Dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, kita sering dihadapkan pada dua bentuk penulisan kata yang tampak mirip, tetapi menimbulkan kebingungan dalam penerapannya. Salah satu contoh yang cukup sering jadi perdebatan adalah penulisan amendemen atau amandemen. Kedua bentuk ini kerap muncul dalam berita, dokumen hukum, artikel akademik, hingga percakapan sehari-hari. Namun, pertanyaannya adalah: manakah yang benar secara kaidah bahasa Indonesia?
Artikel ini akan membahas secara komprehensif penulisan yang benar antara amendemen dan amandemen, ditinjau dari sudut pandang linguistik, sejarah kata, rujukan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), serta penggunaannya dalam konteks formal dan akademik. Dengan memahami pembahasan ini, kita harus mampu menggunakan bahasa Indonesia secara lebih tepat dan profesional.
Pengertian Amendemen dan Amandemen
Secara makna, amendemen maupun amandemen merujuk pada proses perubahan, perbaikan, atau penyesuaian terhadap suatu dokumen resmi, khususnya undang-undang atau konstitusi. Dalam konteks ketatanegaraan, istilah ini sering berguna untuk menyebut perubahan terhadap Undang-Undang Dasar.
Meskipun maknanya serupa, perbedaan utama antara amendemen dan amandemen terletak pada keabsahan penulisannya dalam bahasa Indonesia. Untuk menentukan mana yang benar, kita perlu merujuk pada sumber bahasa yang resmi.
Asal Usul Kata Amendemen
Serapan dari Bahasa Asing
Kata amendemen berasal dari bahasa Inggris amendment, yang berarti perubahan atau perbaikan terhadap dokumen hukum. Dalam bahasa Inggris, kata ini berguna secara luas dalam konteks konstitusi, hukum, dan peraturan perundang-undangan.
Ketika diserap ke dalam bahasa Indonesia, kata asing tidak selalu dipertahankan bentuk aslinya. Proses penyerapan dilakukan dengan menyesuaikan lafal, ejaan, dan sistem fonologi bahasa Indonesia.
Proses Penyesuaian Ejaan
Dalam kaidah penyerapan istilah asing, bahasa Indonesia cenderung menyesuaikan bunyi agar lebih mudah dalam pengucapan oleh penutur lokal. Huruf e dalam amendment mengalami penyesuaian menjadi bunyi a sehingga lebih sesuai dengan pola fonetik bahasa Indonesia.
Inilah yang kemudian melahirkan bentuk amandemen.
Penulisan Menurut KBBI
Amandemen sebagai Bentuk Baku
Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bentuk kata yang diakui dan dinyatakan baku adalah amandemen. Kata ini didefinisikan yaitu:
amandemen: perubahan (tambahan) pada undang-undang atau konstitusi.
Sementara itu, bentuk amendemen tidak tercantum sebagai lema baku dalam KBBI. Dengan demikian, secara normatif dan linguistik, amendemen sebagai bentuk tidak baku.
Implikasi dalam Penulisan Formal
Dalam penulisan formal seperti karya ilmiah, jurnal akademik, dokumen pemerintahan, kontrak hukum, maupun artikel berita, penggunaan kata baku sangatlah penting. Oleh karena itu, penggunaan kata amandemen menjadi keharusan untuk menjaga ketepatan dan kredibilitas tulisan.
Kesalahan Umum dalam Penggunaan Kata
Pengaruh Bahasa Inggris
Salah satu penyebab utama munculnya kata amendemen adalah pengaruh langsung dari bahasa Inggris. Banyak penulis atau pembicara yang menggunakan istilah asing tanpa melakukan penyesuaian ejaan sesuai kaidah bahasa Indonesia.
Hal ini umum terjadi, terutama dalam bidang hukum dan politik yang banyak mengadopsi istilah asing.
Kebiasaan yang Salah Kaprah
Kesalahan lain muncul karena kebiasaan. Ketika suatu kata salah digunakan secara berulang-ulang di media massa atau ruang publik, lama-kelamaan kesalahan tersebut dianggap benar. Padahal, kebenaran bahasa tetap harus merujuk pada standar resmi.
Dalam hal ini, meskipun amendemen sering terdengar, bentuk tersebut tetap tidak dapat kita benarkan secara kaidah.
Contoh Penggunaan yang Benar dan Salah
Penggunaan yang Benar
- Indonesia telah melakukan empat kali amandemen terhadap Undang-Undang Dasar 1945.
- Proses amandemen konstitusi dilakukan melalui sidang MPR.
- Amandemen undang-undang bertujuan menyempurnakan sistem hukum nasional.
Penggunaan yang Salah
- Indonesia telah melakukan beberapa kali amendemen UUD 1945.
- Sidang tersebut membahas amendemen konstitusi.
Ketika kita menggunakan kata amendemen pada contoh di atas sebaiknya kita hindari dalam konteks bahasa Indonesia baku.
Pentingnya Menggunakan Bahasa Baku
Menjaga Kredibilitas Tulisan
Penggunaan bahasa baku mencerminkan profesionalisme dan kompetensi penulis. Dalam dunia akademik dan jurnalistik, kesalahan kecil seperti penggunaan kata tidak baku dapat menurunkan kredibilitas sebuah karya.
Mendukung Standarisasi Bahasa Indonesia
Dengan menggunakan kata yang sesuai KBBI, kita turut berkontribusi dalam menjaga konsistensi dan perkembangan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Bahasa yang tertib akan memudahkan komunikasi lintas bidang dan generasi.
Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas, dapat kita simpulkan bahwa penulisan yang benar dan baku dalam bahasa Indonesia adalah amandemen, bukan amendemen. Terlebih, bentuk amandemen telah sesuai dengan kaidah penyerapan istilah asing dan tercantum secara resmi dalam KBBI.
Meskipun amendemen masih sering digunakan, terutama karena pengaruh bahasa Inggris, bentuk tersebut tidak diakui sebagai kata baku. Oleh sebab itu, dalam konteks formal, akademik, dan profesional, kita sebaiknya selalu menggunakan kata amandemen.
Jadi, dengan memahami perbedaan ini, kita dapat berbahasa Indonesia secara lebih tepat, cermat, dan bertanggung jawab.