Penulisan yang Benar Azan atau Adzan

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menjumpai perbedaan penulisan kata azan dan adzan. Perbedaan ini kerap menimbulkan kebingungan, terutama dalam penulisan artikel, karya ilmiah, buku pelajaran, hingga konten digital bernuansa keislaman. Pertanyaannya, penulisan yang benar menurut kaidah bahasa Indonesia adalah azan atau adzan?

Artikel ini akan membahas secara lengkap dan mendalam mengenai penulisan yang benar antara azan dan adzan, ditinjau dari sudut pandang bahasa, sejarah, kaidah transliterasi Arab–Latin, serta penggunaannya dalam konteks keagamaan dan kebahasaan modern. Dengan memahami pembahasan ini, kita dapat menggunakan istilah yang tepat, baku, dan sesuai standar.

Pengertian Azan dalam Islam

Azan adalah panggilan resmi dalam Islam yang menandakan masuknya waktu salat fardu. Lafaz azan dikumandangkan oleh seorang muazin dari masjid atau musala dengan susunan kalimat tertentu yang telah ditetapkan dalam syariat Islam.

Secara makna, azan bukan hanya sekadar panggilan ibadah, tetapi juga simbol pengingat, penanda waktu, dan sarana dakwah. Ketika azan dikumandangkan, kita diajak untuk menghentikan aktivitas duniawi dan bersiap melaksanakan kewajiban kepada Allah Swt.

Asal Kata Azan dari Bahasa Arab

Kata azan berasal dari bahasa Arab أَذَانٌ (adhān) yang bermakna “pemberitahuan” atau “pengumuman”. Dalam konteks Islam, makna ini menjadi pemberitahuan masuknya waktu salat.

Huruf yang menjadi sumber perbedaan penulisan adalah huruf ذ (dzal). Huruf ini tidak sepenuhnya sama dengan huruf “z” atau “d” dalam bahasa Indonesia, sehingga memunculkan variasi penulisan ketika terserap ke dalam bahasa Indonesia.

Perbedaan Penulisan Azan dan Adzan

Azan

Penulisan azan merupakan bentuk yang telah sesuai dengan kaidah ejaan bahasa Indonesia. Bentuk ini menyederhanakan ejaan agar mudah ditulis, diucapkan, dan dipahami oleh penutur bahasa Indonesia.

Adzan

Penulisan adzan lebih mendekati transliterasi langsung dari bahasa Arab, di mana huruf ذ sebagai “dz”. Jadi, penulisan ini umum ada dalam kitab keislaman, buku terjemahan, dan lingkungan pendidikan agama.

Penulisan yang Benar Menurut KBBI

Jika kita merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bentuk kata yang tercatat secara resmi dan baku adalah azan, bukan adzan.

Dalam KBBI, azan diartikan sebagai seruan atau panggilan untuk mengajak umat Islam melaksanakan salat pada waktu yang telah ditentukan. Dengan demikian, dalam penulisan formal dan akademik, penggunaan kata azan sangat bagus.

Mengapa Kata Adzan Masih Banyak Digunakan?

Meskipun azan telah tercatat sebagai bentuk baku, kita masih sering menemukan penggunaan kata adzan. Hal ini terjadi karena beberapa faktor berikut.

Pengaruh Transliterasi Bahasa Arab

Banyak literatur Islam menggunakan sistem transliterasi Arab–Latin yang mempertahankan huruf “dz” untuk mewakili huruf ذ. Dari sinilah kata adzan menjadi populer dan terus kita gunakan.

Kebiasaan dalam Lingkungan Keagamaan

Dalam lingkungan pesantren, majelis taklim, dan ceramah agama, penulisan adzan terlihat lebih dekat dengan bahasa Arab sehingga terasa lebih religius.

Kurangnya Pemahaman Ejaan Baku

Tidak semua pengguna bahasa mengetahui bahwa KBBI telah menetapkan azan sebagai ejaan baku. Akibatnya, kata adzan tetap kita gunakan tanpa mempertimbangkan kaidah bahasa Indonesia.

Azan sebagai Kata Serapan Bahasa Indonesia

Dalam bahasa Indonesia, banyak kata serapan dari bahasa Arab yang mengalami penyesuaian ejaan. Penyesuaian ini bertujuan agar kata tersebut sesuai dengan sistem fonologi dan ortografi bahasa Indonesia.

Contoh penyesuaian serupa antara lain:

  • Salat (bukan shalat)
  • Zakat
  • Ramadan (bukan Ramadhan)

Dalam konteks ini, azan mengikuti prinsip yang sama, yaitu penyederhanaan ejaan tanpa mengubah makna aslinya.

Penggunaan Azan dalam Penulisan Resmi

Dalam penulisan resmi seperti buku pelajaran, artikel ilmiah, jurnal akademik, media massa, dan dokumen pemerintahan, kita sebaiknya menggunakan kata azan karena telah sesuai dengan standar bahasa Indonesia.

Penggunaan kata adzan masih dapat dijumpai dalam tulisan nonformal atau keagamaan, tetapi tidak dianjurkan untuk penulisan yang bersifat resmi dan edukatif.

Pelafalan Azan dalam Ibadah

Meskipun ejaannya lebih sederhana menjadi azan, pelafalan lafaz azan tetap harus mengikuti makhraj huruf Arab yang benar. Huruf ذ tetap dilafalkan sesuai kaidah tajwid ketika azan dikumandangkan.

Dengan demikian, perbedaan ejaan tidak memengaruhi keabsahan azan sebagai bagian dari ibadah.

Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan di atas, dapat kita simpulkan bahwa azan adalah penulisan yang benar dan baku menurut KBBI, sedangkan adzan merupakan bentuk transliterasi yang tidak termasuk ejaan baku bahasa Indonesia.

Oleh karena itu, dalam penulisan formal dan edukatif, kita harus menggunakan kata azan. Pemahaman ini penting agar kita dapat menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar tanpa menghilangkan nilai keislaman yang terkandung di dalamnya.