Penulisan yang Benar Asas atau Azas

Dalam praktik berbahasa Indonesia sehari-hari, kita sering menjumpai dua bentuk penulisan yang sekilas tampak sama, tetapi menimbulkan kebingungan: asas atau azas. Keduanya kerap kita gunakan secara bergantian, baik dalam tulisan ilmiah, dokumen resmi, artikel media, hingga percakapan informal. Pertanyaannya, manakah yang benar menurut kaidah bahasa Indonesia baku?

Artikel ini akan membahas secara komprehensif dan edukatif mengenai penulisan yang benar antara asas dan azas, lengkap dengan latar belakang kebahasaan, rujukan kaidah, contoh penggunaan, serta implikasinya dalam dunia akademik dan profesional.

Pentingnya Ketepatan Penulisan dalam Bahasa Indonesia

Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga cerminan ketertiban berpikir dan profesionalisme. Dalam konteks formal, seperti pendidikan, hukum, pemerintahan, dan jurnalistik, ketepatan penulisan menjadi sangat krusial. Kesalahan memilih bentuk kata, termasuk dalam kasus asas atau azas, dapat menimbulkan kesan kurang cermat, bahkan berpotensi menurunkan kredibilitas penulis.

Oleh karena itu, memahami mana bentuk yang benar bukan hanya soal mengikuti aturan, tetapi juga tentang membangun kebiasaan berbahasa yang baik dan bertanggung jawab.

Pengertian Kata Asas

Kata asas dalam bahasa Indonesia memiliki makna dasar, prinsip, atau landasan berpikir yang menjadi tumpuan suatu tindakan, sistem, atau aturan. Kata ini sangat sering muncul di berbagai bidang, seperti hukum, pendidikan, ekonomi, dan filsafat.

Makna Asas Menurut Konteks Penggunaan

  • Hukum: Asas legalitas, asas keadilan, asas praduga tak bersalah.
  • Pendidikan: Asas pemerataan pendidikan.
  • Organisasi: Asas musyawarah dan mufakat.

Dari contoh tersebut, kita dapat melihat bahwa asas berfungsi sebagai fondasi konseptual yang mengarahkan suatu sistem atau kebijakan.

Lalu, Apa Itu Azas?

Bentuk azas sering kali muncul dalam tulisan lama atau akibat pengaruh ejaan yang tidak lagi lazim. Secara makna, azas sering kita pahami sama dengan asas. Namun, dari sudut pandang kaidah bahasa Indonesia modern, azas bukanlah bentuk baku.

Penggunaan huruf “z” pada azas biasanya tergantung kebiasaan lama, pengucapan lisan, atau anggapan bahwa huruf “z” terdengar lebih formal. Padahal, dalam sistem ejaan bahasa Indonesia saat ini, anggapan tersebut tidak selalu benar.

Asas atau Azas Menurut KBBI

Jika kita merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sebagai rujukan utama bahasa Indonesia baku, jawabannya menjadi sangat jelas. Bentuk yang diakui dan dibakukan adalah asas, bukan azas.

Dalam KBBI, kata asas dijelaskan sebagai:

asas /asas/ n dasar; prinsip; tumpuan berpikir atau berpendapat.

Sementara itu, kata azas tidak tercantum sebagai entri utama, atau menjadi bentuk tidak baku yang merujuk pada asas. Dengan demikian, dalam penulisan resmi dan akademik, kita harus selalu menggunakan asas.

Latar Belakang Kebahasaan

Penetapan asas sebagai bentuk baku tidak terjadi secara kebetulan. Bahasa Indonesia mengalami perkembangan ejaan dari masa ke masa, mulai dari Ejaan Van Ophuijsen, Ejaan Republik, hingga Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) dan kini Ejaan Bahasa Indonesia (EBI).

Dalam proses pembakuan tersebut, banyak kata yang sederhana agar sesuai dengan sistem fonologi dan morfologi bahasa Indonesia. Huruf “z” dalam bahasa Indonesia umumnya digunakan untuk kata serapan tertentu, sementara untuk kata dengan bunyi /s/ yang jelas, huruf “s” dianggap lebih tepat.

Oleh sebab itu, asas menjadi bentuk baku karena lebih konsisten dengan pola ejaan bahasa Indonesia.

Dampak Kesalahan Penulisan Asas atau Azas

1. Dalam Dunia Akademik

Di lingkungan akademik, penggunaan kata tidak baku dapat memengaruhi penilaian terhadap kualitas karya tulis. Skripsi, tesis, disertasi, maupun artikel ilmiah harus mematuhi kaidah bahasa baku. Kesalahan sederhana seperti menulis azas alih-alih asas dapat kita anggap sebagai kurangnya ketelitian.

2. Dalam Dokumen Resmi dan Hukum

Dokumen hukum sangat mengandalkan ketepatan bahasa. Penulisan asas yang keliru berpotensi menimbulkan multitafsir, meskipun maknanya sama. Oleh karena itu, konsistensi penggunaan bahasa baku menjadi keharusan.

3. Dalam Media dan Konten Digital

Di era digital, artikel dan konten daring menjadi rujukan banyak orang. Jika media atau penulis konten menggunakan bentuk yang tidak baku, kesalahan tersebut dapat menyebar dan dianggap benar oleh pembaca.

Contoh Kalimat yang Benar dan Salah

Penulisan yang Benar

  • Kebijakan tersebut disusun berdasarkan asas keadilan sosial.
  • Asas transparansi harus diterapkan dalam pengelolaan anggaran.
  • Sistem hukum Indonesia berlandaskan beberapa asas utama.

Penulisan yang Salah

  • Kebijakan tersebut disusun berdasarkan azas keadilan sosial.
  • Azas transparansi harus diterapkan dalam pengelolaan anggaran.

Walaupun masih sering ditemui, bentuk azas sebaiknya dihindari dalam konteks formal.

Mengapa Kesalahan Ini Masih Sering Terjadi?

Ada beberapa faktor yang menyebabkan kesalahan penulisan asas atau azas tetap bertahan hingga kini:

  1. Kebiasaan Lama: Banyak orang terbiasa melihat atau menggunakan azas sejak lama.
  2. Pengaruh Lisan: Dalam pengucapan, perbedaan asas dan azas hampir tidak terdengar.
  3. Kurangnya Rujukan: Tidak semua penulis terbiasa memeriksa KBBI sebelum menulis.

Dengan meningkatkan literasi kebahasaan, kita dapat secara perlahan mengurangi kesalahan semacam ini.

Peran Kita dalam Menggunakan Bahasa yang Benar

Sebagai pengguna bahasa Indonesia, kita memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga ketepatan dan kelestarian bahasa. Menggunakan kata yang benar, termasuk memilih asas daripada azas, merupakan langkah kecil namun bermakna dalam membangun budaya literasi yang sehat.

Dalam konteks profesional, kebiasaan ini juga mencerminkan sikap disiplin dan penghargaan terhadap standar yang berlaku.

Kesimpulan

Dari pembahasan di atas, dapat kita simpulkan bahwa penulisan yang benar menurut kaidah bahasa Indonesia baku adalah asas, bukan azas. Kata asas telah dibakukan dalam KBBI dan digunakan secara luas dalam berbagai bidang sebagai istilah resmi.

Sementara itu, azas hanyalah bentuk tidak baku yang masih sering muncul karena kebiasaan lama dan kurangnya pemahaman. Jadi, dengan merujuk pada sumber tepercaya dan membiasakan diri menggunakan bahasa yang benar, kita dapat meningkatkan kualitas tulisan sekaligus menjaga standar bahasa Indonesia.

Semoga artikel ini dapat menjadi rujukan yang jelas dan membantu kita semua dalam memahami serta menerapkan penulisan yang benar antara asas atau azas.