Penulisan yang Benar Dianalisis atau di Analisis

Dalam praktik menulis bahasa Indonesia, kita sering menjumpai keraguan dalam penulisan kata berimbuhan. Salah satu contoh yang kerap menimbulkan kebingungan adalah penulisan “dianalisis” atau “di analisis”. Sekilas, kedua bentuk ini tampak mirip dan sama-sama sering kita temukan di berbagai media, baik artikel ilmiah, laporan, maupun konten digital. Namun, apakah keduanya benar menurut kaidah bahasa Indonesia?

Artikel ini akan membahas secara mendalam penulisan yang benar antara dianalisis dan di analisis. Kita akan mengulasnya dari sudut pandang tata bahasa, morfologi, fungsi imbuhan, hingga contoh penerapannya dalam kalimat. Dengan demikian, setelah membaca artikel ini, kita tidak hanya mengetahui bentuk yang benar, tetapi juga memahami alasan kebahasaannya secara utuh.

Pengertian Dasar Kata Analisis

Sebelum membahas bentuk berimbuhan, kita perlu memahami kata dasarnya terlebih dahulu.

Kata analisis merupakan nomina (kata benda) yang berarti penyelidikan terhadap suatu peristiwa, masalah, atau objek dengan cara menguraikan bagian-bagiannya untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam. Kata ini berasal dari bahasa Yunani analysis dan telah diserap secara baku ke dalam bahasa Indonesia.

Contoh penggunaan kata analisis sebagai kata benda:

  • Analisis data menjadi tahap penting dalam penelitian.
  • Hasil analisis menunjukkan adanya peningkatan kinerja.
  • Dari kata analisis inilah kemudian terbentuk kata kerja melalui proses afiksasi.

Proses Pembentukan Kata Dianalisis

Peran Imbuhan di- dalam Bahasa Indonesia

Dalam bahasa Indonesia, imbuhan di- memiliki dua fungsi utama, yaitu:

  • Sebagai prefiks (awalan) pembentuk kata kerja pasif
  • Sebagai preposisi (kata depan) yang menunjukkan tempat atau arah
  • Perbedaan fungsi inilah yang sering menyebabkan kekeliruan dalam penulisan.

Sebagai prefiks, di- harus dirangkai dengan kata yang mengikutinya. Sebaliknya, sebagai preposisi, di harus dipisah dari kata setelahnya.

Dianalisis sebagai Kata Kerja Pasif

Kata dianalisis terbentuk dari:

  • Prefiks di-
  • Kata dasar analisis

Gabungan ini menghasilkan kata kerja pasif yang bermakna dilakukan analisis terhadap sesuatu. Karena di- berfungsi sebagai imbuhan, penulisannya harus digabung.

Contoh:

  • Data tersebut dianalisis menggunakan metode statistik.
  • Hasil penelitian telah dianalisis oleh tim ahli.

Jadi, dalam contoh tersebut, kata dianalisis menjawab pertanyaan apa yang dilakukan terhadap data atau hasil penelitian, sehingga jelas berfungsi sebagai kata kerja pasif.

Mengapa Penulisan “di analisis” Tidak Tepat?

Penulisan “di analisis” dengan spasi seolah-olah menempatkan di sebagai kata depan. Padahal, kata analisis bukanlah keterangan tempat, arah, atau lokasi.

Kata depan di hanya digunakan untuk menjelaskan tempat, misalnya:

  • ketika di rumah
  • di kantor
  • di sekolah

Karena analisis bukan tempat, maka penggunaan di sebagai preposisi menjadi tidak logis dan tidak sesuai kaidah.

Contoh yang keliru:

  • Data ini akan di analisis lebih lanjut.
  • Masalah tersebut sedang di analisis oleh peneliti.

Penulisan yang benar:

  • Data ini akan dianalisis lebih lanjut.
  • Masalah tersebut sedang dianalisis oleh peneliti.

Uji Sederhana untuk Menentukan Penulisan yang Benar

Untuk memastikan apakah di- harus digabung atau dipisah, kita dapat melakukan uji sederhana.

Uji Substitusi dengan Kata “oleh”

Jika sebuah kata dapat disisipi kata oleh, maka di- berfungsi sebagai prefiks dan harus digabung.

Contoh:

  • Data tersebut dianalisis oleh peneliti.
  • Laporan keuangan dianalisis oleh auditor.

Karena kalimat tetap masuk akal, maka penulisan dianalisis sudah tepat.

Uji Keterangan Tempat

Jika di menunjukkan lokasi dan dapat diganti dengan kata ke atau dari, maka penulisannya harus dipisah. Namun, hal ini tidak berlaku untuk kata analisis.

Contoh:

  • di meja → ke meja
  • di ruang rapat → ke ruang rapat

Kata analisis tidak memenuhi kriteria ini, sehingga penulisan di analisis tidak dapat dibenarkan.

Penggunaan Dianalisis dalam Berbagai Konteks

Dalam Penulisan Ilmiah

Dalam karya ilmiah, ketepatan bahasa menjadi syarat mutlak. Penulisan dianalisis sering muncul pada bagian metodologi dan pembahasan.

Contoh:

  • Data penelitian dianalisis menggunakan pendekatan kuantitatif.
  • Temuan lapangan dianalisis untuk menjawab rumusan masalah.
  • Kesalahan penulisan pada konteks ini dapat menurunkan kredibilitas karya ilmiah.

Dalam Laporan dan Dokumen Resmi

Laporan kerja, laporan keuangan, dan dokumen institusional juga kerap menggunakan kata dianalisis.

Contoh:

  • Laporan kinerja telah dianalisis oleh manajemen.
  • Risiko proyek dianalisis sebelum pengambilan keputusan.

Penggunaan bentuk yang benar menunjukkan profesionalisme dan kepatuhan terhadap kaidah bahasa.

Dalam Media Digital dan Jurnalistik

Pada media daring, kesalahan penulisan sering terjadi karena kurangnya penyuntingan bahasa. Padahal, penggunaan dianalisis yang tepat membantu meningkatkan kualitas konten dan kepercayaan pembaca.

Kesalahan Umum yang Perlu Kita Hindari

Beberapa kesalahan yang sering muncul terkait penulisan kata ini yaitu:

  • Menyamakan semua kata berawalan di sebagai kata depan
  • Terpengaruh kebiasaan lisan dalam penulisan
  • Mengabaikan fungsi imbuhan dalam kalimat pasif

Dengan memahami aturan dasar imbuhan di-, kita dapat menghindari kesalahan serupa pada kata lain seperti diteliti, dipelajari, dan dibahas.

Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan di atas, dapat kita simpulkan bahwa penulisan yang benar dan baku menurut kaidah bahasa Indonesia adalah dianalisis, ditulis serangkai tanpa spasi. Hal ini karena di- berfungsi sebagai prefiks pembentuk kata kerja pasif, bukan sebagai kata depan penunjuk tempat.

Sementara itu, penulisan “di analisis” tidak sesuai dengan aturan kebahasaan dan sebaiknya dihindari dalam semua bentuk tulisan, baik formal maupun informal. Jadi, dengan memahami perbedaan fungsi imbuhan dan kata depan, kita dapat meningkatkan ketepatan dan kualitas bahasa tulis kita secara konsisten.