Sering ragu menulis “fikir atau pikir”? Artikel ini hadir sebagai glosarium singkat yang memberi definisi, kebakuan, dan contoh pemakaian untuk menjawab kebingungan itu.
Isu ini muncul karena kebiasaan penulisan lama, pengaruh tutur lisan, dan ejaan tidak baku di media. Pembaca butuh rujukan resmi agar naskah berita, tugas akademik, surat dinas, dan dokumen resmi konsisten.
Kami merujuk data KBBI Daring: kata yang tercatat di kamus bahasa indonesia menjadi penentu. Tulisan ini membahas lima bagian: definisi bentuk baku, pengecekan kebakuan di KBBI, turunan kata, contoh penggunaan, dan ringkasan praktis untuk penulisan formal.
Prinisp utama: jika ragu, cek kamus bahasa resmi dan gunakan bentuk yang tercatat, bukan sekadar kebiasaan di media sosial. Artikel juga menelusuri pasangan turunan dan kolokasi agar Anda tahu kapan tepat memakai tiap bentuk.
Kesimpulan Singkat (Poin Kunci)
- Gunakan bentuk yang tercatat di KBBI untuk dokumen resmi.
- Perbedaan muncul karena kebiasaan lama dan pengucapan.
- Artikel membahas definisi, kebakuan, turunan, contoh, dan ringkasan.
- Cek kamus bahasa indonesia saat ragu untuk konsistensi penulisan.
- Selain benar-salah, pelajari kolokasi agar penggunaan lebih tepat.
Definisi “pikir” dalam Kamus Bahasa Indonesia
Definisi di kamus baku memperlihatkan rentang makna yang luas untuk kata ini. Secara garis besar, KBBI membagi arti ke dalam dua rumpun utama: satu berkaitan dengan kapasitas kognitif, dan satu lagi berkaitan dengan pendapat atau pertimbangan.

Makna kognitif: akal budi, ingatan, angan-angan
Arti pertama merujuk pada akal budi — kemampuan menimbang dan memutuskan. Dalam konteks formal, gunakan istilah ini bila menunjukkan daya nalar, bukan perasaan.
Ingatan dan angan-angan juga masuk kelompok ini. Contoh perbedaan konteks: “jangan banyak pikir” (kurangi beban pikiran) versus “tak habis pikir” (kagum atau tak mengerti).
Makna evaluatif: kata dalam hati, pendapat, pertimbangan
KBBI mencatat arti lain sebagai kata dalam hati atau pendapat. Ungkapan seperti “menurut pikir saya” lazim dipakai untuk menyampaikan opini. Pastikan konteks jelas agar tidak rancu dengan klaim fakta.
“Pikiran” sebagai hasil berpikir
Pikiran dimaknai sebagai hasil berpikir: gagasan, niat, atau ide. Bedakan antara “pikiran” (output) dan “berpikir” (proses).
- “Pikiran buntu” — hasil yang mandek.
- “Pikiran bercabang” — banyak gagasan bersamaan.
- “Pikiran pendek” — kecenderungan spektral pada orang tertentu.
Dengan memahami perbedaan makna ini, penulis akan lebih mudah memilih kata yang tepat untuk teks argumentatif, berita, atau dokumen resmi.
Fikir atau pikir: mana penulisan yang baku menurut KBBI?
Hasil pemeriksaan kamus resmi menjawab pertanyaan tentang penulisan yang tepat.
Temuan KBBI Daring
KBBI Daring mencatat bentuk pikir sebagai lema baku. Bentuk fikir tidak ditemukan dalam entri resmi.

Implikasi untuk penulisan
- Di berita, memakai bentuk baku meningkatkan kredibilitas redaksi.
- Dalam tulisan akademik, konsistensi ejaan mencegah koreksi formal.
- Untuk dokumen resmi, rujukan ke kamus bahasa indonesia mengurangi revisi.
Bentuk turunan yang baku
| Bentuk | Fungsi singkat | Contoh penggunaan |
|---|---|---|
| berpikir / berpikir-pikir | proses menimbang | “Ia berpikir sebelum memutuskan.” |
| memikir / memikirkan / memikir-mikirkan | mengenai atau mempertimbangkan | “Kami memikirkan solusi jangka panjang.” |
| terpikir / terpikirkan / pemikir / pemikiran | ingatan, dibayangkan, orang, hasil | “Sebuah pemikiran baru muncul dalam diskusi.” |
Nuansa dan kolokasi umum
Berpikir menandai proses akal budi. Berpikir-pikir menegaskan penimbangan berulang.
“Tak habis pikir” — contoh kolokasi yang tercantum dalam kamus untuk menyatakan kekaguman atau ketidakmengertian.
Istilah seperti “kurang pikir”, “pikir itu pelita hati”, dan peribahasa lain tetap dipakai dalam bahasa sehari-hari. Hati-hati dengan penulisan ganda seperti pikir fikir saat mengetik cepat; bentuk ulang yang benar muncul pada kata majemuk yang resmi.
Contoh penggunaan “pikir” yang tepat dalam bahasa Indonesia saat ini
Contoh praktis membantu pembaca memilih bentuk yang tepat dalam teks formal maupun nonformal. Di bawah ini ada contoh kalimat, penjelasan arti menurut KBBI, dan koreksi cepat untuk kesalahan umum.
Contoh kalimat formal
“Saya berpikir keputusan ini perlu ditinjau ulang berdasarkan data.” (berpikir = menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan)
“Mohon dipikirkan dampak kebijakan terhadap layanan publik.” (memikirkan = mempertimbangkan/menimbang)
“Pemikiran penulis didukung rujukan yang memadai.” (pemikiran = hasil berpikir)
Contoh kalimat nonformal dan modern
“Aku kepikiran hal itu semalaman.” (terpikir = timbul dalam ingatan)
“Coba kamu berpikir-pikir dulu, jangan terburu-buru.” (berpikir-pikir = menimbang-nimbang)
“Tim melakukan brainstorming untuk memikirkan solusi.” (memikirkan dipakai dalam konteks kreativitas)
“Ia mencoba berpikir asosiatif dengan mind mapping.” (menunjukkan penggunaan kata dalam konteks pola pikir kreatif)
Kesalahan umum dan cara membetulkannya
Banyak naskah berita dan unggahan menulis fikir sebagai padanan. Bentuk baku menurut KBBI adalah pikir. Perbaiki dengan mengganti fikir menjadi pikir, berpikir, memikirkan, atau pemikiran sesuai konteks.
Tip proofreading: cari kata “fikir” dalam dokumen, tentukan maksud (proses/hasil/opini), lalu ganti dengan turunan baku yang sesuai.
- Tentukan maksud kalimat: proses, hasil, atau ingatan.
- Pilih turunan yang tepat (berpikir, memikirkan, terpikir, pemikiran).
- Periksa bentuk ulang: gunakan berpikir-pikir, bukan “pikir fikir”.
Kesimpulan
Penutup ini merangkum langkah sederhana agar tulisan Anda konsisten dan jelas.
Menurut rujukan resmi, bentuk pikir tercatat sebagai lema baku. Bentuk turunannya meliputi berpikir, berpikir-pikir, memikirkan, terpikir, terpikirkan, pemikir, dan pemikiran.
Pemilihan kata baku bukan hanya soal benar-salah. Pilihan kata memengaruhi kejelasan makna, efektivitas kalimat, dan konsistensi gaya tulisan formal.
Praktik terbaik: setelah menulis, cari kata rawan, bandingkan dengan kamus, lalu perbaiki demi hasil yang rapi dan kredibel.
Biasakan cek definisi dan turunan kata untuk membuat naskah lebih mudah dipahami pembaca.