Tujuan singkat artikel ini adalah membantu pembaca memastikan ejaan baku dalam konteks formal. Acuan utama yang dipakai adalah KBBI dan PUEBI, yang memuat kata baku, arti, turunan, dan kelas kata.
Siapa yang butuh materi ini? Penulis konten, mahasiswa, admin media sosial instansi, guru, dan siapa pun yang ingin mengurangi salah tulis pada dokumen dan artikel.
Kami akan menjelaskan cara cek di kamus bahasa, aturan umum ejaan, pola imbuhan, kata ulang, dan contoh kesalahan yang sering muncul. Pendekatan langkah demi langkah memudahkan pembaca untuk menerapkan aturan dalam tulisan sehari-hari.
Manfaat praktisnya jelas: tulisan jadi lebih kredibel, tidak menimbulkan tafsir ganda, dan proses penyuntingan lebih cepat karena konsisten pada satu standar.
Setelah mengikuti langkah-langkah ini, pembaca bisa memeriksa ejaan sendiri menggunakan kamus bahasa Indonesia dan menerapkannya pada kalimat resmi maupun nonformal.
Poin Kunci
- Pakai KBBI dan PUEBI sebagai acuan utama.
- Pelajari cara membaca entri kamus untuk menentukan kata baku.
- Perhatikan aturan imbuhan dan kata ulang agar ejaan tepat.
- Gunakan cek cepat untuk “di” sebagai kata depan dan gabungan kata.
- Praktikkan langkah-langkah agar tulisan lebih kredibel dan konsisten.
Mengapa KBBI dan PUEBI jadi acuan penulisan bahasa Indonesia yang baku
Rujukan resmi menetapkan bentuk kata dan ejaan sehingga dokumen terlihat konsisten dan profesional. KBBI dan PUEBI berfungsi sebagai standar untuk menentukan kata baku, pemenggalan, dan tanda baca.
Perbedaan baku dan tidak baku untuk formal vs percakapan
Kata tidak baku sering muncul dalam percakapan sehari-hari. Namun, untuk surat, laporan, dan artikel formal, memilih bentuk baku mengurangi salah tafsir.
Apa saja yang tercantum di entri kamus
Entri kamus memberi informasi seperti arti, turunan, frasa, dan kelas kata (nomina, verba, adjektiva). Penjelasan ini membantu menentukan penggunaan dan contoh kalimat yang benar.
Akses modern: online dan aplikasi
Saat ini kamus bahasa indonesia tersedia daring dan dalam aplikasi, sehingga cek ejaan jadi cepat. Biasakan memeriksa beberapa kata rawan pada kamus bahasa sebelum menerbitkan tulisan.
Langkah cepat memakai kamus bahasa Indonesia untuk memastikan ejaan dan bentuk kata
Langkah awal yang cepat: buka kamus bahasa dan cari bentuk dasar kata sebelum menulis.

Cara mengecek kata dasar dan bentuk berimbuhan
Cari dulu bentuk dasar tanpa awalan atau akhiran. Bila hanya ingat bentuk turunan, hapus imbuhan untuk menemukan bentuk dasar.
Setelah itu, pastikan bentuk berimbuhan tercatat. Cocokkan entri untuk melihat apakah perubahan huruf atau peluluhan berlaku.
Membaca entri kamus: label baku, ragam, dan contoh penggunaan
Perhatikan kelas kata pada entri untuk menentukan fungsi di kalimat. Lalu cocokkan contoh penggunaan agar tidak salah konteks.
- Periksa label baku—pilih bentuk baku untuk surat, artikel, dan laporan.
- Uji kecocokan ejaan dengan menulis ulang kalimat yang mengandung kata tersebut.
- Buat daftar kata kerja dan istilah yang sering Anda gunakan untuk cek konsistensi kualitas tulisan.
| Langkah | Aksi singkat | Tujuan |
|---|---|---|
| 1 | Cari bentuk dasar | Menentukan pola pembentukan kata |
| 2 | Verifikasi imbuhan | Menjamin ejaan dan kaidah |
| 3 | Cocokkan contoh penggunaan | Menghindari salah konteks dalam kalimat |
| 4 | Scan kata sering salah | Meningkatkan kualitas akhir tulisan |
panduan penulisan sesuai kbbi untuk kata dasar, imbuhan, bentuk ulang, dan gabungan kata
Bagian ini merangkum aturan utama untuk kata dasar, imbuhan, bentuk ulang, dan gabungan kata. Ikuti pola ringkas agar tulisan resmi, laporan, atau istilah teknis konsisten.
Penulisan kata dasar dan berimbuhan
Kata dasar ditulis serangkai sebagai satu kesatuan. Contoh: “ruang kelas”, “ayah pergi”, “kamus itu berat”.
Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) dirangkai dengan bentuk dasar. Imbuhan dari unsur asing seperti -isme, -man, -wan, -wi juga ditulis serangkai.
Bentuk terikat, “maha”, dan tanda hubung
Beberapa bentuk terikat lazim ditulis serangkai: adibusana, antarkota, biokimia, antibiotik.
Jika bentuk terikat bertemu huruf kapital atau singkatan, gunakan tanda hubung. Contoh: Anti-PKI, Non-ASEAN, Pro-Barat.
Kata “Maha” bersifat khusus: untuk nama/sifat Tuhan ditulis terpisah dan kapital: “Tuhan Yang Maha Pengasih”. Namun “Mahakuasa” sebagai gabungan sifat ditulis serangkai; pengecualian: “Tuhan Yang Maha Esa”.
Bentuk ulang dan gabungan kata
Bentuk ulang memakai tanda hubung: kupu-kupu, anak-anak, mondar-mandir. Untuk gabungan kata sebagai istilah, prinsipnya ditulis terpisah: simpang lima, duta besar, cendera mata.
Gunakan tanda hubung untuk menghindari ambiguitas (mis. anak-istri kolonel vs anak istri-kolonel). Jika gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, maka berubah menjadi serangkai.
Aturan khusus awalan meN- dan peluluhan huruf yang sering bikin salah tulis
Perubahan bunyi pada awalan meN- sering membingungkan penulis. Bentuk akhir berubah karena peluluhan huruf awal kata dasar. Akibatnya, banyak salah tulis muncul di artikel atau dokumen resmi.
Kaidah meN- bertemu huruf k, p, t, s dan contoh
Secara umum, saat meN- bertemu kata dasar berawalan k, p, t, atau s, huruf awal itu luluh dan berubah bunyi sesuai kaidah.
Contoh penting: meN- + pengaruh → memengaruhi. Bentuk inilah yang wajib dipakai dalam penulisan bahasa formal.

- Identifikasi bentuk dasar kata sebelum menambahkan awalan.
- Lihat huruf awal (k, p, t, s) untuk menentukan apakah terjadi peluluhan.
- Terapkan kaidah ejaan dan verifikasi akhir dengan sumber resmi.
| Langkah | Pertanyaan cek cepat | Hasil yang benar |
|---|---|---|
| 1 | Apakah kata dasar berawalan k/p/t/s? | Jika ya, huruf awal sering luluh (contoh: pengaruh → memengaruhi) |
| 2 | Sudah serangkai atau terpisah? | Kata kerja berawalan meN- ditulis serangkai |
| 3 | Ada bentuk alternatif populer? | Periksa dan pilih bentuk baku untuk artikel |
“Gunakan daftar kata kerja yang sering dipakai dalam organisasi Anda untuk menjaga konsistensi.”
Sebagai penutup, buat daftar internal kata kerja berawalan meN- yang sering muncul. Tetapkan bentuk baku sebagai standar gaya tim agar kesalahan menjadi sedikit dan mudah dikoreksi.
Contoh kesalahan penulisan yang paling sering dan bentuk yang benar menurut KBBI
Banyak kesalahan ejaan yang berulang di papan pengumuman dan media sosial.
Tulisan ini menyajikan contoh singkat agar orang mudah menerapkan bentuk baku.
Kata yang sering keliru di ruang publik
Perhatikan tiga contoh populer: silakan (bukan silahkan), antre (bukan antri), dan sekadar (bukan sekedar).
Ketiganya sering dipakai keliru karena kebiasaan lisan.
Kata depan “di” untuk tempat
Kata depan untuk tempat harus dipisah: tulis di mana, bukan “dimana”.
Contoh kalimat: “Di mana acara berlangsung?” vs “dia menaruh buku di meja.”
Serapan dan pola perubahan akhiran
Perhatikan pola serapan bahasa asing: -ity → -itas (aktivitas), -ic → -ik (praktik), -ysis → -isis (analisis).
Mengenal pola ini membantu memilih bentuk yang tepat saat menulis istilah dari bahasa asing.
Serapan dari Arab/Inggris yang kerap tertukar
Beberapa kata sering tertukar: nasihat (bukan nasehat), risiko (bukan resiko), peduli (bukan perduli), dan izin (bukan ijin).
Salah eja menurunkan kredibilitas dalam dokumen resmi.
Ejaan baku yang terbawa kebiasaan
Contoh lain yang biasa salah: zaman (bukan jaman), napas (bukan nafas), hafal (bukan hapal), pikir (bukan fikir).
Buat daftar kata ini sebagai referensi cepat tim Anda.
“Jika ragu, verifikasi bentuk kata di KBBI agar keputusan penulisan berdasarkan sumber resmi.”
Kesimpulan
Terapkan rujukan resmi setiap kali ragu tentang bentuk kata. Gunakan KBBI dan PUEBI sebagai acuan utama untuk menjaga bentuk baku dalam tulisan dan artikel resmi.
Cek kata dasar di kamus bahasa, baca label kelas kata, lalu uji pemakaian dalam kalimat. Cara ini cepat dan mengurangi kekeliruan saat mengolah berimbuhan, kata ulang, atau gabungan kata.
Perhatikan area rawan: awalan meN- (peluluhan), kata depan “di”, dan pola serapan yang sering tertukar. Buat daftar kata yang sering salah untuk pemeriksaan akhir.
Mulai kebiasaan editorial dengan verifikasi terakhir menggunakan KBBI atau PUEBI. Langkah kecil ini secara konsisten meningkatkan kualitas tulisan dan kredibilitas dokumen.