Penulisan yang Benar Cendikiawan atau Cendekiawan

Dalam praktik berbahasa Indonesia, kita kerap menjumpai dua bentuk penulisan yang terlihat mirip tetapi sebenarnya tidak setara secara kaidah, yaitu cendikiawan dan cendekiawan. Kedua bentuk ini sering muncul dalam artikel ilmiah, opini media massa, karya tulis akademik, hingga konten digital. Sayangnya, masih banyak penulis yang belum menyadari bahwa hanya salah satu di antaranya yang dianggap baku.

Kesalahan ejaan seperti ini tampak sepele, tetapi dapat memengaruhi kredibilitas tulisan. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami penulisan yang benar, alasan kebakuannya, serta konteks penggunaan kata cendekiawan dalam bahasa Indonesia yang sesuai kaidah.

Pengertian Cendekiawan dalam Bahasa Indonesia

Secara umum, cendekiawan merujuk pada seseorang yang memiliki kecerdasan intelektual tinggi, wawasan luas, serta kemampuan berpikir kritis dan analitis. Seorang cendekiawan tidak hanya berpengetahuan, tetapi juga mampu memberikan kontribusi pemikiran bagi masyarakat.

Dalam kehidupan sosial dan akademik, cendekiawan sering diasosiasikan dengan tokoh-tokoh pemikir, akademisi, ilmuwan, atau intelektual publik. Mereka berperan penting dalam membangun peradaban melalui gagasan, kritik, dan solusi yang rasional.

Asal Usul Kata Cendekiawan

Untuk memahami penulisan yang benar, kita perlu menelusuri asal-usul katanya. Kata cendekiawan berasal dari kata dasar cendekia, yang berarti cerdas, pandai, atau berakal. Kata ini kemudian mendapat akhiran -wan, yang dalam bahasa Indonesia berfungsi untuk menunjukkan orang yang memiliki sifat, keahlian, atau peran tertentu.

Pola Pembentukan Kata dengan Akhiran -wan

Dalam bahasa Indonesia, akhiran -wan lazim digunakan untuk membentuk nomina yang merujuk pada pelaku atau pemilik karakteristik tertentu. Contohnya:

  • ilmuwan
  • negarawan
  • sastrawan
  • budayawan

Dengan pola yang sama, bentuk cendekia + wan menghasilkan kata cendekiawan. Tidak ada proses morfologis yang membenarkan bentuk cendikiawan.

Cendikiawan atau Cendekiawan: Mana yang Baku?

Bentuk yang Benar Menurut Kaidah Bahasa

Berdasarkan kaidah bahasa Indonesia yang baku, penulisan yang benar adalah cendekiawan. Sementara itu, cendikiawan termasuk bentuk tidak baku yang muncul akibat kesalahan pelafalan dan kebiasaan berbahasa lisan.

Dalam bahasa tulis formal, ketepatan ejaan menjadi keharusan. Oleh sebab itu, penggunaan bentuk tidak baku sebaiknya dihindari.

Rujukan Kamus dan Pedoman Resmi

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) hanya mencantumkan kata cendekiawan sebagai lema resmi. Ketiadaan kata cendikiawan dalam kamus menegaskan bahwa bentuk tersebut tidak diakui sebagai bentuk baku.

Kesalahan Umum dalam Penulisan Kata Cendekiawan

Pengaruh Bahasa Lisan

Kesalahan penulisan cendikiawan umumnya dipicu oleh bahasa lisan. Dalam pengucapan sehari-hari, bunyi vokal e sering terdengar samar, sehingga sebagian penutur keliru menuliskannya sebagai i.

Penyebaran Kesalahan di Media Digital

Di era digital, satu kesalahan ejaan dapat dengan cepat menyebar. Ketika sebuah artikel menggunakan bentuk yang salah, artikel lain kerap menirunya tanpa proses verifikasi. Akibatnya, kesalahan tersebut tampak seolah-olah benar.

Pentingnya Menggunakan Kata Baku dalam Tulisan

Meningkatkan Kredibilitas Penulis

Penggunaan bahasa baku mencerminkan profesionalisme dan ketelitian penulis. Tulisan yang rapi secara ejaan akan lebih dipercaya oleh pembaca, khususnya dalam konteks akademik dan edukatif.

Menjaga Konsistensi Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia memiliki sistem yang teratur. Dengan menggunakan kata baku seperti cendekiawan, kita turut menjaga konsistensi dan kualitas bahasa sebagai sarana komunikasi ilmiah.

Contoh Penggunaan Kata Cendekiawan yang Tepat

  • Para cendekiawan berperan penting dalam merumuskan arah pembangunan bangsa.
  • Seorang cendekiawan tidak hanya menguasai ilmu, tetapi juga memiliki kepekaan sosial.
  • Forum ini menghadirkan cendekiawan dari berbagai disiplin ilmu.

Peran Cendekiawan dalam Kehidupan Masyarakat

Agen Perubahan Sosial

Cendekiawan sering menjadi motor penggerak perubahan sosial melalui gagasan kritis dan pendekatan ilmiah terhadap berbagai persoalan masyarakat.

Penjaga Nalar Publik

Di tengah maraknya informasi keliru, cendekiawan berperan menjaga rasionalitas publik dengan menyajikan pandangan berbasis data dan logika.

Penghubung Ilmu dan Realitas

Cendekiawan menjembatani teori akademik dengan praktik nyata agar ilmu pengetahuan memberi manfaat langsung bagi kehidupan sosial.

Kesimpulan

Perbedaan antara cendikiawan dan cendekiawan bukan sekadar persoalan huruf, melainkan persoalan kaidah bahasa. Bentuk yang benar dan baku adalah cendekiawan, sedangkan cendikiawan sebaiknya tidak digunakan dalam tulisan formal.

Dengan memahami aturan bahasa dan membiasakan diri menggunakan rujukan resmi, kita dapat menghasilkan tulisan yang lebih berkualitas, kredibel, dan sesuai dengan standar bahasa Indonesia.