Penulisan yang Benar Sukur atau Syukur

Dalam praktik berbahasa sehari-hari, kita sering menjumpai variasi penulisan kata yang sebenarnya merujuk pada makna yang sama. Salah satu yang cukup sering muncul adalah perdebatan mengenai penulisan “sukur” atau “syukur”. Sekilas, keduanya tampak serupa dan terdengar sama ketika diucapkan. Namun, jika kita merujuk pada kaidah bahasa Indonesia yang baku, hanya satu bentuk yang dinyatakan benar.

Melalui artikel ini, kita akan membahas secara komprehensif mengenai bentuk yang tepat menurut kaidah, latar belakang sejarah kata, pengaruh bahasa asing, hingga kesalahan umum yang kerap terjadi. Dengan pemahaman yang baik, kita tidak hanya mengetahui mana yang benar, tetapi juga memahami alasan kebahasaan di baliknya.

Bentuk yang Baku: Syukur

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bentuk yang benar dan baku adalah syukur. Kata ini memiliki beberapa makna, di antaranya:

  • Rasa terima kasih kepada Tuhan.
  • Kelegaan atau perasaan puas karena terhindar dari kesulitan.
  • Ucapan yang menyatakan rasa terima kasih.

Contoh penggunaan dalam kalimat:

  • Kita patut bersyukur atas kesehatan yang diberikan Tuhan.
  • Syukur alhamdulillah, acara berjalan lancar.
  • Ia mengungkapkan rasa syukur atas keberhasilannya.

Sementara itu, bentuk “sukur” tidak tercatat sebagai bentuk baku dalam KBBI. Penulisan tersebut dianggap sebagai variasi tidak baku yang muncul akibat penyederhanaan bunyi dalam percakapan sehari-hari.

Asal-Usul Kata Syukur

Kata “syukur” berasal dari bahasa Arab شكر (syukr), yang berarti berterima kasih atau mengakui kebaikan. Dalam bahasa Arab, bunyi “sy” melambangkan konsonan gabungan yang berbeda dari bunyi “s” biasa.

Ketika kata ini diserap ke dalam bahasa Indonesia, ejaannya tetap mempertahankan bentuk “sy” untuk mewakili bunyi aslinya. Hal ini selaras dengan sistem transliterasi dan penyerapan kosakata Arab ke dalam bahasa Indonesia.

Karena itu, perubahan dari “syukur” menjadi “sukur” menghilangkan unsur fonetik penting yang menjadi bagian dari asal-usul katanya.

Mengapa Banyak Orang Menulis “Sukur”?

Fenomena penulisan “sukur” umumnya dipengaruhi oleh beberapa faktor berikut:

1. Penyederhanaan Pengucapan

Dalam percakapan santai, bunyi “sy” sering terdengar seperti “s” biasa. Akibatnya, banyak orang mengira penulisannya cukup menggunakan huruf “s”.

2. Kurangnya Pemahaman Ejaan Baku

Tidak semua penutur bahasa Indonesia terbiasa memeriksa ejaan berdasarkan KBBI atau Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Akibatnya, penulisan didasarkan pada kebiasaan lisan.

3. Pengaruh Media Sosial

Di media sosial, penulisan sering kali bersifat informal. Banyak pengguna menulis secara cepat tanpa memperhatikan kaidah baku. Bentuk “sukur” pun menjadi semakin lazim terlihat, meskipun tetap tidak baku.

Perbedaan Bunyi “S” dan “Sy”

Dalam sistem fonologi bahasa Indonesia, “s” dan “sy” merupakan dua bunyi yang berbeda:

  • S: Bunyi desis seperti pada kata “sapu”, “sakit”, atau “sore”.
  • Sy: Bunyi geser palatal seperti pada kata “syarat”, “syair”, dan “syukur”.

Perbedaan ini bukan sekadar variasi huruf, melainkan perbedaan fonem. Artinya, perubahan dari “sy” menjadi “s” dapat mengubah identitas kata tersebut.

Kata-Kata Serapan Arab dengan “Sy”

Untuk memperluas pemahaman kita, berikut beberapa contoh kata serapan dari bahasa Arab yang mempertahankan bentuk “sy”:

  • Syariat
  • Syarat
  • Syahadat
  • Syair
  • Isyarat
  • Masyrik

Kita tidak menuliskannya sebagai “sariat”, “sarat”, atau “sair” dalam bentuk baku. Pola ini menunjukkan konsistensi penulisan dalam bahasa Indonesia.

Bentuk Turunan Kata Syukur

Kata “syukur” juga memiliki sejumlah bentuk turunan yang tetap mempertahankan unsur “sy”, seperti:

  • Bersyukur: Mengucapkan atau merasakan syukur.
  • Menyukuri: Menghargai dengan penuh rasa terima kasih.
  • Kesyukuran: Rasa syukur.

Contoh kalimat:

  • Kita harus bersyukur atas setiap nikmat yang diterima.
  • Ia belajar menyukuri hal-hal kecil dalam hidup.
  • Perayaan itu menjadi wujud kesyukuran masyarakat.

Jika kita menggunakan bentuk “sukur”, maka turunan katanya pun menjadi tidak sesuai dengan kaidah baku.

Pentingnya Menggunakan Ejaan yang Tepat

Mungkin ada yang beranggapan bahwa perbedaan “sukur” dan “syukur” hanyalah masalah kecil. Namun dalam konteks akademik, profesional, dan formal, ketepatan ejaan mencerminkan kredibilitas penulis.

1. Menjaga Profesionalisme

Dalam penulisan ilmiah, laporan resmi, atau karya jurnalistik, penggunaan ejaan baku menunjukkan kompetensi bahasa yang baik.

2. Menghindari Kesalahpahaman

Walaupun maknanya tetap kita pahami, bentuk tidak baku dapat menimbulkan kesan kurang cermat.

3. Melestarikan Kaidah Bahasa

Bahasa Indonesia memiliki pedoman resmi yang menjadi rujukan bersama. Dengan mengikuti kaidah tersebut, kita turut menjaga konsistensi bahasa nasional.

Syukur dalam Perspektif Makna

Secara semantik, “syukur” bukan sekadar kata, melainkan konsep nilai. Dalam konteks religius, syukur adalah bentuk pengakuan atas nikmat Tuhan. Dalam konteks sosial, syukur mencerminkan sikap positif terhadap kehidupan.

Menariknya, dalam budaya Indonesia, kata “syukur” sering digabungkan dengan ungkapan lain seperti “alhamdulillah” atau “puji syukur”. Hal ini menunjukkan bahwa kata tersebut telah terintegrasi kuat dalam kehidupan masyarakat.

Kesalahan yang Mirip: Fenomena Serupa

Kasus “sukur” dan “syukur” bukanlah satu-satunya contoh kesalahan akibat penghilangan “y” setelah “s”. Kita juga menemukan bentuk tidak baku seperti:

  • Sarat (untuk syarat)
  • Sahadat (untuk syahadat)
  • Sair (untuk syair)

Pola ini memperlihatkan bahwa bunyi “sy” memang rentan disederhanakan dalam praktik lisan, tetapi tetap harus ditulis sesuai kaidah dalam konteks formal.

Bagaimana Cara Membiasakan Penulisan yang Benar?

Untuk membiasakan diri menulis “syukur” dengan benar, kita dapat melakukan beberapa langkah berikut:

1. Membiasakan Mengecek KBBI

Sebelum memublikasikan tulisan, biasakan memeriksa ejaan kata yang meragukan.

2. Membaca Teks Berkualitas

Membaca buku, artikel ilmiah, atau media arus utama membantu kita menyerap bentuk bahasa yang benar.

3. Konsisten dalam Penulisan Formal

Gunakan bentuk baku dalam dokumen resmi, tugas akademik, maupun karya profesional.

Kesimpulan

Berdasarkan kaidah bahasa Indonesia yang berlaku, penulisan yang benar adalah syukur, bukan “sukur”. Bentuk “syukur” sesuai dengan entri dalam KBBI dan mempertahankan asal-usul katanya dari bahasa Arab.

Walaupun dalam percakapan sehari-hari kita mungkin sering mendengar bunyi yang menyerupai “sukur”, penulisan formal tetap harus mengikuti ejaan baku. Dengan memahami perbedaan ini, kita tidak hanya memperbaiki kesalahan kecil, tetapi juga menunjukkan kepedulian terhadap ketepatan berbahasa.

Pada akhirnya, menggunakan bentuk “syukur” yang benar adalah bagian dari tanggung jawab kita sebagai penutur bahasa Indonesia. Dengan sikap teliti dan konsisten, kita turut menjaga mutu bahasa dalam ruang publik maupun pribadi.

Tinggalkan komentar