Penulisan yang Benar Ikonik atau Ikonis

Dalam penggunaan bahasa Indonesia modern, kita sering menjumpai dua bentuk kata yang tampak serupa, tetapi menimbulkan kebingungan, yakni ikonik dan ikonis. Keduanya kerap muncul dalam artikel media, karya ilmiah, konten digital, hingga percakapan sehari-hari. Namun, pertanyaan mendasarnya adalah: manakah penulisan yang benar menurut kaidah bahasa Indonesia baku?

Artikel ini akan membahas secara mendalam perbedaan ikonik dan ikonis, mulai dari aspek etimologi, definisi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), fungsi dalam kalimat, hingga contoh penggunaan yang tepat. Dengan pembahasan yang komprehensif, kita diharapkan mampu menggunakan kata ini secara benar dan konsisten.

Pengertian Ikonik dan Ikonis

Apa Itu Ikon?

Sebelum membahas bentuk turunannya, kita perlu memahami kata dasar ikon. Dalam KBBI, ikon diartikan sebagai lambang, gambar, atau simbol yang mewakili suatu objek, gagasan, atau konsep tertentu. Kata ini banyak digunakan dalam berbagai bidang, seperti seni, budaya, teknologi, dan komunikasi.

Misalnya, Candi Borobudur sering disebut sebagai ikon budaya Indonesia, sedangkan logo aplikasi di ponsel kita juga dikenal sebagai ikon digital.

Makna Kata Ikonis

Kata ikonis merupakan bentuk turunan dari kata ikon dengan akhiran -is. Dalam KBBI, ikonis memiliki makna “bersifat ikon” atau “memiliki ciri sebagai ikon”. Artinya, kata ini secara resmi diakui sebagai bentuk baku dalam bahasa Indonesia.

Contoh penggunaan kata ikonis dapat kita temukan dalam kalimat seperti: “Bangunan itu memiliki desain ikonis yang mudah dikenali oleh masyarakat.”

Makna Kata Ikonik

Sementara itu, kata ikonik juga sering digunakan dalam praktik berbahasa. Secara makna, ikonik dipahami sebagai “sesuatu yang sangat khas, terkenal, dan mudah dikenali”. Namun, penggunaan kata ini perlu kita cermati lebih jauh dari sudut pandang kebakuan bahasa.

Ikonik atau Ikonis Menurut KBBI

Jika kita merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia sebagai acuan utama bahasa baku, hanya kata ikonis yang tercatat secara resmi. Kata ikonik tidak termasuk dalam entri baku KBBI.

Dengan demikian, dalam konteks penulisan formal seperti karya ilmiah, jurnal, artikel edukatif, atau dokumen resmi, kita sebaiknya menggunakan kata ikonis karena telah memenuhi kaidah kebahasaan yang berlaku.

Adapun kata ikonik lebih sering muncul sebagai serapan tidak resmi dari bahasa Inggris iconic. Pengaruh globalisasi dan media digital membuat kata ini populer, meskipun secara normatif belum dianggap baku.

Asal-Usul dan Pengaruh Bahasa Asing

Pengaruh Bahasa Inggris

Kata iconic dalam bahasa Inggris berarti “sangat terkenal dan mewakili sesuatu secara khas”. Dalam proses penyerapan bahasa asing, penutur bahasa Indonesia kerap mengadaptasi kata ini secara langsung menjadi ikonik.

Namun, tidak semua adaptasi langsung sesuai dengan sistem morfologi bahasa Indonesia. Oleh karena itu, para ahli bahasa membentuk kata ikonis sebagai padanan yang lebih sesuai dengan pola pembentukan kata bahasa Indonesia.

Penyesuaian Morfologis

Akhiran -is dalam bahasa Indonesia lazim kita gunakan untuk membentuk kata sifat, seperti pada kata artistik menjadi artistis atau realistik menjadi realistis. Pola inilah yang juga berlaku pada kata ikon menjadi ikonis.

Penggunaan Ikonis dalam Kalimat

Agar kita lebih memahami penggunaan kata ikonis, berikut beberapa contoh kalimat yang tepat:

  • Monumen Nasional merupakan bangunan ikonis yang menjadi simbol Jakarta.
  • Gaya berpakaian tokoh itu tergolong ikonis dan mudah kita kenali.
  • Film tersebut menghadirkan adegan ikonis yang melekat di ingatan penonton.

Dari contoh di atas, terlihat bahwa kata ikonis berfungsi sebagai kata sifat yang menjelaskan keunikan atau kekhasan suatu objek.

Bagaimana dengan Penggunaan Ikonik?

Meskipun tidak baku, kata ikonik tetap banyak kita gunakan, terutama dalam konteks nonformal, seperti percakapan sehari-hari, media sosial, atau konten hiburan. Dalam situasi tersebut, penggunaan ikonik masih dapat kita terima karena tidak terikat ketat pada kaidah bahasa baku.

Namun, kita perlu membedakan antara penggunaan yang komunikatif dan penggunaan yang normatif. Ketika tujuan penulisan menuntut ketepatan bahasa, pilihan kata ikonis menjadi lebih tepat.

Perbedaan Konteks Formal dan Informal

Konteks Formal

Dalam konteks formal, seperti penulisan akademik, laporan resmi, atau artikel edukatif, kita harus menggunakan kata ikonis. Pilihan ini mencerminkan kepatuhan terhadap standar bahasa Indonesia.

Konteks Informal

Dalam konteks informal, penggunaan ikonik lebih populer dan terasa modern. Meski demikian, kita tetap perlu menyadari bahwa kata tersebut belum memiliki legitimasi kebahasaan resmi.

Pentingnya Menggunakan Kata Baku

Menggunakan kata baku bukan sekadar soal aturan, tetapi juga berkaitan dengan kejelasan makna dan kredibilitas tulisan. Ketika kita memilih kata ikonis dalam tulisan formal, kita menunjukkan sikap menghargai bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmiah dan bahasa persatuan.

Selain itu, penggunaan kata baku membantu pembaca memahami pesan tanpa ambiguitas. Oleh karena itu, konsistensi dalam berbahasa menjadi hal yang sangat penting.

Kesalahan Umum dan Cara Menghindarinya

Salah satu kesalahan umum adalah menganggap ikonik dan ikonis sama-sama baku. Untuk menghindari kekeliruan ini, kita dapat membiasakan diri memeriksa kata dalam KBBI sebelum menggunakannya dalam tulisan resmi.

Selain itu, kita juga perlu meningkatkan kesadaran akan perbedaan antara bahasa lisan dan bahasa tulis. Tidak semua kata yang lazim diucapkan layak digunakan dalam konteks formal.

Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan di atas, dapat kita simpulkan bahwa penulisan yang benar dan baku menurut KBBI adalah ikonis. Kata ini memiliki dasar etimologis yang jelas, sesuai dengan kaidah morfologi bahasa Indonesia, dan tercatat secara resmi.

Sementara itu, kata ikonik merupakan bentuk tidak baku yang muncul akibat pengaruh bahasa Inggris. Meski sering ada dalam konteks informal, kata ini sebaiknya kita hindari dalam penulisan formal.

Dengan memahami perbedaan ini, kita dapat berbahasa Indonesia dengan lebih tepat, cermat, dan bertanggung jawab. Pada akhirnya, penggunaan bahasa yang benar akan memperkuat kualitas komunikasi dan tulisan yang kita hasilkan.