Penulisan yang Benar Cuman atau Cuma

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar dan menggunakan kata “cuman” atau “cuma” dalam percakapan santai. Ungkapan seperti “Saya cuman mau tanya” atau “Ini cuma contoh” terasa sangat akrab di telinga. Namun, ketika kita menuliskannya dalam konteks formal seperti artikel, karya ilmiah, surat resmi, atau konten profesional muncul pertanyaan penting: manakah penulisan yang benar, “cuman” atau “cuma”?

Pertanyaan ini tampak sederhana, tetapi memiliki implikasi besar dalam ketepatan berbahasa. Dalam artikel ini, kita akan membahas secara komprehensif mengenai bentuk yang benar menurut kaidah bahasa Indonesia, alasan kebahasaan di baliknya, perbedaan fungsi dalam kalimat, serta contoh penggunaannya agar kita dapat menulis dengan lebih percaya diri dan profesional.

Bentuk Baku Menurut Kaidah Bahasa Indonesia

Jika kita merujuk pada kaidah bahasa Indonesia yang berlaku secara resmi, bentuk yang baku adalah “cuma”, bukan “cuman”. Kata “cuma” tercatat dalam kamus bahasa Indonesia sebagai bentuk yang sah dan diakui penggunaannya.

Sementara itu, “cuman” tidak termasuk dalam bentuk baku. Kata tersebut berkembang dari kebiasaan lisan masyarakat dan merupakan bentuk tidak resmi yang lazim digunakan dalam percakapan sehari-hari.

Dengan demikian, dalam konteks penulisan formal, akademik, jurnalistik, maupun profesional, kita dianjurkan untuk menggunakan “cuma”.

Makna dan Fungsi Kata “Cuma”

Secara makna, kata “cuma” memiliki beberapa fungsi utama dalam kalimat, antara lain:

1. Bermakna “Hanya”

Dalam banyak konteks, “cuma” dapat menggantikan kata “hanya”.

Contoh:

  • Kita cuma ingin menyampaikan pendapat.
  • Ia cuma tersenyum tanpa berkata apa-apa.

Dalam contoh di atas, “cuma” berfungsi sebagai penegas pembatasan.

2. Bermakna “Saja”

Kata ini juga dapat digunakan untuk menunjukkan keterbatasan atau jumlah yang sedikit.

  • Uangnya cuma lima ribu rupiah.
  • Waktunya cuma sebentar.

3. Bermakna “Tetapi” atau “Namun” (dalam ragam lisan)

Dalam percakapan santai, “cuma” kadang digunakan sebagai penghubung antarklausa yang bermakna pertentangan ringan.

  • Saya mau ikut, cuma masih ada pekerjaan.

Namun, untuk penulisan formal, sebaiknya kita menggantinya dengan “tetapi” atau “namun”.

Mengapa “Cuman” Tidak Baku?

Bentuk “cuman” muncul karena pengaruh kebiasaan lisan. Dalam percakapan, masyarakat sering menambahkan bunyi /n/ di akhir kata sebagai penekanan atau efek fonetis alami. Fenomena ini umum terjadi dalam bahasa Indonesia lisan.

Contohnya:

  • Aja → Ajan (tidak baku)
  • Sama → Saman (tidak baku)
  • Cuma → Cuman (tidak baku)

Penambahan huruf “n” tersebut tidak memiliki dasar morfologis atau tata bahasa yang sah. Oleh karena itu, dalam bentuk tulis resmi, tambahan tersebut tidak diperlukan dan dianggap tidak baku.

Perbedaan Ragam Lisan dan Ragam Tulis

Untuk memahami perbedaan ini lebih dalam, kita perlu membedakan antara ragam lisan dan ragam tulis dalam bahasa Indonesia.

Ragam Lisan

Ragam lisan bersifat spontan, tidak selalu mengikuti kaidah baku secara ketat, serta dipengaruhi intonasi dan ekspresi. Dalam ragam ini, penggunaan “cuman” masih dapat diterima secara sosial, terutama dalam percakapan santai.

Ragam Tulis

Ragam tulis menuntut ketepatan struktur, pilihan kata, dan kesesuaian dengan standar bahasa. Dalam konteks ini, kita harus menggunakan bentuk baku, yaitu “cuma”.

Kesadaran terhadap perbedaan kedua ragam ini penting agar kita dapat menyesuaikan gaya bahasa sesuai situasi komunikasi.

Kesalahan yang Sering Terjadi dalam Penulisan

Dalam praktiknya, ada beberapa kesalahan umum terkait penggunaan “cuma” dan “cuman”, antara lain:

1. Menggunakan “Cuman” dalam Tulisan Formal

Contoh yang kurang tepat, yaitu:

Kami cuman ingin memberikan informasi.

Perbaikan:

Kami cuma ingin memberikan informasi.

2. Tidak Konsisten dalam Satu Tulisan

Sering kali penulis menggunakan “cuma” di satu bagian dan “cuman” di bagian lain. Ketidakkonsistenan ini dapat menurunkan kredibilitas tulisan.

3. Mengabaikan Alternatif Kata yang Lebih Formal

Dalam konteks resmi, kadang lebih tepat menggunakan kata “hanya” dibanding “cuma”.

Contohnya yaitu:

Alih-alih menulis “Kami cuma ingin menegaskan,” kita dapat menulis “Kami hanya ingin menegaskan.”

Strategi Agar Terbiasa Menggunakan Bentuk Baku

Agar kita terbiasa menggunakan bentuk yang benar, ada beberapa langkah praktis yang dapat dilakukan:

1. Membiasakan Diri Membaca Teks Resmi

Membaca buku, artikel ilmiah, atau berita dari media tepercaya membantu kita mengenali pola bahasa baku.

2. Menggunakan Kamus sebagai Rujukan

Ketika ragu, biasakan memeriksa kata di kamus resmi. Kebiasaan ini akan meningkatkan ketelitian berbahasa.

3. Melakukan Penyuntingan Mandiri

Sebelum memublikasikan tulisan, lakukan pengecekan ulang untuk memastikan tidak ada bentuk tidak baku yang terlewat.

Implikasi Profesional dalam Dunia Digital

Di era digital, ketepatan bahasa berpengaruh besar terhadap citra profesional. Artikel blog, konten media sosial, hingga deskripsi produk mencerminkan kualitas penulisnya.

Penggunaan kata tidak baku seperti “cuman” dalam konteks profesional dapat menimbulkan kesan kurang teliti. Sebaliknya, penggunaan bentuk baku menunjukkan kredibilitas dan pemahaman terhadap kaidah bahasa.

Oleh karena itu, bagi kita yang berkecimpung dalam dunia penulisan, pendidikan, atau pemasaran digital, konsistensi penggunaan bahasa baku adalah investasi reputasi jangka panjang.

Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan di atas, dapat kita simpulkan bahwa bentuk penulisan yang benar dan baku adalah “cuma”. Sementara itu, “cuman” merupakan bentuk tidak baku yang berkembang dalam ragam lisan dan sebaiknya dihindari dalam tulisan formal.

Memahami perbedaan ini bukan sekadar soal ejaan, melainkan bagian dari upaya kita menjaga kualitas komunikasi tertulis. Dengan menggunakan bentuk yang tepat, kita menunjukkan sikap profesional, cermat, dan menghargai kaidah bahasa Indonesia.

Jadi mulai sekarang, mari kita biasakan menulis “cuma” dalam konteks resmi dan menggunakan variasi kata yang lebih formal seperti “hanya” jika diperlukan. Bahasa yang baik bukan hanya soal kebiasaan, tetapi juga soal kesadaran.

Tinggalkan komentar