digunakan. Ada beberapa faktor yang menyebabkan hal ini terjadi.

1. Kebiasaan Sejak Lama

Banyak orang telah terbiasa menggunakan kata “atlit” sejak lama, bahkan sejak duduk di bangku sekolah. Kebiasaan yang berulang ini akhirnya membentuk persepsi bahwa kata tersebut benar, meskipun secara kamus tidak demikian.

2. Pengaruh Media dan Lingkungan

Media massa dan media daring memiliki peran besar dalam membentuk kebiasaan berbahasa masyarakat. Ketika media masih menggunakan kata “atlit”, pembaca pun menganggapnya sebagai bentuk yang wajar dan benar.

3. Kurangnya Kesadaran terhadap Bahasa Baku

Tidak semua orang terbiasa merujuk pada KBBI atau pedoman bahasa resmi. Akibatnya, kesalahan penulisan terus berulang dan menyebar luas tanpa kita sadari.

Pentingnya Menggunakan Kata Baku “Atlet”

Menggunakan kata baku bukan sekadar soal kerapian bahasa, tetapi juga mencerminkan sikap profesional dan penghargaan terhadap bahasa Indonesia. Ada beberapa alasan mengapa kita perlu konsisten menggunakan kata “atlet”.

1. Menjaga Kredibilitas Tulisan

Dalam tulisan formal, kesalahan ejaan dapat menurunkan kredibilitas penulis. Penggunaan kata “atlet” yang benar menunjukkan bahwa kita memahami dan menghormati kaidah bahasa.

2. Standar dalam Dunia Pendidikan dan Akademik

Di lingkungan akademik, penggunaan bahasa baku adalah keharusan. Mahasiswa, guru, dosen, dan peneliti harus menggunakan kata “atlet” dalam setiap karya tulis resmi.

3. Konsistensi Bahasa Nasional

Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional memerlukan konsistensi agar tetap efektif sebagai alat komunikasi. Menggunakan bentuk baku seperti “atlet” membantu menjaga keseragaman dan kejelasan makna.

Contoh Penggunaan Kata Atlet dalam Kalimat

Berikut beberapa contoh penggunaan kata atlet yang benar dalam berbagai konteks:

  • Pemerintah memberikan apresiasi kepada atlet berprestasi yang mengharumkan nama bangsa.
  • Seorang atlet profesional harus menjaga pola makan dan disiplin latihan.
  • Pemusatan latihan nasional diikuti oleh atlet dari berbagai daerah.
  • Prestasi para atlet muda menunjukkan masa depan olahraga Indonesia yang cerah.

Atlet dalam Konteks Sosial dan Budaya

Dalam masyarakat modern, atlet tidak hanya dipandang sebagai pelaku olahraga, tetapi juga sebagai figur publik dan inspirasi. Atlet sering menjadi simbol kerja keras, disiplin, dan semangat juang. Oleh karena itu, penulisan istilah yang merujuk pada mereka pun seharusnya kita lakukan dengan tepat.

Ketika kita menggunakan kata “atlet” secara benar, secara tidak langsung kita turut mendukung penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar di ruang publik. Hal ini penting, terutama di era digital ketika informasi menyebar dengan sangat cepat.

Penutup

Dari seluruh pembahasan di atas, dapat kita simpulkan bahwa penulisan yang benar menurut kaidah bahasa Indonesia adalah atlet, bukan atlit. Bentuk “atlet” telah ditetapkan sebagai kata baku dalam KBBI dan digunakan secara resmi dalam berbagai konteks formal.

Kesalahan penulisan “atlit” umumnya muncul karena kebiasaan, pengaruh pelafalan, dan kurangnya rujukan terhadap sumber bahasa resmi. Oleh karena itu, mulai sekarang, mari kita biasakan menggunakan kata “atlet” dalam setiap tulisan maupun komunikasi formal. Dengan begitu, kita tidak hanya meningkatkan kualitas bahasa, tetapi juga turut menjaga martabat bahasa Indonesia sebagai identitas bangsa.