Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menjumpai dua bentuk penulisan yang tampak serupa tetapi menimbulkan kebingungan, yaitu “risiko” dan “resiko”. Keduanya sama-sama sering muncul dalam percakapan, media massa, karya tulis ilmiah, hingga dokumen resmi. Namun, pertanyaan mendasarnya adalah: manakah penulisan yang benar menurut kaidah bahasa Indonesia?
Kesalahan dalam penulisan kata mungkin terlihat sepele, tetapi jika terjadi berulang kali terutama dalam konteks akademik dan profesional hal ini dapat menurunkan kredibilitas penulis. Oleh karena itu, melalui artikel ini, kita akan membahas secara komprehensif perbedaan antara “risiko” dan “resiko”, dasar kebahasaannya, serta penerapannya dalam berbagai konteks agar kita dapat menggunakan bahasa Indonesia secara tepat dan bertanggung jawab.
Pengertian Risiko dalam Kehidupan Sehari-hari
Sebelum membahas penulisannya, kita perlu memahami terlebih dahulu makna kata risiko. Secara umum, risiko merujuk pada kemungkinan terjadinya suatu peristiwa yang dapat menimbulkan kerugian, bahaya, atau hasil yang tidak diharapkan.
Risiko tidak selalu bermakna negatif secara mutlak. Dalam dunia bisnis, misalnya, risiko adalah bagian yang tak terpisahkan dari pengambilan keputusan. Tanpa risiko, sering kali tidak ada peluang. Hal yang sama juga berlaku dalam bidang kesehatan, pendidikan, teknologi, dan keuangan.
Dengan demikian, kata “risiko” memiliki peran penting dalam komunikasi formal maupun nonformal. Oleh karena itu, ketepatan penulisannya menjadi krusial.
Risiko atau Resiko: Mana yang Baku?
Penjelasan Berdasarkan KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sebagai rujukan utama bahasa Indonesia, penulisan yang baku dan benar adalah “risiko”, bukan “resiko”.
Kata risiko mengandung arti sebagai:
kemungkinan terjadinya peristiwa yang merugikan atau berbahaya sebagai akibat suatu tindakan atau kondisi tertentu.
Sementara itu, kata “resiko” tidak tercantum sebagai bentuk baku dalam KBBI. Artinya, penulisan “resiko” dianggap tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang telah dibakukan.
Asal Usul Kata Risiko
Kata “risiko” diserap ke dalam bahasa Indonesia dari bahasa asing, yaitu risk (bahasa Inggris) dan risque (bahasa Prancis). Dalam proses penyerapan, terjadi penyesuaian ejaan agar sesuai dengan sistem fonologi dan ortografi bahasa Indonesia.
Huruf “i” pada suku kata pertama dipertahankan sehingga membentuk kata risiko, bukan “resiko”. Inilah salah satu alasan linguistik mengapa bentuk “risiko” dianggap benar dan baku.
Mengapa Banyak Orang Menulis “Resiko”?
Meskipun tidak baku, penulisan “resiko” masih sangat sering kita temui. Fenomena ini terjadi karena beberapa faktor.
Pengaruh Pelafalan
Dalam pengucapan sehari-hari, sebagian orang melafalkan kata “risiko” dengan bunyi vokal yang mendekati “e”, sehingga secara tidak sadar menuliskannya sebagai “resiko”. Padahal, pelafalan tidak selalu menjadi acuan kebenaran ejaan.
Kebiasaan Turun-Temurun
Kesalahan yang terjadi secara masif dan berulang dapat membentuk kebiasaan. Banyak penulis pemula meniru penulisan dari sumber yang tidak kredibel, blog lama, atau percakapan informal, sehingga bentuk “resiko” terus digunakan.
Kurangnya Rujukan Bahasa
Tidak semua orang terbiasa merujuk pada KBBI atau pedoman bahasa resmi. Akibatnya, kesalahan ejaan seperti ini terus berulang tanpa kita sadari.
Penggunaan Kata Risiko dalam Kalimat
Agar pemahaman kita semakin kuat, berikut beberapa contoh penggunaan kata risiko yang benar dalam kalimat.
Contoh Kalimat Formal
Setiap keputusan investasi memiliki risiko yang harus dianalisis secara matang.
Perusahaan perlu melakukan manajemen risiko untuk menghindari kerugian besar.
Risiko kesehatan dapat diminimalkan dengan pola hidup sehat.
Contoh Kalimat Akademik
Penelitian ini membahas faktor-faktor yang memengaruhi risiko kegagalan proyek konstruksi.
Analisis risiko menjadi bagian penting dalam perencanaan strategis organisasi.
Dari contoh-contoh tersebut, terlihat jelas bahwa penggunaan kata “risiko” lebih tepat dan profesional.
Risiko dalam Berbagai Bidang
Risiko dalam Dunia Bisnis
Dalam bisnis, risiko mencakup ketidakpastian yang dapat memengaruhi keuntungan dan keberlanjutan usaha. Kita mengenal berbagai jenis risiko, seperti risiko keuangan, risiko operasional, hingga risiko pasar. Oleh karena itu, istilah “manajemen risiko” menjadi konsep penting yang tidak bisa kita pisahkan dari praktik bisnis modern.
Risiko dalam Kesehatan
Di bidang kesehatan, risiko berkaitan dengan kemungkinan terjadinya penyakit atau komplikasi akibat faktor tertentu, seperti gaya hidup, lingkungan, atau tindakan medis. Edukasi mengenai risiko membantu masyarakat membuat keputusan yang lebih sadar dan bertanggung jawab.
Risiko dalam Kehidupan Sosial
Dalam kehidupan sosial, setiap tindakan juga memiliki risiko, baik risiko konflik, kesalahpahaman, maupun dampak sosial lainnya. Dengan memahami risiko, kita dapat bersikap lebih bijaksana dalam bertindak dan berinteraksi.
Dampak Kesalahan Penulisan Risiko atau Resiko
Kesalahan penulisan kata “risiko” menjadi “resiko” bukan sekadar masalah ejaan. Dalam konteks tertentu, kesalahan ini dapat menimbulkan dampak yang lebih luas.
Menurunkan Kredibilitas Tulisan
Dalam dokumen resmi, karya ilmiah, atau artikel profesional, kesalahan ejaan dapat membuat pembaca meragukan kompetensi penulis. Hal kecil seperti ini sering kali menjadi indikator kualitas tulisan secara keseluruhan.
Tidak Sesuai Standar Bahasa
Bahasa Indonesia memiliki standar baku yang harus kita patuhi, terutama dalam konteks formal. Menggunakan bentuk tidak baku berarti mengabaikan pedoman yang telah disepakati secara nasional.
Berpengaruh pada SEO dan Konten Digital
Dalam dunia digital, penggunaan kata baku juga berdampak pada kualitas konten. Mesin pencari cenderung mengutamakan konten yang menggunakan bahasa baku dan informatif. Oleh karena itu, penggunaan kata “risiko” yang benar juga penting dari sisi optimasi mesin pencari.
Tips Agar Tidak Salah Menulis Risiko
Agar kita tidak lagi keliru, berikut beberapa tips sederhana yang bisa diterapkan.
Biasakan Mengecek KBBI
KBBI daring memudahkan kita untuk memeriksa kebenaran suatu kata kapan saja. Jadikan kebiasaan ini sebagai bagian dari proses menulis.
Gunakan Aplikasi Pemeriksa Ejaan
Beberapa aplikasi pengolah kata telah dilengkapi fitur pemeriksa ejaan bahasa Indonesia yang dapat membantu meminimalkan kesalahan.
Perbanyak Membaca Sumber Kredibel
Membaca buku, jurnal, dan media resmi akan membantu kita terbiasa dengan penggunaan bahasa yang benar dan baku.
Kesimpulan
Dari pembahasan di atas, dapat kita simpulkan bahwa penulisan yang benar dan baku adalah “risiko”, sedangkan “resiko” merupakan bentuk tidak baku yang sebaiknya dihindari, terutama dalam konteks formal dan profesional.
Sebagai penutur bahasa Indonesia yang baik, sudah sepatutnya kita menggunakan kata sesuai dengan kaidah yang berlaku. Ketepatan bahasa mencerminkan ketepatan berpikir dan sikap profesional kita dalam berkomunikasi.
Dengan memahami perbedaan “risiko” dan “resiko”, kita tidak hanya meningkatkan kualitas tulisan, tetapi juga ikut berkontribusi dalam menjaga kelestarian dan ketertiban bahasa Indonesia.