Penulisan yang Benar Beresiko atau Berisiko

Dalam praktik penulisan bahasa Indonesia, kita sering menjumpai kata-kata yang tampak sederhana, tetapi justru memicu kebingungan. Salah satu contohnya adalah “beresiko” dan “berisiko”. Kedua bentuk ini kerap digunakan secara bergantian dalam artikel, berita, karya ilmiah, hingga unggahan media sosial. Padahal, hanya satu bentuk yang diakui sebagai penulisan baku menurut kaidah bahasa Indonesia.

Kesalahan penulisan kata seperti ini tidak hanya berdampak pada kualitas bahasa, tetapi juga pada kredibilitas penulis, terutama dalam konteks akademik, jurnalistik, dan profesional. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami mana penulisan yang benar, alasan kebahasaannya, serta contoh penggunaannya secara tepat.

Jadi, artikel ini akan mengulas secara mendalam perbedaan beresiko dan berisiko, mengacu pada kaidah resmi bahasa Indonesia, sekaligus memberikan panduan praktis agar kita terhindar dari kesalahan serupa di masa mendatang.

Makna Dasar Kata Risiko dalam Bahasa Indonesia

Sebelum membahas bentuk turunannya, kita perlu memahami kata dasar risiko terlebih dahulu. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata risiko memiliki makna, yaitu:

  • Kemungkinan terjadinya peristiwa yang dapat merugikan atau membahayakan.

Kata risiko sering digunakan dalam berbagai bidang, yaitu:

  • Kesehatan
  • Keuangan
  • Bisnis
  • Asuransi
  • Keselamatan kerja

Misalnya:

  • risiko penyakit
  • risiko investasi
  • risiko kecelakaan

Karena penggunaannya sangat luas, pembentukan kata turunannya pun menjadi penting untuk dipahami dengan benar.

Pembentukan Kata Berisiko Secara Morfologis

Dalam bahasa Indonesia, kata turunan dibentuk melalui proses afiksasi, yaitu penambahan imbuhan pada kata dasar. Kata berisiko terbentuk dari:

  • ber- (awalan)
  • risiko (kata dasar)

Secara morfologis, awalan ber- berfungsi untuk menunjukkan:

  • keadaan,
  • kepemilikan,
  • atau sifat tertentu.

Dengan demikian, berisiko bermakna memiliki risiko atau mengandung kemungkinan bahaya.

Contohnya yaitu:

  • Pekerjaan itu berisiko tinggi.
  • Investasi saham tergolong berisiko.

Bentuk ini sesuai dengan kaidah pembentukan kata dalam bahasa Indonesia.

Beresiko atau Berisiko: Mana yang Baku?

Jawaban tegasnya yaitu:

  • Penulisan yang benar dan baku adalah: berisiko
  • Beresiko tidak baku dan tidak sesuai kaidah

Kesalahan pada kata beresiko terletak pada penghilangan huruf i dalam kata dasar risiko. Dalam bahasa Indonesia, perubahan bentuk kata tidak boleh menghilangkan unsur fonem penting pada kata dasarnya tanpa alasan kebahasaan yang jelas.

Karena kata dasarnya adalah risiko, maka bentuk turunannya harus tetap mempertahankan struktur tersebut, sehingga menjadi berisiko, bukan beresiko.

Alasan Kesalahan “Beresiko” Masih Sering Terjadi

Meskipun aturan sudah jelas, bentuk beresiko masih sering muncul dalam tulisan. Ada beberapa faktor yang menyebabkan kesalahan ini terus berulang.

1. Pengaruh Pelafalan Lisan

Dalam percakapan sehari-hari, banyak orang melafalkan kata berisiko dengan bunyi yang terdengar seperti beresiko. Kebiasaan lisan ini kemudian terbawa ke dalam tulisan.

2. Kurangnya Rujukan pada KBBI

Tidak semua penulis terbiasa memeriksa kata ke KBBI sebelum menulis. Akibatnya, bentuk yang salah tetap digunakan karena dianggap sudah lazim.

3. Kesalahan yang Terlanjur Populer

Ketika kesalahan digunakan secara massal di media daring, blog, atau media sosial, banyak orang mengira bentuk tersebut benar karena sering terlihat.

Dampak Kesalahan Penulisan dalam Konteks Profesional

Kesalahan sederhana seperti menulis beresiko dapat menimbulkan dampak yang tidak sepele, terutama dalam konteks formal.

1. Menurunkan Kredibilitas Tulisan

Dalam karya ilmiah, laporan resmi, atau artikel edukatif, kesalahan ejaan menunjukkan kurangnya ketelitian penulis.

2. Mengurangi Nilai Akademik

Dalam dunia pendidikan, penggunaan kata tidak baku dapat memengaruhi penilaian dosen atau penguji.

3. Berpengaruh pada SEO dan Profesionalisme Digital

Dalam dunia digital, penggunaan bahasa baku membantu meningkatkan kualitas konten, termasuk kepercayaan pembaca dan mesin pencari.

Contoh Kalimat yang Benar dan Salah

Agar semakin jelas, mari kita perhatikan perbandingan berikut.

Contoh Penulisan yang Salah

  • Pekerjaan ini sangat beresiko bagi keselamatan pekerja.
  • Investasi tanpa perhitungan matang tergolong beresiko.

Penulisan yang Benar

  • Pekerjaan ini sangat berisiko bagi keselamatan pekerja.
  • Investasi tanpa perhitungan matang tergolong berisiko.

Dari contoh tersebut, terlihat bahwa hanya bentuk berisiko yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.

Perbandingan dengan Kata Serumpun Lainnya

Untuk memperkuat pemahaman, kita bisa membandingkan pembentukan kata berisiko dengan kata lain yang serupa.

  • berbahaya (bukan berbahya)
  • bermanfaat (bukan bermanfa’at)
  • berpotensi (bukan berpotensi)

Semua kata tersebut mempertahankan bentuk kata dasar secara utuh. Prinsip yang sama berlaku pada kata risiko.

Tips Agar Tidak Salah Menulis Kata Baku

Agar kita tidak lagi keliru menulis kata seperti berisiko, berikut beberapa tips yang bisa diterapkan.

1. Biasakan Mengecek KBBI

Gunakan KBBI sebagai rujukan utama, baik versi daring maupun luring.

2. Pisahkan Kebiasaan Lisan dan Tulisan

Tidak semua yang terdengar benar saat diucapkan akan benar secara tertulis.

3. Perhatikan Kata Dasarnya

Jadi, kenali kata dasar sebelum menambahkan imbuhan agar bentuk turunannya tetap sesuai aturan.

Kesimpulan

Dari pembahasan di atas, kita dapat menarik kesimpulan yang jelas yaitu:

  • Risiko adalah kata dasar yang baku.
  • Bentuk turunan yang benar adalah berisiko.
  • Beresiko merupakan bentuk tidak baku dan sebaiknya dihindari.
  • Penggunaan kata baku mencerminkan ketelitian, profesionalisme, dan penguasaan bahasa yang baik.

Jadi, dengan memahami perbedaan ini, kita tidak hanya memperbaiki kualitas tulisan sendiri, tetapi juga turut menjaga ketertiban dan keindahan bahasa Indonesia dalam ruang publik.