Dalam penggunaan bahasa Indonesia, kita sering menjumpai kata-kata yang tampak sederhana, tetapi menimbulkan keraguan dalam penulisan. Salah satu contoh yang sering memunculkan kebingungan adalah kata memerhatikan dan memperhatikan. Kedua bentuk ini terdengar mirip, sering muncul dalam tulisan, dan kerap digunakan secara bergantian.
Namun, bahasa baku tidak mengenal kompromi. Kita perlu menentukan bentuk yang benar berdasarkan kaidah yang jelas. Oleh karena itu, artikel ini membahas secara menyeluruh penulisan memerhatikan dan memperhatikan dengan merujuk pada tata bahasa, proses pembentukan kata, serta acuan resmi bahasa Indonesia.
Kesalahan Umum dalam Penggunaan Kata
Banyak penutur bahasa Indonesia menggunakan kata memperhatikan karena terdengar lebih lazim dalam percakapan sehari-hari. Kebiasaan ini kemudian terbawa ke dalam tulisan formal, termasuk artikel ilmiah, berita, dan dokumen resmi.
Padahal, kebiasaan tidak selalu mencerminkan kebenaran kaidah. Kita sering menemukan kesalahan yang terus berulang karena penulis tidak memeriksa rujukan bahasa yang sah. Akibatnya, bentuk yang keliru tampak seolah-olah benar.
Asal Kata dan Dasar Pembentukan
Kata Dasar “Perhati”
Kata memerhatikan berasal dari kata dasar perhati. Jadi, kata ini bermakna mengamati, mencermati, atau menaruh perhatian secara sungguh-sungguh. Dari kata dasar tersebut, bahasa Indonesia membentuk kata kerja aktif dengan menambahkan awalan me-.
Ketika awalan me- bertemu dengan kata dasar perhati, proses morfologis membentuk kata memerhatikan. Proses ini mengikuti aturan afiksasi yang baku dan konsisten dalam bahasa Indonesia.
Perbedaan dengan Kata “Perhatian”
Kata perhatian merupakan kata benda yang menunjukkan hasil atau bentuk nominal dari perhati. Banyak orang keliru menganggap bahwa kata kerja memperhatikan berasal dari kata benda perhatian.
Padahal, bahasa Indonesia tidak membentuk kata kerja aktif secara langsung dari kata benda tanpa proses morfologis yang tepat. Oleh karena itu, anggapan tersebut tidak sesuai dengan kaidah bahasa.
Penjelasan Afiksasi secara Aktif
Bahasa Indonesia mengenal sistem awalan me- yang berubah bentuk sesuai dengan fonem awal kata dasar. Dalam kasus perhati, awalan me- berubah menjadi memer-, sehingga membentuk kata memerhatikan.
Proses ini berlangsung secara aktif dan sistematis. Bahasa tidak membentuk kata memperhatikan karena bentuk tersebut tidak memiliki dasar morfologis yang sah.
Kaidah Resmi Menurut KBBI
Kamus Besar Bahasa Indonesia mencantumkan kata memerhatikan sebagai bentuk baku. KBBI menjelaskan maknanya sebagai tindakan mengamati, mencermati, atau mengindahkan sesuatu dengan sungguh-sungguh.
Sebaliknya, KBBI tidak mencantumkan kata memperhatikan sebagai lema utama. Fakta ini menunjukkan bahwa bahasa Indonesia secara resmi mengakui memerhatikan sebagai bentuk yang benar.
Alasan Bentuk Tidak Baku Lebih Populer
Masyarakat sering memilih kata memperhatikan karena faktor kebiasaan lisan. Pelafalan kata tersebut terasa lebih ringan dan cepat diucapkan dalam komunikasi sehari-hari.
Selain itu, banyak media dan penulis lama menggunakan bentuk yang keliru tanpa melakukan verifikasi. Akibatnya, kesalahan tersebut menyebar luas dan dianggap wajar. Kurangnya literasi kebahasaan juga memperkuat penggunaan bentuk yang tidak baku.
Dampak Penggunaan Kata yang Tidak Tepat
Dalam konteks informal, kesalahan penulisan mungkin tidak menimbulkan masalah besar. Namun, dalam penulisan akademik dan profesional, ketepatan bahasa menunjukkan tingkat kredibilitas penulis.
Ketika kita menggunakan kata yang tidak baku, pembaca yang memahami kaidah bahasa dapat meragukan kualitas tulisan. Oleh sebab itu, kita perlu memilih bentuk yang benar untuk menjaga mutu komunikasi tertulis.
Contoh Penggunaan yang Benar
Berikut beberapa contoh kalimat yang menggunakan kata memerhatikan secara tepat:
- Kita perlu memerhatikan setiap detail sebelum menyusun laporan.
- Guru meminta siswa memerhatikan penjelasan dengan saksama.
- Pemerintah harus memerhatikan kebutuhan masyarakat secara menyeluruh.
Contoh tersebut menunjukkan penggunaan kata kerja aktif yang jelas dan sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.
Strategi Menghindari Kesalahan Penulisan
Aktif Merujuk Sumber Resmi
Kita dapat menghindari kesalahan dengan rutin memeriksa KBBI. Langkah ini membantu kita memastikan keabsahan kata sebelum menggunakannya dalam tulisan.
Memahami Pola Pembentukan Kata
Pemahaman terhadap morfologi bahasa Indonesia membantu kita mengenali bentuk kata yang benar. Dengan memahami pola pembentukan kata, kita tidak mudah terjebak pada bentuk yang hanya terdengar benar.
Membiasakan Bahasa Baku dalam Tulisan Formal
Konsistensi dalam menggunakan bahasa baku akan meningkatkan ketelitian dan kualitas tulisan kita. Kebiasaan ini juga memperkuat keterampilan berbahasa Indonesia secara keseluruhan.
Kesimpulan
Penulisan yang benar menurut kaidah bahasa Indonesia adalah memerhatikan, bukan memperhatikan. Kata ini berasal dari kata dasar perhati dan mengikuti proses afiksasi yang sah.
Meskipun masyarakat masih sering menggunakan bentuk tidak baku, kita sebaiknya tetap memilih bentuk yang benar, terutama dalam konteks formal dan profesional. Dengan demikian, kita ikut menjaga ketepatan dan keutuhan bahasa Indonesia.