Penulisan yang Benar Empiris atau Empirik

Dalam penulisan ilmiah, akademik, maupun artikel edukatif, kita sering menemukan dua bentuk kata yang tampak serupa, yaitu empiris dan empirik. Banyak penulis menggunakan kedua istilah tersebut secara bergantian tanpa mempertimbangkan kaidah bahasa Indonesia yang berlaku. Akibatnya, kekeliruan penulisan sering muncul, terutama dalam karya tulis formal.

Padahal, ketepatan penggunaan kata memiliki peran penting dalam menjaga kualitas tulisan. Oleh karena itu, kita perlu memahami secara mendalam penulisan yang benar antara empiris dan empirik. Artikel ini membahas perbedaan keduanya secara komprehensif agar kita dapat menulis dengan lebih tepat, konsisten, dan profesional.

Pengertian Empiris dan Empirik

Sebelum menentukan bentuk penulisan yang benar, kita perlu memahami makna dari kedua istilah tersebut. Pemahaman makna akan membantu kita menggunakan kata secara tepat sesuai konteks.

Pengertian Empiris

Kata empiris merujuk pada sesuatu yang bersumber dari pengalaman nyata, pengamatan langsung, atau hasil penelitian lapangan. Dalam dunia ilmu pengetahuan, istilah ini sering digunakan untuk menjelaskan pendekatan atau data yang berasal dari fakta yang dapat diverifikasi.

Para peneliti menggunakan istilah empiris untuk menegaskan bahwa suatu kesimpulan lahir dari proses pengamatan dan pengujian, bukan sekadar asumsi atau spekulasi.

Contoh penggunaan kata empiris:

  • Penelitian ini menggunakan data empiris sebagai dasar analisis.
  • Teori tersebut memiliki dukungan empiris yang kuat.

Pengertian Empirik

Kata empirik memiliki makna yang sama dengan empiris, yaitu berkaitan dengan pengalaman dan pengamatan langsung. Namun, perbedaan utama terletak pada status kebahasaannya. Kita sering menjumpai kata empirik dalam percakapan sehari-hari atau tulisan nonformal.

Walaupun masyarakat memahami kata ini, kita tidak dianjurkan menggunakannya dalam penulisan resmi karena bahasa Indonesia telah menetapkan bentuk bakunya.

Asal-Usul Kata Empiris

Kata empiris berasal dari bahasa Yunani empeiria yang berarti pengalaman. Bahasa Inggris kemudian menyerap istilah tersebut menjadi empirical. Selanjutnya, bahasa Indonesia mengadaptasi kata ini melalui proses penyerapan kosakata asing.

Dalam sistem morfologi bahasa Indonesia, kita mengenal akhiran -is sebagai penanda kata sifat. Oleh karena itu, bahasa Indonesia membentuk kata empiris sebagai bentuk yang sesuai dengan pola kebahasaan yang berlaku.

Sementara itu, bentuk empirik muncul akibat penyesuaian bunyi atau kebiasaan lisan, bukan karena kaidah pembentukan kata baku.

Empiris Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)

Kita perlu merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sebagai pedoman utama dalam menentukan kata baku. KBBI mencantumkan kata empiris sebagai bentuk yang benar.

KBBI mendefinisikan empiris sebagai:

Berdasarkan pengalaman (terutama yang diperoleh dari penemuan, percobaan, atau pengamatan).

Kamus besar juga mencatat kata empirik sebagai bentuk variasi. Namun, kamus tidak menganjurkan penggunaannya dalam konteks formal. Dengan demikian, kita sebaiknya selalu memilih kata empiris saat menulis secara resmi.

Perbedaan Penggunaan Empiris dan Empirik

Meskipun memiliki makna yang sama, kita perlu membedakan penggunaan kedua kata ini berdasarkan konteks penulisan.

Dalam Penulisan Ilmiah

Dalam karya ilmiah seperti skripsi, tesis, disertasi, jurnal, dan laporan penelitian, kita wajib menggunakan kata empiris. Penggunaan kata baku mencerminkan kedisiplinan akademik dan meningkatkan kredibilitas tulisan.

Contoh kalimat yang tepat:

  • Peneliti mengumpulkan data empiris melalui observasi lapangan.
  • Pendekatan empiris membantu kita memahami fenomena sosial secara objektif.

Dalam Penulisan Nonformal

Dalam percakapan sehari-hari atau tulisan santai, sebagian orang masih menggunakan kata empirik. Walaupun pembaca memahami maknanya, penggunaan ini sebaiknya kita hindari dalam artikel edukatif dan profesional.

Kesalahan Umum dalam Penggunaan Empiris

Banyak penulis menganggap empirik sebagai bentuk baku karena sering mendengarnya dalam percakapan. Selain itu, sebagian penulis tidak memeriksa rujukan kamus sebelum menggunakan istilah tertentu.

Kesalahan lain muncul ketika penulis mencampur penggunaan empiris dan empirik dalam satu artikel. Ketidakkonsistenan ini dapat menurunkan kualitas tulisan dan mengurangi kepercayaan pembaca.

Pentingnya Menggunakan Kata Baku

Penggunaan kata baku menunjukkan profesionalisme penulis. Selain itu, bahasa yang tepat membantu pembaca memahami isi tulisan dengan lebih mudah. Dalam konteks digital, mesin pencari juga cenderung menilai konten yang rapi dan sesuai kaidah bahasa sebagai konten berkualitas.

Bagi kita yang mengelola blog atau situs edukasi, penggunaan kata baku seperti empiris dapat meningkatkan peluang diterimanya situs oleh Google AdSense karena konten terlihat serius dan informatif.

Contoh Penggunaan Empiris dalam Berbagai Bidang

Berikut beberapa contoh penggunaan kata empiris dalam berbagai konteks:

  • Ilmu sosial sering menggunakan pendekatan empiris untuk menganalisis perilaku masyarakat.
  • Data empiris membantu pengambil kebijakan membuat keputusan yang tepat.
  • Penelitian empiris memberikan gambaran nyata tentang kondisi lapangan.

Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa empiris merupakan penulisan yang benar dan baku menurut kaidah bahasa Indonesia. Walaupun masyarakat masih menggunakan kata empirik, kita tidak dianjurkan memakainya dalam penulisan formal.

Oleh karena itu, kita sebaiknya selalu menggunakan kata empiris dalam karya tulis akademik, artikel edukatif, dan konten profesional lainnya. Dengan penggunaan bahasa yang tepat, kita dapat meningkatkan kualitas tulisan sekaligus menjaga kredibilitas sebagai penulis.