Penulisan yang Benar Menyucikan atau Mensucikan

Dalam praktik berbahasa Indonesia, kita sering menjumpai kata-kata yang terdengar benar secara lisan, tetapi ternyata tidak sesuai dengan kaidah kebahasaan ketika dituliskan. Salah satu contoh yang cukup sering menimbulkan kebingungan adalah penulisan kata menyucikan atau mensucikan.

Kedua bentuk ini terdengar mirip dan memiliki makna yang sama secara sekilas. Namun, jika kita mengacu pada kaidah pembentukan kata dalam bahasa Indonesia, hanya satu bentuk yang dinyatakan benar dan baku. Kesalahan kecil seperti ini sering muncul dalam artikel, karya tulis, hingga konten digital, padahal ketepatan bahasa sangat memengaruhi kualitas tulisan.

Melalui artikel ini, kita akan membahas secara menyeluruh penulisan yang benar antara menyucikan dan mensucikan, mulai dari kata dasar, aturan imbuhan, contoh penggunaan, hingga relevansinya dalam konteks penulisan profesional dan digital.

Memahami Kata Dasar “Suci”

Untuk menentukan bentuk kata yang tepat, kita perlu memahami kata dasarnya terlebih dahulu. Kata suci merupakan kata sifat yang berarti bersih, murni, tidak tercemar, atau bebas dari noda, baik secara fisik maupun maknawi.

Kata ini sering digunakan dalam berbagai konteks, terutama yang berkaitan dengan nilai keagamaan, moral, dan budaya. Beberapa contoh penggunaan kata suci antara lain air suci, tempat suci, niat suci, dan hati yang suci.

Dari kata dasar inilah terbentuk kata turunan berupa kata kerja yang menyatakan suatu tindakan, yaitu tindakan menjadikan sesuatu bersih atau murni.

Proses Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia memiliki sistem pembentukan kata yang teratur melalui proses afiksasi. Afiksasi merupakan proses penambahan imbuhan, baik awalan, akhiran, sisipan, maupun gabungan imbuhan, untuk membentuk makna baru.

Dalam kasus kata menyucikan, imbuhan yang digunakan adalah awalan meN- dan akhiran -kan.

Fungsi Awalan meN-

Awalan meN- berfungsi untuk membentuk kata kerja aktif. Awalan ini tidak selalu muncul dalam bentuk yang sama karena mengalami perubahan sesuai dengan huruf awal kata dasar yang mengikutinya.

Bentuk awalan meN- dapat berubah menjadi:

  • me-
  • mem-
  • men-
  • meny-
  • meng-

Perubahan ini bertujuan untuk memudahkan pengucapan dan menjaga kelancaran bunyi dalam bahasa Indonesia.

Aturan Awalan meN- Bertemu Huruf “S”

Salah satu aturan penting dalam pembentukan kata adalah ketika awalan meN- bertemu dengan kata dasar yang diawali huruf s. Dalam kondisi ini, huruf s pada kata dasar akan luluh atau dihilangkan.

Awalan meN- kemudian berubah menjadi meny-. Aturan ini bersifat konsisten dan berlaku pada banyak kata dalam bahasa Indonesia.

Contoh Penerapan Aturan

  • meN- + sapu → menyapu
  • meN- + sebut → menyebut
  • meN- + susun → menyusun
  • meN- + suci → menyucikan

Dari contoh tersebut, terlihat jelas bahwa huruf s pada kata dasar tidak dipertahankan setelah mendapat awalan meN-.

Penulisan yang Benar: Menyucikan

Berdasarkan kaidah pembentukan kata dalam bahasa Indonesia, bentuk yang benar, baku, dan sesuai standar adalah menyucikan.

Proses pembentukannya dapat kita uraikan sebagai berikut:

  • Kata dasar: suci
  • Awalan: meN-
  • Huruf awal kata dasar: s
  • Huruf s luluh
  • Awalan berubah menjadi meny-
  • Akhiran: -kan

Dari proses tersebut terbentuklah kata menyucikan. Bentuk inilah yang diakui sebagai kata baku dan dianjurkan untuk digunakan dalam tulisan resmi.

Mengapa “Mensucikan” Dianggap Tidak Baku

Bentuk mensucikan sering muncul karena pengaruh kebiasaan lisan atau asumsi bahwa awalan men- dapat langsung kita tambahkan ke semua kata. Padahal, secara morfologis, bentuk tersebut tidak sesuai dengan aturan peluluhan huruf.

Huruf s pada kata suci seharusnya luluh setelah mendapat awalan meN-. Oleh karena itu, mempertahankan huruf s dalam bentuk mensucikan menjadikannya tidak baku.

Contoh Kalimat dengan Kata “Menyucikan”

Berikut beberapa contoh penggunaan kata menyucikan yang benar dalam kalimat:

  • Kita perlu menyucikan hati sebelum memulai ibadah.
  • Air tersebut digunakan untuk menyucikan diri dari hadas.
  • Ritual adat itu bertujuan menyucikan lingkungan sekitar.
  • Proses menyucikan jiwa memerlukan kesadaran dan ketulusan.

Kalimat-kalimat tersebut menunjukkan penggunaan kata kerja aktif yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.

Perbedaan Menyucikan dan Penyucian

Selain kata menyucikan, kita juga sering menjumpai kata penyucian. Keduanya berasal dari kata dasar yang sama, tetapi memiliki fungsi gramatikal yang berbeda.

Menyucikan

  • Berfungsi sebagai kata kerja
  • Menyatakan tindakan
  • Contoh: Kita menyucikan diri sebelum berdoa.

Penyucian

  • Berfungsi sebagai kata benda
  • Menyatakan proses atau hasil
  • Contoh: Proses penyucian dilakukan secara simbolis.

Jadi, memahami perbedaan ini membantu kita menyusun kalimat yang lebih tepat dan variatif.

Pentingnya Ketepatan Bahasa dalam Konten Digital

Dalam dunia digital, ketepatan penggunaan bahasa menjadi salah satu indikator kualitas konten. Mesin pencari seperti Google semakin mengutamakan artikel yang informatif, akurat, dan ditulis dengan bahasa yang baik.

Dengan menggunakan bentuk baku seperti menyucikan, kita menunjukkan bahwa konten harus kita buat dengan memperhatikan kaidah bahasa. Terlebih, hal ini berpengaruh positif terhadap kredibilitas situs dan mendukung proses peninjauan Google AdSense.

Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa penulisan yang benar dan baku adalah menyucikan, bukan mensucikan. Bentuk menyucikan sesuai dengan aturan pembentukan kata dalam bahasa Indonesia, khususnya kaidah peluluhan huruf s setelah awalan meN-.

Memahami perbedaan ini membantu kita meningkatkan kualitas tulisan, baik dalam konteks akademik, profesional, maupun digital. Jadi, dengan menggunakan bahasa yang tepat, kita turut menjaga kelestarian dan ketertiban bahasa Indonesia.