Dalam bahasa Indonesia, perbedaan satu huruf saja dapat menimbulkan kebingungan makna dan penulisan. Salah satu contoh yang sering kita jumpai adalah penggunaan kata “putri” dan “puteri”. Kedua bentuk ini kerap digunakan secara bergantian, baik dalam percakapan sehari-hari, karya tulis, maupun dokumen resmi. Namun, muncul pertanyaan penting: manakah penulisan yang benar menurut kaidah bahasa Indonesia?
Artikel ini akan membahas secara mendalam penulisan yang tepat antara putri atau puteri berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sejarah ejaan, kaidah kebahasaan, serta penggunaannya dalam konteks formal dan nonformal. Dengan pemahaman yang utuh, kita dapat menggunakan bahasa Indonesia secara lebih tepat dan bertanggung jawab.
Pengertian Kata Putri dan Puteri
Secara makna, kata putri dan puteri merujuk pada hal yang sama, yaitu anak perempuan dari orang tua tertentu atau perempuan bangsawan dalam konteks kerajaan. Dalam kehidupan sehari-hari, kata ini juga sering digunakan sebagai sapaan, nama diri, maupun simbol keanggunan dan kelembutan.
Namun, meskipun maknanya sama, penulisan yang digunakan dalam bahasa Indonesia baku tidaklah sama. Di sinilah pentingnya memahami standar bahasa yang berlaku.
Penulisan yang Benar Menurut KBBI
Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bentuk kata yang baku secara resmi adalah putri. Kata puteri tidak tercantum sebagai entri utama dalam KBBI dan menjadi bentuk tidak baku.
Putri (Baku)
Putri memiliki arti:
- Anak perempuan
- Anak perempuan raja atau bangsawan
Karena tercantum dalam KBBI, kata putri wajib kita gunakan dalam konteks penulisan resmi seperti:
- Artikel ilmiah
- Berita
- Dokumen pemerintahan
- Buku pelajaran
- Surat resmi
Puteri (Tidak Baku)
Sementara itu, puteri merupakan bentuk lama atau variasi ejaan yang berkembang sebelum adanya penyempurnaan ejaan bahasa Indonesia. Saat ini, kata tersebut tidak dianjurkan untuk digunakan dalam penulisan formal.
Sejarah Perubahan Ejaan dalam Bahasa Indonesia
Untuk memahami mengapa puteri tidak baku, kita perlu meninjau sejarah ejaan bahasa Indonesia. Pada masa lalu, bahasa Indonesia tergantung berbagai sistem ejaan, seperti Ejaan Van Ophuijsen dan Ejaan Soewandi.
Dalam ejaan lama, akhiran -i dan -ie penggunaannya secara bergantian. Oleh karena itu, penulisan puteri pernah dianggap wajar. Namun, setelah diberlakukannya Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) dan kemudian Ejaan Bahasa Indonesia (EBI), penulisan disederhanakan agar lebih konsisten.
Hasilnya, bentuk putri menjadi bentuk baku.
Penggunaan Putri dalam Kalimat
Agar lebih jelas, berikut beberapa contoh penggunaan kata putri dalam kalimat yang benar:
- Ia adalah putri sulung dari keluarga tersebut.
- Kerajaan itu memiliki seorang putri yang terkenal bijaksana.
- Nama anak perempuan itu adalah Putri Ayu.
Dalam semua contoh di atas, penggunaan kata putri sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia baku.
Penggunaan Puteri dalam Praktik Sehari-hari
Meskipun tidak baku, kita masih sering menemukan kata puteri dalam berbagai konteks, seperti:
- Nama sekolah atau lembaga lama
- Judul karya sastra klasik
- Nama merek atau organisasi
Dalam konteks tersebut, penggunaan puteri biasanya cocok karena alasan historis atau identitas nama. Namun, dalam penulisan baru yang bersifat informatif dan resmi, kita tetap dianjurkan menggunakan bentuk baku.
Putri sebagai Nama Diri
Kata Putri juga sangat populer sebagai nama diri perempuan di Indonesia. Dalam penulisan nama, penggunaan huruf kapital dan ejaan baku tetap dianjurkan.
Contoh penulisan yang benar yaitu:
- Putri Maharani
- Putri Aulia Rahma
Penggunaan nama Puteri tetap sah secara administratif jika sudah tercantum dalam dokumen resmi seseorang. Namun, hal tersebut tidak mengubah status kebakuan kata dalam konteks bahasa.
Kesalahan Umum dalam Penulisan Putri atau Puteri
Beberapa kesalahan yang sering kita temui yaitu:
- Menggunakan puteri dalam artikel ilmiah
- Mencampur penggunaan putri dan puteri dalam satu tulisan
- Menganggap keduanya sama-sama baku
Kesalahan-kesalahan tersebut dapat menurunkan kualitas tulisan dan menunjukkan kurangnya ketelitian dalam berbahasa.
Pentingnya Menggunakan Bahasa Baku
Menggunakan bahasa Indonesia yang baku bukan sekadar soal aturan, tetapi juga mencerminkan sikap profesional dan penghargaan terhadap bahasa nasional. Dalam dunia pendidikan, jurnalistik, dan pemerintahan, konsistensi ejaan sangatlah penting.
Dengan menggunakan kata putri secara tepat, kita ikut menjaga standar bahasa Indonesia agar tetap rapi, sistematis, dan mudah dipahami oleh semua kalangan.
Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas, dapat kita simpulkan bahwa penulisan yang benar dan baku adalah “putri”. Kata puteri merupakan bentuk tidak baku yang berasal dari ejaan lama dan tidak dianjurkan digunakan dalam penulisan resmi.
Dengan memahami perbedaan ini, kita dapat menulis dengan lebih cermat, profesional, dan sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Ketepatan berbahasa adalah langkah kecil yang berdampak besar bagi kualitas komunikasi kita.