Penulisan yang Benar Subjektif atau Subyektif

Dalam praktik berbahasa Indonesia, kita sering menemukan kebingungan dalam penulisan kata tertentu. Salah satu pasangan kata yang kerap menimbulkan pertanyaan adalah “subjektif” atau “subyektif”. Keduanya terdengar mirip, memiliki makna yang sama, dan bahkan sering dipakai secara bergantian dalam tulisan formal maupun nonformal. Namun, apakah keduanya sama-sama benar menurut kaidah bahasa Indonesia baku?

Melalui artikel ini, kita akan membahas secara mendalam penulisan yang benar antara subjektif dan subyektif. Pembahasan mencakup aspek etimologi, kaidah ejaan, rujukan kebahasaan resmi, contoh penggunaan, hingga dampaknya dalam penulisan akademik dan profesional. Dengan pemahaman yang utuh, kita dapat menggunakan bahasa Indonesia secara lebih tepat dan bertanggung jawab.

Makna Kata Subjektif dalam Bahasa Indonesia

Secara makna, kata subjektif merujuk pada sesuatu yang didasarkan pada pandangan, perasaan, atau penilaian pribadi seseorang, bukan pada fakta objektif yang bersifat umum. Dalam konteks berpikir, sikap subjektif sering kali dipengaruhi oleh pengalaman, latar belakang, kepentingan, dan emosi individu.

Sebagai contoh, ketika kita menilai sebuah karya seni, penilaian tersebut cenderung bersifat subjektif karena dipengaruhi oleh selera masing-masing. Oleh karena itu, kata subjektif sering digunakan dalam bidang filsafat, psikologi, jurnalistik, pendidikan, dan kajian sosial.

Asal Usul Kata Subjektif

Untuk memahami penulisan yang benar, kita perlu menelusuri asal-usul kata ini.

Etimologi Kata Subjektif

Kata subjektif berasal dari bahasa Inggris subjective, yang berakar dari bahasa Latin subjectivus. Dalam proses penyerapan ke dalam bahasa Indonesia, kata tersebut mengalami penyesuaian ejaan agar selaras dengan sistem fonologi dan ortografi bahasa Indonesia.

Penyerapan istilah asing memang tidak selalu berlangsung secara konsisten pada masa awal. Akibatnya, kita menemukan beberapa bentuk ejaan alternatif, termasuk subyektif, yang sempat digunakan dalam berbagai teks lama.

Subjektif atau Subyektif: Mana yang Baku?

Pertanyaan utama yang sering muncul adalah: manakah yang benar menurut kaidah bahasa Indonesia baku?

Jawabannya tegas: penulisan yang benar dan baku adalah “subjektif”.

Penjelasan Berdasarkan KBBI

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sebagai rujukan resmi bahasa Indonesia hanya mencantumkan entri subjektif, bukan subyektif. Hal ini menunjukkan bahwa:

  • Subjektif → bentuk baku
  • Subyektif → bentuk tidak baku

Dengan demikian, dalam konteks penulisan formal, akademik, jurnalistik, maupun administratif, kita wajib menggunakan bentuk subjektif.

Mengapa Subyektif Dianggap Tidak Baku?

Meskipun tidak baku, kata subyektif masih sering kita jumpai. Hal ini tidak terjadi tanpa sebab.

Pengaruh Ejaan Lama

Pada masa lalu, sistem ejaan bahasa Indonesia belum seketat sekarang. Huruf “y” kerap digunakan untuk mewakili bunyi /i/ atau /j/ dalam kata serapan. Akibatnya, penulisan subyektif sempat dianggap wajar dan digunakan secara luas.

Namun, seiring dengan pembaruan ejaan dan standarisasi bahasa, bentuk tersebut kemudian harus kita tinggalkan.

Penyesuaian dengan Kaidah Morfologi

Bahasa Indonesia cenderung mempertahankan konsistensi bentuk kata. Dalam kata subjektif, bunyi -jektif selaras dengan kata lain seperti:

  • objektif
  • kolektif
  • efektif

Jika kita menulis subyektif, maka konsistensi tersebut menjadi terganggu. Oleh karena itu, bentuk subjektif lebih sistematis dan sesuai kaidah.

Contoh Penggunaan Kata Subjektif yang Benar

Agar pemahaman kita semakin kuat, berikut beberapa contoh penggunaan kata subjektif dalam kalimat:

  • Penilaian terhadap karya sastra sering bersifat subjektif karena dipengaruhi selera pembaca.
  • Guru berusaha mengurangi sikap subjektif dalam menilai hasil ujian siswa.
  • Opini yang terlalu subjektif dapat mengaburkan fakta yang sebenarnya.
  • Kita perlu membedakan antara pendapat subjektif dan data objektif.

Dari contoh di atas, terlihat bahwa kata subjektif digunakan secara konsisten dan sesuai konteks.

Dampak Kesalahan Penulisan dalam Konteks Formal

Kesalahan dalam memilih bentuk kata, termasuk penggunaan subyektif, dapat menimbulkan berbagai dampak, terutama dalam konteks formal.

Dampak Akademik

Dalam karya ilmiah, penggunaan kata tidak baku dapat:

  • Mengurangi kredibilitas penulis
  • Menurunkan kualitas bahasa tulisan
  • Menyebabkan koreksi atau revisi dari editor dan dosen

Oleh karena itu, kita perlu memastikan setiap kata yang kita gunakan sesuai dengan standar kebahasaan.

Dampak Profesional

Dalam dunia kerja, bahasa mencerminkan profesionalisme. Surat resmi, laporan, dan dokumen kebijakan yang mengandung kata tidak baku dapat memberi kesan kurang teliti dan kurang kompeten.

Tips Agar Konsisten Menggunakan Kata Baku

Agar kita tidak lagi ragu dalam memilih antara subjektif dan subyektif, berikut beberapa tips praktis:

  • Biasakan merujuk ke KBBI saat menulis.
  • Gunakan fitur pemeriksa ejaan pada perangkat lunak pengolah kata.
  • Perbanyak membaca tulisan berkualitas, seperti jurnal dan buku akademik.
  • Catat pasangan kata yang sering membingungkan agar tidak salah ulang.

Dengan kebiasaan tersebut, kemampuan berbahasa kita akan meningkat secara bertahap namun signifikan.

Subjektif dalam Kehidupan Sehari-hari

Selain dalam dunia akademik, kata subjektif juga sering kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Kita kerap menilai sesuatu berdasarkan pengalaman pribadi, mulai dari rasa makanan, kualitas layanan, hingga penilaian terhadap seseorang.

Namun, penting bagi kita untuk menyadari bahwa sikap subjektif tidak selalu salah. Dalam konteks tertentu, subjektivitas justru kita perlukan, terutama ketika menyangkut nilai, seni, dan ekspresi personal. Yang terpenting, kita mampu membedakan kapan harus bersikap subjektif dan kapan harus objektif.

Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan di atas, dapat kita simpulkan bahwa:

  • Subjektif adalah bentuk penulisan yang benar dan baku.
  • Subyektif merupakan bentuk tidak baku dan sebaiknya dihindari.
  • Penggunaan kata baku mencerminkan ketepatan, profesionalisme, dan kepedulian terhadap bahasa Indonesia.

Dengan memahami perbedaan ini, kita tidak hanya menghindari kesalahan penulisan, tetapi juga turut berkontribusi dalam menjaga mutu dan kelestarian bahasa Indonesia sebagai identitas nasional.