Izin atau ijin: Definisi dan Penggunaan yang Tepat

Pertanyaan sederhana sering membingungkan banyak penulis: mana yang benar saat menulis untuk dokumen resmi atau percakapan sehari-hari?

Artikel ini hadir untuk memberi penjelasan singkat dan panduan praktis. Kami mulai dengan definisi berdasarkan kamus bahasa indonesia resmi.

KBBI daring menunjukkan kata izin sebagai bentuk baku yang berarti persetujuan atau pembolehan. Bentuk nonbaku sering muncul dalam chat sebagai ijin, namun itu berbeda statusnya dalam rujukan resmi.

Panduan ini menekankan pentingnya memilih bentuk yang tepat untuk menjaga kredibilitas tulisan di surat, laporan, dan artikel.

Selanjutnya pembaca akan dipandu langkah demi langkah: cek rujukan KBBI, pahami kata baku, terapkan dalam konteks resmi, dan perbaiki turunan yang sering salah.

Poin Kunci

  • Pilih kata baku untuk dokumen resmi demi kredibilitas.
  • Rujuk KBBI sebagai sumber informasi utama.
  • Perbedaan bukan sekadar huruf; berpengaruh pada penulisan formal.
  • Bentuk nonbaku sering muncul di percakapan sehari-hari.
  • Artikel memberi contoh dan aturan praktis untuk penggunaan yang tepat.

Izin atau ijin: mana penulisan yang benar menurut KBBI

Pencarian di rujukan resmi menunjukkan perbedaan jelas antara dua bentuk tersebut. Untuk cek cepat, gunakan kamus bahasa indonesia daring sebagai rujukan utama.

Temuan KBBI Daring tentang entri

Data KBBI: kata izin tercatat sebagai lema, sedangkan ijin tidak ditemukan dalam daftar lema.

“Ditemukan kata izin di dalam KBBI, tetapi tidak ditemukan kata ijin.”

Definisi dan implikasi arti

Entri izin (n) dijelaskan sebagai “pernyataan mengabulkan; persetujuan membolehkan.” Itu berarti kata ini dipakai saat menyampaikan persetujuan resmi.

Entri Arti Contoh turunan
izin persetujuan membolehkan izin mengemudi, izin usaha
status baku/ tidak baku baku (gunakan bentuk KBBI)
ejaan perbedaan huruf z vs j pertahankan huruf z pada turunan
  1. Cek kamus bahasa daring untuk bentuk baku.
  2. Cocokkan bentuk baku dengan konteks dokumen.
  3. Terapkan konsistensi pada penulisan nya dan turunan.

Penegasan: untuk dokumen formal pilih baku izin karena itu yang diakui oleh kamus bahasa Indonesia.

Memahami kata baku dan tidak baku dalam bahasa Indonesia

Mengetahui ciri kata baku mempermudah keputusan saat menulis untuk lembaga. Kata baku adalah bentuk yang tercantum pada kamus bahasa indonesia dan mengikuti kaidah ejaan resmi.

Kata baku dipakai pada situasi formal seperti laporan, artikel, dan surat penting. Ciri utamanya: ada di kamus bahasa, bentuknya konsisten, dan tidak menimbulkan kebingungan arti.

baku

Ciri kata baku

  • Ada di daftar resmi KBBI atau buku rujukan lain.
  • Bentuk baku stabil dan cocok untuk dokumen resmi.
  • Menguatkan kredibilitas penulisan pada institusi dan publikasi.

Ciri kata tidak baku

Kata tidak baku sering muncul dari pengucapan orang sehari-hari. Variasinya berubah-ubah dan dipengaruhi dialek.

Meski hidup dalam komunikasi santai, bentuk ini biasanya tidak tercantum dalam daftar di kamus. Untuk penggunaan pada dokumen resmi, pilih bentuk yang baku agar ejaan dan penulisan tetap konsisten.

“Gunakan rujukan resmi saat ragu; konsistensi ejaan membangun kepercayaan pembaca.”

Catatan praktis: setelah memahami perbedaan ini, pembaca akan lebih mudah menentukan kapan memakai bentuk baku dalam dokumen resmi dan mempelajari contoh penggunaan pada bagian berikutnya.

Kapan memakai “izin” dalam konteks resmi dan dokumen

Dokumen institusi menuntut bentuk kata yang tercantum dalam rujukan resmi agar kredibilitas terjaga. Pilihan kata yang baku memudahkan pembaca dan meminimalkan kekeliruan administratif.

Contoh konteks resmi

Gunakan kata baku pada surat, laporan kegiatan, artikel media, proposal, dan notula. Dokumen HR, formulir pendaftaran, dan korespondensi email profesional juga harus memakai bentuk resmi.

Contoh perizinan umum

Beberapa kolokasi yang sering dipakai di layanan publik dan bisnis antara lain izin mengemudi, izin usaha, izin terbit, dan izin praktik.

Contoh kalimat resmi yang tepat

Berikut kalimat yang bisa langsung dipakai dalam surat atau formulir:

“Surat izin untuk dinas luar kota telah diserahkan kepada pimpinan untuk ditandatangani.”

“Saya mengajukan permohonan izin tidak masuk bekerja karena ada urusan keluarga.”

  • Praktis: pada administrasi, hukum, institusi pendidikan, dan dunia kerja gunakan bentuk baku.
  • Konsistensi: jangan mencampur bentuk tidak baku dalam satu dokumen; hal ini menurunkan profesionalisme.
  • Kunci: anggap baku izin sebagai pilihan default sesuai rujukan bahasa Indonesia.

Bagaimana menggunakan “ijin” dalam percakapan tanpa keliru

Dalam percakapan sehari-hari, bentuk tidak baku kerap terdengar karena kebiasaan lisan. Pembaca perlu tahu posisi kata ini secara realistis agar tidak salah kaprah saat berbicara atau menulis.

Mengapa bentuk tidak baku masih sering muncul

Banyak orang menggunakan variasi itu karena pengaruh lingkungan dan pengucapan cepat. Bunyi yang mirip dan kebiasaan membuat huruf berubah tanpa disengaja.

Posisi realistis: bentuk ini sah dipakai dalam percakapan santai, tetapi tidak cocok untuk dokumen resmi. Pahami konteks sebelum menulis.

ijin percakapan

Contoh kalimat percakapan yang lazim (namun tidak baku)

“Bu, saya ijin pergi ke toilet.”

“Saya ijin meminjam pena ini sebentar.”

Contoh-contoh ini membantu mengenali pola penggunaan dalam bahasa sehari-hari. Meski diterima lisan, hindari menyalinnya ke surat, formulir, atau publikasi.

  • Aturan praktis: jika chat grup mulai bersifat semi-formal, biasakan memakai bentuk baku untuk menghindari kebiasaan keliru.
  • Intinya: dalam situasi santai, fokus pada pemahaman; saat menulis, jaga standar ejaan.

Penulisan turunan “izin” yang sering salah dan cara membetulkannya

Kesalahan paling umum terjadi saat kata dasar diberi imbuhan; penulis sering mengganti huruf z menjadi j tanpa sadar. Hal ini sering muncul di dokumen pekerjaan dan sekolah.

Perizinan, bukan perijinan

Gunakan perizinan untuk menyebut proses pemberian izin. Contoh: Perizinan usaha diproses melalui dinas terkait.

Mengizinkan, bukan mengijinkan

Verba yang benar adalah mengizinkan. Contoh: Atasan mengizinkan cuti sesuai prosedur.

Seizin, bukan seijin

Kata pengantar yang tepat: seizin. Contoh: Seizin pemilik, barang dipinjam.

Terizinkan, bukan terijinkan

Untuk bentuk pasif gunakan terizinkan. Contoh: Kegiatan ini terizinkan setelah verifikasi.

KBBI mencantumkan semua turunan di atas, jadi penggunaannya aman untuk dokumen formal, SOP, dan naskah kebijakan di berbagai bidang.

  1. Periksa ejaan: pertahankan huruf z pada semua turunan.
  2. Gunakan kamus bahasa saat ragu.
  3. Simpan checklist ini sebagai pengingat saat menyusun dokumen.

Kesimpulan

Akhirnya, keputusan sederhana dapat membantu menjaga konsistensi penulisan di semua naskah. Pilih bentuk baku untuk menjaga profesionalisme pada surat dan dokumen resmi.

Intinya: kata izin tercatat di kamus bahasa indonesia sebagai persetujuan atau pernyataan membolehkan. Bentuk ijin merupakan varian lisan dan sebaiknya tidak dipakai dalam penulisan formal.

Perhatikan turunan: gunakan perizinan, mengizinkan, seizin, dan terizinkan agar ejaan konsisten. Cara cepat menghindari salah: cek kamus bahasa, sesuaikan dengan situasi, dan lakukan proofreading pada judul dan penulisan nya. Jika masih ragu, rujuk KBBI/PUEBI untuk informasi lebih lanjut.

FAQ

Apa perbedaan antara penulisan "izin" dan "ijin" menurut KBBI?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring, bentuk baku adalah “izin”. Bentuk “ijin” tidak tercantum sebagai entri baku dalam KBBI, sehingga untuk tulisan resmi dan dokumen sebaiknya gunakan “izin”.

Bagaimana KBBI mendefinisikan kata "izin"?

KBBI menjelaskan “izin” sebagai pernyataan persetujuan atau pengabulan yang memberi hak atau kebolehan melakukan sesuatu. Definisi ini menjadikan “izin” cocok dipakai dalam konteks formal seperti surat dan dokumen resmi.

Apa ciri kata baku dalam bahasa Indonesia?

Kata baku biasanya tercantum di KBBI dan digunakan dalam situasi formal, seperti tulisan akademik, pemerintahan, dan media resmi. Bentuk baku mengikuti kaidah ejaan yang baku dan konsisten.

Bagaimana mengenali kata tidak baku?

Kata tidak baku sering muncul dalam lisan sehari-hari, bervariasi antar daerah, dan tidak sesuai kaidah KBBI. Penggunaan dalam tulisan resmi sebaiknya dihindari agar pesan tetap jelas dan formal.

Kapan sebaiknya menggunakan kata "izin" dalam konteks resmi?

Gunakan “izin” pada surat izin, laporan, artikel, kontrak, dan dokumen kerja lainnya. Kata ini tepat untuk semua konteks yang membutuhkan bahasa formal dan resmi.

Contoh jenis perizinan umum yang lazim ditemukan?

Contoh perizinan umum meliputi izin mengemudi, izin usaha, izin terbit, dan izin praktik. Semua istilah turunan juga mengikuti bentuk dengan huruf “z”.

Bisakah "ijin" dipakai dalam percakapan sehari-hari?

Meskipun tidak baku, “ijin” sering muncul dalam percakapan informal dan komunikasi lisan. Penggunaan ini masih dimengerti, tetapi hindari dalam tulisan resmi untuk menjaga ketepatan bahasa.

Contoh kalimat resmi yang benar menggunakan "izin"?

Contoh kalimat resmi: “Saya mengajukan permohonan izin cuti selama tiga hari.” Kalimat ini memakai bentuk baku dan sesuai kaidah KBBI.

Bagaimana contoh kalimat percakapan yang menggunakan bentuk tidak baku?

Contoh percakapan: “Boleh aku ijin pulang lebih awal?” Kalimat ini lazim diucapkan, namun tidak direkomendasikan untuk dokumen resmi.

Bentuk turunan mana yang sering salah dan bagaimana memperbaikinya?

Bentuk turunan yang sering salah meliputi perijinan, mengijinkan, seijin, dan terijinkan. Bentuk yang benar adalah perizinan, mengizinkan, seizin, dan terizinkan—pertahankan huruf “z” pada semua turunan.

Ada tips cepat saat menulis agar tidak keliru menuliskan kata turunan?

Checklist singkat: cek KBBI, pastikan memakai huruf “z” pada semua turunan kata, gunakan “izin” untuk konteks resmi, dan baca ulang dokumen untuk konsistensi. Langkah ini mencegah kesalahan ejaan yang umum.

Tinggalkan komentar