Penulisan yang Benar Dipersilahkan atau Dipersilakan

Dalam komunikasi tulis berbahasa Indonesia, kita sering menjumpai bentuk kata yang sekilas tampak benar, terdengar sopan, dan lazim digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu contoh yang kerap menimbulkan kebingungan adalah penulisan “dipersilahkan” dan “dipersilakan”. Kedua bentuk ini sering dipakai secara bergantian, baik dalam surat resmi, pengumuman, media daring, hingga percakapan tertulis di media sosial.

Namun, apakah kedua bentuk tersebut sama-sama benar menurut kaidah bahasa Indonesia baku? Ataukah hanya salah satunya yang sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI)? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu memahami struktur kata, proses pembentukan kata, serta kaidah morfologi bahasa Indonesia secara menyeluruh.

Melalui artikel ini, kita akan membahas secara mendalam perbedaan dipersilahkan dan dipersilakan, penulisan yang benar menurut kaidah kebahasaan, alasan kesalahan yang sering terjadi, serta contoh penggunaan yang tepat dalam berbagai konteks.

Makna Dasar Kata “Silakan” dalam Bahasa Indonesia

Sebelum membahas bentuk turunan seperti dipersilakan, kita perlu memahami makna dasar kata silakan. Kata silakan merupakan bentuk verba yang digunakan untuk mempersilakan seseorang melakukan sesuatu. Kata ini memiliki nuansa sopan, santun, dan sering digunakan dalam situasi formal maupun semi formal.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), silakan diartikan sebagai ungkapan untuk mempersilakan atau memohon dengan sopan. Dengan demikian, kata ini sudah mengandung makna kesantunan tanpa perlu tambahan unsur lain.

Proses Pembentukan Kata “Dipersilakan”

Penggunaan Awalan dan Akhiran

Bentuk dipersilakan terbentuk dari kata dasar silakan yang mendapat imbuhan berupa awalan di- dan akhiran -kan. Dalam proses morfologis bahasa Indonesia, imbuhan di- berfungsi membentuk verba pasif.

Struktur pembentukannya adalah sebagai berikut:

  • silakan (kata dasar)
  • di- + silakan → dipersilakan

Bentuk ini secara gramatikal sudah lengkap dan sesuai dengan pola pembentukan kata kerja pasif dalam bahasa Indonesia. Oleh karena itu, dipersilakan merupakan bentuk yang benar dan baku.

Makna Gramatikal “Dipersilakan”

Kata dipersilakan bermakna “diberi izin dengan sopan untuk melakukan sesuatu”. Bentuk ini lazim digunakan dalam kalimat pasif, seperti pada pengumuman, instruksi, atau pernyataan resmi.

Contohnya:

  • Tamu undangan dipersilakan memasuki ruangan.
  • Peserta rapat dipersilakan mengambil tempat duduk.

Mengapa “Dipersilahkan” Dianggap Tidak Baku?

Kesalahan Penambahan Akhiran “-kan”

Bentuk dipersilahkan sering muncul karena pengaruh kebiasaan lisan. Banyak penutur bahasa Indonesia menganggap bahwa menambahkan unsur -h- akan membuat kata terdengar lebih sopan atau lebih halus. Padahal, secara morfologis, kata dasar silakan tidak mengandung unsur -h-.

Jika kita telusuri, tidak ada proses pembentukan kata dalam bahasa Indonesia yang membenarkan penambahan huruf h pada kata silakan. Akibatnya, bentuk dipersilahkan tidak memiliki dasar kaidah yang sah.

Tidak Terdaftar dalam KBBI

Dalam KBBI sebagai rujukan utama bahasa Indonesia baku, bentuk dipersilahkan tidak ditemukan. Yang tercantum dan diakui hanyalah bentuk dipersilakan. Hal ini menjadi indikator kuat bahwa dipersilahkan merupakan bentuk tidak baku.

Faktor Kebiasaan yang Menyebabkan Kekeliruan

Pengaruh Bahasa Lisan

Dalam percakapan sehari-hari, kita sering mendengar orang mengucapkan “dipersilahkan” karena terdengar lebih lembut. Bahasa lisan memang cenderung fleksibel dan tidak selalu mengikuti kaidah baku. Namun, ketika bahasa tersebut dipindahkan ke bentuk tulis resmi, kaidah tetap harus menjadi acuan utama.

Kurangnya Kesadaran terhadap Kaidah Bahasa

Banyak penulis pemula atau pengelola situs daring belum sepenuhnya memahami pentingnya penggunaan bahasa baku. Akibatnya, kesalahan yang sebenarnya sederhana justru terus berulang dan dianggap sebagai hal yang wajar.

Contoh Penggunaan yang Benar dan Salah

Contoh Kalimat yang Benar

  • Para hadirin dipersilakan berdiri untuk menyanyikan lagu kebangsaan.
  • Pengunjung dipersilakan mengisi buku tamu sebelum masuk.
  • Mahasiswa dipersilakan mengajukan pertanyaan setelah pemaparan materi.

Contoh Kalimat yang Salah

  • Para tamu dipersilahkan memasuki aula. ❌
  • Peserta dipersilahkan menunggu di ruang tunggu. ❌

Kesalahan pada contoh di atas terletak pada penggunaan bentuk dipersilahkan yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia baku.

Pentingnya Menggunakan Bentuk Baku dalam Tulisan Resmi

Dalam konteks tulisan formal seperti artikel edukatif, dokumen resmi, pengumuman, dan konten digital profesional, penggunaan bahasa baku memiliki peran penting. Bahasa yang tepat tidak hanya mencerminkan kompetensi penulis, tetapi juga meningkatkan kredibilitas media yang mempublikasikannya.

Bagi kita yang mengelola situs web atau blog, konsistensi penggunaan bahasa baku akan membantu membangun kepercayaan pembaca. Selain itu, penggunaan ejaan yang benar juga memudahkan mesin pencari memahami konten, sehingga berdampak positif pada kualitas keseluruhan tulisan.

Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan di atas, dapat kita simpulkan bahwa penulisan yang benar dan baku adalah “dipersilakan”, bukan dipersilahkan. Bentuk dipersilakan sesuai dengan kaidah pembentukan kata dalam bahasa Indonesia dan diakui dalam KBBI.

Sementara itu, dipersilahkan muncul akibat kebiasaan lisan dan anggapan keliru bahwa penambahan huruf tertentu dapat memperhalus makna kata. Dalam penulisan resmi dan profesional, bentuk tersebut sebaiknya dihindari.

Dengan memahami perbedaan ini, kita dapat menggunakan bahasa Indonesia secara lebih tepat, cermat, dan sesuai dengan kaidah. Pada akhirnya, ketepatan berbahasa bukan sekadar soal benar atau salah, melainkan juga bentuk tanggung jawab kita dalam menjaga mutu bahasa Indonesia.