Dalam penggunaan bahasa Indonesia, kita sering menjumpai kata-kata yang tampak benar, tetapi sebenarnya tidak sesuai dengan kaidah baku. Salah satu contoh yang paling sering menimbulkan kebingungan ialah penulisan obyektif dan objektif. Banyak orang menggunakan kedua bentuk tersebut secara bergantian tanpa menyadari bahwa hanya satu yang diakui secara resmi.
Melalui artikel ini, kita akan membahas secara komprehensif penulisan yang benar antara obyektif atau objektif. Kita juga akan mengulas asal-usul katanya, alasan kebingungan yang sering terjadi, serta contoh penggunaan yang tepat dalam berbagai konteks. Dengan pemahaman ini, kita dapat menulis lebih akurat dan profesional.
Pengertian Kata Objektif dalam Bahasa Indonesia
Makna Objektif Secara Umum
Kata objektif merujuk pada sikap, pandangan, atau penilaian yang berlandaskan fakta dan kenyataan. Ketika seseorang bersikap objektif, ia menilai sesuatu tanpa melibatkan perasaan pribadi, kepentingan tertentu, atau prasangka subjektif.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menggunakan kata ini untuk menilai keadilan suatu keputusan. Dalam dunia akademik dan jurnalistik, objektivitas bahkan menjadi prinsip utama yang menentukan kualitas sebuah karya.
Kesalahan Persepsi terhadap Bentuk Kata
Meskipun maknanya jelas, banyak penulis masih salah dalam menuliskan kata ini. Mereka sering mengira bahwa obyektif dan objektif sama-sama benar. Padahal, bahasa Indonesia memiliki aturan kebakuan yang tegas dan mengikat.
Asal Usul Kata Objektif
Pengaruh Bahasa Asing
Kata objektif berasal dari bahasa Inggris objective dan bahasa Belanda objectief. Bahasa Indonesia menyerap kata tersebut melalui proses adaptasi fonologis dan ortografis agar sesuai dengan sistem ejaan yang berlaku.
Dalam proses penyerapan, bahasa Indonesia tidak selalu mempertahankan ejaan asli secara utuh. Sebaliknya, kita menyesuaikan ejaan agar lebih konsisten dengan kaidah penulisan nasional.
Perkembangan Sistem Ejaan Bahasa Indonesia
Pada masa lalu, sistem ejaan bahasa Indonesia belum stabil. Oleh karena itu, kita menemukan banyak variasi penulisan kata serapan, termasuk penggunaan huruf y dalam beberapa istilah.
Namun, sejak penerapan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) dan kini Ejaan Bahasa Indonesia (EBI), kita menerapkan aturan yang lebih konsisten. Aturan ini menegaskan penggunaan huruf j pada kata-kata tertentu, termasuk objektif.
Bentuk Baku Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
Objektif sebagai Bentuk Resmi
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menetapkan objektif sebagai bentuk baku. KBBI mendefinisikan kata ini sebagai “mengenai keadaan yang sebenarnya tanpa dipengaruhi pandangan atau perasaan pribadi”.
Sebaliknya, KBBI tidak mencantumkan kata obyektif sebagai entri baku. Fakta ini menegaskan bahwa kita sebaiknya tidak menggunakan bentuk tersebut dalam penulisan formal.
Keseragaman dengan Kata Sejenis
Bahasa Indonesia juga menerapkan prinsip keseragaman dalam penulisan kata serapan. Kita dapat melihat pola yang sama pada kata objek, subjek, dan predikat. Semua kata tersebut menggunakan huruf j.
Dengan mengikuti pola ini, penulisan objektif menjadi lebih logis, konsisten, dan mudah dipahami oleh pembaca.
Penggunaan Kata Objektif dalam Berbagai Konteks
Dalam Karya Ilmiah dan Akademik
Dalam dunia akademik, kita dituntut untuk menggunakan bahasa yang baku dan tepat. Kata objektif sering muncul dalam skripsi, tesis, disertasi, serta artikel ilmiah.
Ketika penulis menggunakan bentuk tidak baku seperti obyektif, pembaca dapat meragukan ketelitian dan kredibilitas tulisan tersebut. Oleh karena itu, kita perlu memastikan penggunaan kata objektif secara konsisten.
Dalam Jurnalistik dan Media Massa
Media massa memiliki pengaruh besar dalam membentuk kebiasaan berbahasa masyarakat. Ketika jurnalis menulis berita secara objektif, mereka menyajikan fakta tanpa opini pribadi.
Selain itu, penggunaan bahasa yang baku dalam media membantu pembaca memahami bentuk kata yang benar. Dengan demikian, media turut berperan dalam edukasi kebahasaan.
Dalam Dunia Pendidikan dan Profesional
Guru, dosen, dan tenaga profesional sering menggunakan kata objektif dalam penilaian kinerja maupun evaluasi pembelajaran. Dalam konteks ini, objektivitas mencerminkan keadilan dan profesionalisme.
Oleh sebab itu, kita perlu membiasakan diri menggunakan bentuk baku agar komunikasi tertulis maupun lisan terdengar lebih meyakinkan.
Alasan Kesalahan Penulisan Masih Sering Terjadi
Pengaruh Kebiasaan Lama
Banyak orang masih menggunakan kata obyektif karena kebiasaan lama. Mereka telah melihat dan mendengar bentuk tersebut sejak lama, sehingga menganggapnya benar.
Tanpa kesadaran untuk merujuk pada kamus atau pedoman bahasa, kebiasaan ini terus berulang dan menyebar.
Kurangnya Kesadaran terhadap Bahasa Baku
Tidak semua penutur bahasa Indonesia menyadari pentingnya bahasa baku. Sebagian orang menganggap perbedaan huruf y dan j sebagai hal sepele.
Padahal, ketepatan ejaan menunjukkan tingkat literasi dan profesionalisme seseorang, terutama dalam konteks formal.
Kesimpulan
Berdasarkan seluruh pembahasan di atas, kita dapat menegaskan bahwa penulisan yang benar menurut kaidah bahasa Indonesia adalah objektif, bukan obyektif. KBBI telah menetapkan bentuk ini sebagai kata baku yang sah dan resmi.
Dengan memahami dan menerapkan penulisan yang benar, kita tidak hanya meningkatkan kualitas tulisan, tetapi juga ikut menjaga ketertiban dan kejelasan bahasa Indonesia. Oleh karena itu, mari kita biasakan menggunakan kata objektif secara tepat dalam setiap konteks penulisan.