Perbedaan ‘Ke Mana’ dan ‘Kemana’: Penjelasan Lengkap

Pernahkah Anda bertanya: mengapa banyak penulis masih ragu memilih bentuk yang benar saat menulis arah atau tujuan?

Topik ini penting karena kebiasaan lisan sering berbenturan dengan kaidah EYD dalam penulisan formal. Kesalahan kecil pada kata depan bisa memengaruhi kesan profesional pada surat, email, atau karya akademis.

Artikel ini memberi penjelasan praktis dan sesuai EYD. Kami akan membahas arti dan fungsi umum kata depan, lalu mengantar ke pembahasan inti tentang perbedaan bentuk serangkai dan terpisah.

Tujuan panduan singkat ini adalah membantu setiap orang memilih penulisan yang tepat. Pembaca akan mendapatkan aturan, contoh benar-salah, serta kiat cek cepat sebelum mengirim dokumen resmi.

Poin Kunci

  • Pahami fungsi kata depan sebelum menentukan bentuk kata.
  • Penulisan yang tepat meningkatkan kesan profesional.
  • Artikel ini menyajikan aturan EYD dan contoh praktis.
  • Gunakan kiat cek cepat untuk validasi terakhir.
  • Mengerti perbedaan bentuk membantu menulis dengan percaya diri.

Memahami fungsi kata “ke” dalam bahasa Indonesia

Mengetahui fungsi sederhana dapat menghindarkan banyak kesalahan penulisan sehari-hari.

Fungsi pertama tampil sebagai kata depan yang menunjukkan tujuan atau arah. Pola umum pada kalimat adalah “ke + nama tempat” atau “ke + keterangan lokasi”, misalnya ketika seseorang pergi ke rumah atau menuju pasar.

Awalan yang membentuk kata baru

Fungsi kedua adalah sebagai awalan (ke-) yang melekat pada kata dasar untuk membentuk nomina atau abstrak, seperti keamanan dan kebersihan. Imbuhan ini tidak berdiri sendiri dan mengubah kelas kata dasar.

Penunjuk urutan pada angka

Fungsi ketiga berkaitan dengan urutan. Saat menunjukkan posisi atau bilangan, aturan penulisan berbeda jika urutan ditulis dengan angka (mis. ke-2) atau terbilang (mis. kedua).

  • Pahami konteks kalimat untuk memilih bentuk penulisan yang tepat.
  • Jika menunjuk arah atau rumah, gunakan bentuk terpisah.
  • Jika membentuk konsep baru, sambungkan sebagai imbuhan.

Dengan mengenali ketiga kondisi ini, pembaca akan lebih cepat menentukan arti nya dan menerapkan kaidah EYD pada bagian selanjutnya.

Aturan penulisan “ke mana atau kemana” sesuai kaidah EYD

Di sini kita uraikan kaidah EYD untuk membedakan bentuk yang benar saat menunjukkan arah, imbuhan, dan urutan.

Kapan kata depan harus dipisah: pola kata depan + keterangan tempat

Jika fungsi menunjukkan arah atau tujuan, kata depan tersebut wajib ditulis terpisah dari keterangan tempat. Contoh umum adalah frasa tanya “ke mana” yang menanyakan tujuan perjalanan.

aturan penulisan

Kapan disambung sebagai awalan

Sebaliknya, jika bentuk berfungsi sebagai awalan yang membentuk kata baru, maka harus disambung. Contoh: keamanan, kebersihan. Pemisahan dalam kasus ini akan merusak makna kata.

Penulisan urutan: angka vs huruf

Untuk ordinal yang diikuti angka, gunakan tanda hubung (mis. ke-2, ke-3) agar konsisten dalam penulisan angka. Jika urutan ditulis dengan huruf dan memang berfungsi sebagai ordinal, kata dapat disambung (kedua, ketiga).

  • Langkah cepat: identifikasi fungsi → tempat/arah? tulis terpisah.
  • Jika membentuk kata baru sebagai awalan, sambunglah.
  • Jika diikuti angka untuk urutan, pakai tanda hubung.

Ringkasan singkat aturan penulisan: tentukan fungsi kata dalam kalimat, lalu pilih bentuk yang sesuai—dipisah untuk arah, serangkai untuk awalan, dan hubungkan dengan tanda hubung bila menandai urutan angka.

Contoh penggunaan dalam kalimat dan kesalahan yang sering terjadi

Untuk memperjelas aturan, berikut beberapa contoh penggunaan yang sering muncul.

Contoh frasa arah yang ditulis terpisah

Contoh: “Pergi ke mana hari ini?” “Kami menuju ke sana pada sore hari.” Frasa lain yang ditulis terpisah: ke sini, ke situ, ke atas, ke bawah, ke dalam, ke luar.

Contoh imbuhan yang disambung

Contoh imbuhan: keamanan, kebersihan. Uji makna: hilangkan awalan. Jika kata berubah arti atau kelas kata, itu imbuhan—sambung.

Contoh penulisan urutan

Gunakan format angka dengan tanda hubung untuk ordinal: anak ke-3, peserta ke-2. Jika ditulis dengan kata, pakai bentuk seperti kedua, ketiga.

Kiat cepat mengecek

  • Coba ganti dengan “menuju” — cocok berarti pisah.
  • Hapus awalan — jika makna berubah, sambung.
  • Periksa konteks formal: kesalahan kecil mencerminkan ketelitian.

Catatan: praktikkan contoh-contoh ini saat menulis email, laporan, atau tugas agar penulisan tetap profesional.

Kesimpulan

Berikut simpulan praktis untuk menentukan bentuk kata dalam kalimat.

Intinya ada tiga keputusan utama: (1) gunakan bentuk terpisah saat menunjukkan arah atau tujuan; (2) sambungkan jika fungsi menjadi imbuhan pembentuk kata; (3) untuk urutan, pakai tanda hubung bila diikuti angka atau tulis serangkai saat terbilang.

Praktis: bila maksudnya menanyakan tujuan, pilih bentuk terpisah agar tulisan jelas dan baku.

Sebelum mengirim tugas, artikel, atau surat, lakukan uji cepat: ganti dengan kata “menuju” atau hapus awalan untuk melihat perubahan makna. Latihan membuat beberapa kalimat tentang anak, perjalanan, atau rumah akan membantu menguatkan aturan penulisan.

FAQ

Apa perbedaan antara "ke mana" dan "kemana"?

Bentuk yang benar untuk menanyakan arah atau tujuan adalah “ke mana” ditulis terpisah, karena “ke” berfungsi sebagai kata depan yang menunjukkan arah atau tempat sedangkan “mana” adalah kata tanya. Bentuk “kemana” sering muncul dalam penulisan tidak baku dan sebaiknya dihindari dalam tulisan formal.

Kapan kata depan "ke" harus ditulis terpisah?

“Ke” ditulis terpisah ketika berfungsi sebagai kata depan diikuti keterangan tempat atau arah, misalnya “ke sekolah”, “ke rumah”, atau “ke pasar”. Jika maknanya menunjuk lokasi atau tujuan, pisahkan “ke” dari kata berikutnya.

Kapan "ke-" harus digabung sebagai awalan?

“Ke-” digabung ke kata dasar saat berfungsi sebagai awalan pembentuk kata, misalnya “kehidupan”, “kebajikan”, atau “kekuasaan”. Pada kondisi ini “ke-” bukan penunjuk tempat tetapi membentuk makna turunan pada kata pokok.

Bagaimana penulisan "ke" untuk menyatakan urutan (ordinal)?

Untuk urutan, “ke-” biasanya dikombinasikan dengan angka atau kata bilangan, contohnya “ke-1” atau “ke-2” pada daftar teknis, dan bentuk kata seperti “kedua” ditulis menyatu. Untuk penulisan formal, gunakan tanda hubung pada notasi numerik atau kata berimbuhan yang lazim ditulis serangkai.

Bagaimana cara membedakan "ke" sebagai kata depan dan "ke-" sebagai imbuhan dengan cepat?

Uji makna: jika kata setelahnya menyatakan tempat atau arah (misalnya sekolah, rumah), berarti kata depan dan tulis terpisah. Jika kata setelahnya membentuk istilah abstrak atau konsep (misalnya kehidupan, kebajikan), maka itu awalan dan tulis serangkai.

Berikan contoh kalimat yang benar menggunakan "ke mana".

Contoh: “Anak itu bertanya ke mana ayahnya pergi.” Kalimat ini menunjukkan arah atau tujuan sehingga “ke” ditulis terpisah dari “mana”.

Berikan contoh penggunaan "ke-" sebagai awalan yang digabung.

Contoh: “Kebudayaan lokal harus dilestarikan.” Di sini “ke-” membentuk kata baru “kebudayaan” dan ditulis serangkai karena bukan penunjuk tempat.

Bagaimana menulis urutan seperti "yang ke-3" atau "ketiga"?

Untuk notasi teknis atau daftar, umum digunakan “ke-3” dengan tanda hubung. Dalam bahasa sehari-hari, gunakan bentuk kata seperti “ketiga” yang ditulis serangkai tanpa tanda hubung.

Apa kesalahan penulisan yang sering ditemui terkait "ke mana" dan "ke-"?

Kesalahan umum meliputi menggabungkan “ke” dan “mana” menjadi “kemana” dalam tulisan formal, serta menulis awalan “ke-” terpisah saat seharusnya digabung. Memahami fungsi kata dalam konteks kalimat membantu menghindari kesalahan ini.

Adakah kiat cepat untuk memastikan penulisan sudah benar sebelum mengirim tulisan?

Periksa apakah kata berikutnya menunjuk tempat/arah atau membentuk konsep. Jika menunjuk tempat/arah, tulis terpisah; jika membentuk istilah, tulis serangkai. Baca ulang kalimat dengan mengganti kata yang bermasalah menjadi frasa tempat untuk melihat apakah makna arah tetap jelas.