Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menjumpai dua bentuk penulisan kata yang tampak mirip tetapi menimbulkan kebingungan, yaitu berpikir dan berfikir. Keduanya kerap digunakan secara bergantian, baik dalam percakapan lisan maupun tulisan. Namun, pertanyaannya adalah: manakah penulisan yang benar menurut kaidah bahasa Indonesia baku?
Artikel ini akan membahas secara komprehensif penulisan yang tepat antara berpikir atau berfikir berdasarkan kaidah bahasa Indonesia. Kita akan mengulas asal kata, aturan morfologi, rujukan kebahasaan, hingga contoh penerapan dalam kalimat. Dengan pembahasan yang mendalam, diharapkan kita dapat memahami alasan di balik bentuk yang benar dan menghindari kesalahan serupa di masa mendatang.
Asal Usul Kata Pikir dalam Bahasa Indonesia
Kata dasar dari berpikir atau berfikir adalah pikir. Kata ini telah lama digunakan dalam bahasa Melayu dan kemudian diserap ke dalam bahasa Indonesia. Secara makna, pikir berarti menggunakan akal budi untuk menimbang, mempertimbangkan, atau memutuskan sesuatu.
Dalam proses pembentukan kata kerja, bahasa Indonesia mengenal sistem afiksasi, yaitu penambahan imbuhan pada kata dasar. Kata pikir dapat diberi berbagai imbuhan, seperti:
- berpikir
- pemikir
- pikiran
- memikirkan
Dari sini, kita bisa mulai melihat pola pembentukan kata yang konsisten dan mengikuti aturan fonologis bahasa Indonesia.
Aturan Peluluhan Huruf dalam Imbuhan
Salah satu kunci untuk memahami perbedaan berpikir dan berfikir terletak pada aturan peluluhan huruf dalam bahasa Indonesia. Aturan ini mengatur perubahan bunyi ketika imbuhan bertemu dengan kata dasar tertentu.
Dalam bahasa Indonesia, awalan ber- yang bertemu dengan kata dasar berawalan huruf p akan menyebabkan huruf p tersebut luluh atau hilang. Akibatnya, bentuk kata yang muncul bukanlah berpikir + pikir secara mentah, melainkan berpikir.
Hal ini serupa dengan contoh berikut:
- ber- + pukul → berpukul (bukan berpukul)
- ber- + perang → berperang
Namun, khusus untuk kata pikir, bentuk baku yang dihasilkan adalah berpikir, bukan berfikir.
Penulisan yang Benar: Berpikir atau Berfikir?
Berdasarkan kaidah bahasa Indonesia baku, penulisan yang benar adalah “berpikir”. Bentuk berfikir dianggap tidak baku dan tidak sesuai dengan aturan morfologi bahasa Indonesia.
Kesalahan penulisan berfikir sering terjadi karena pengaruh pelafalan lisan. Dalam percakapan sehari-hari, bunyi “p” pada berpikir memang terdengar lemah sehingga sebagian orang mengira bentuk yang benar adalah berfikir. Padahal, dalam bahasa tulis resmi, kaidah tetap harus kita ikuti.
Dengan demikian, dalam konteks formal seperti artikel, karya ilmiah, berita, maupun dokumen resmi, kita wajib menggunakan bentuk berpikir.
Rujukan dalam Kaidah Bahasa Indonesia
Dalam rujukan kebahasaan resmi, seperti kamus dan pedoman bahasa Indonesia, bentuk yang diakui adalah berpikir. Kata ini berguna sebagai bentuk baku dan menjadi acuan dalam penulisan formal.
Selain itu, turunan katanya pun mengikuti pola yang sama, misalnya:
- pemikir, bukan pemfikir
- pikiran, bukan fikiran
- memikirkan, bukan memfikirkan
Hal ini semakin menegaskan bahwa unsur “pikir” tetap ada dalam bentuk dasarnya, sementara perubahan hanya terjadi sesuai aturan imbuhan.
Contoh Penggunaan Kata Berpikir dalam Kalimat
Agar pemahaman kita semakin jelas, berikut beberapa contoh penggunaan kata berpikir yang benar dalam kalimat:
- Kita perlu berpikir secara kritis sebelum mengambil keputusan penting.
- Kemampuan berpikir logis sangat dibutuhkan dalam dunia pendidikan.
- Seorang pemimpin harus mampu berpikir jangka panjang.
- Kita harus untuk berpikir kreatif dalam menghadapi tantangan zaman.
Semua contoh di atas menggunakan bentuk berpikir yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.
Mengapa Bentuk “Berfikir” Masih Sering Digunakan?
Meskipun tidak baku, kata berfikir masih sering kita temui. Ada beberapa faktor yang menyebabkan hal ini terjadi:
1. Pengaruh Bahasa Lisan
Dalam pengucapan sehari-hari, perbedaan antara berpikir dan berfikir sering kali tidak terdengar jelas. Akibatnya, kebiasaan lisan ini terbawa ke dalam tulisan.
2. Kurangnya Pemahaman Kaidah Bahasa
Tidak semua penutur bahasa Indonesia memahami aturan imbuhan dan peluluhan huruf. Hal ini membuat kesalahan penulisan terus berulang.
3. Penyebaran Kesalahan di Media Digital
Di era digital, banyak konten ditulis tanpa proses penyuntingan yang ketat. Kesalahan seperti berfikir pun menyebar luas dan dianggap wajar oleh pembaca.
Pentingnya Menggunakan Bahasa Indonesia Baku
Menggunakan bahasa Indonesia baku bukan sekadar soal benar atau salah, tetapi juga mencerminkan sikap kita terhadap bahasa nasional. Bahasa yang baik dan benar menunjukkan profesionalisme, terutama dalam konteks pendidikan, jurnalistik, dan dunia kerja.
Dengan membiasakan diri menggunakan kata berpikir secara benar, kita ikut menjaga konsistensi dan kualitas bahasa Indonesia. Selain itu, kebiasaan ini juga membantu generasi berikutnya untuk belajar bahasa dengan acuan yang tepat.
Tips Agar Tidak Salah Menulis Berpikir
Berikut beberapa tips sederhana agar kita tidak lagi keliru menulis berpikir:
- Biasakan merujuk pada kamus atau pedoman bahasa resmi.
- Perhatikan kata dasar dan aturan imbuhan.
- Lakukan penyuntingan ulang pada tulisan sebelum kita publikasikan.
- Latih kepekaan berbahasa dengan membaca tulisan berkualitas.
Kesimpulan
Setelah membahas secara mendalam, dapat kita simpulkan bahwa penulisan yang benar menurut kaidah bahasa Indonesia adalah “berpikir”, bukan berfikir. Kesalahan penulisan sering terjadi karena pengaruh lisan dan kurangnya pemahaman terhadap aturan bahasa.
Dengan memahami asal kata, aturan imbuhan, serta contoh penggunaannya, kita harus mampu menggunakan kata berpikir secara tepat dalam berbagai konteks. Mari kita bersama-sama menjaga ketepatan dan keindahan bahasa Indonesia melalui kebiasaan berbahasa yang baik dan benar.