Dalam praktik berbahasa Indonesia, kita sering menghadapi kebingungan ketika menulis kata yang tampak mirip, tetapi sebenarnya memiliki status kebakuan yang berbeda. Salah satu contoh yang kerap menimbulkan keraguan adalah penggunaan kata memperoleh dan memeroleh. Kedua kata ini terdengar serupa, sering dipertukarkan, dan bahkan muncul dalam tulisan resmi. Namun, kita perlu memahami bentuk mana yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.
Melalui artikel ini, kita membahas perbedaan antara memperoleh dan memeroleh secara mendalam. Pembahasan mencakup dasar kebahasaan, proses pembentukan kata, rujukan KBBI, contoh penggunaan, serta dampaknya dalam penulisan akademik dan profesional. Dengan pemahaman ini, kita dapat menggunakan bahasa Indonesia secara tepat dan bertanggung jawab.
Makna Kata Memperoleh dan Memeroleh
Secara semantis, kata memperoleh dan memeroleh sama-sama merujuk pada kegiatan mendapatkan sesuatu, baik berupa benda, hak, peluang, maupun pencapaian. Dalam kehidupan sehari-hari, penutur bahasa Indonesia memakai kedua bentuk ini untuk menyatakan hasil dari suatu usaha.
Contohnya:
- Kita memperoleh pengalaman berharga dari kegiatan tersebut.
- Ia memeroleh dukungan dari rekan-rekannya.
Walaupun kedua kalimat tersebut dapat dipahami, kita perlu menilai ketepatan bentuk katanya berdasarkan standar bahasa baku.
Asal Kata dan Proses Morfologis
Kata Dasar “Oleh”
Kata oleh dalam bahasa Indonesia berfungsi sebagai kata depan yang menunjukkan pelaku atau perantara suatu tindakan. Namun, dalam pembentukan verba memperoleh, kata oleh berperan sebagai unsur dasar yang menerima imbuhan.
Bahasa Indonesia membentuk kata kerja dengan menambahkan prefiks tertentu, salah satunya prefiks me-. Proses ini mengikuti kaidah morfologi yang telah dibakukan.
Pembentukan dengan Prefiks Me-
Prefiks me- mengalami perubahan bentuk sesuai dengan fonem awal kata dasar. Dalam kasus kata oleh, bahasa Indonesia tidak langsung menggabungkan prefiks me- menjadi memeroleh. Sebaliknya, bahasa baku menetapkan bentuk memperoleh sebagai hasil pembentukan yang sah.
Bentuk Baku Menurut KBBI
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) secara tegas mencantumkan memperoleh sebagai bentuk baku. KBBI mendefinisikan kata ini sebagai kegiatan mendapatkan, meraih, atau menerima sesuatu.
Sementara itu, KBBI tidak menetapkan memeroleh sebagai lema utama. Fakta ini menunjukkan bahwa bahasa Indonesia standar hanya mengakui memperoleh sebagai bentuk yang benar.
Alasan Ketidakbakuan Kata Memeroleh
Banyak penutur menggunakan kata memeroleh karena menganggap pembentukan kata tersebut lebih logis. Namun, bahasa baku tidak selalu mengikuti logika spontan penutur. Bahasa Indonesia menetapkan kebakuan melalui kodifikasi resmi, bukan melalui kebiasaan semata.
Oleh karena itu, meskipun masyarakat sering memakai memeroleh dalam percakapan, bentuk tersebut tidak memenuhi standar bahasa tulis resmi.
Penggunaan dalam Berbagai Ragam Bahasa
Ragam Bahasa Formal
Dalam penulisan formal seperti karya ilmiah, laporan resmi, dokumen pemerintahan, dan berita jurnalistik, kita harus menggunakan kata memperoleh. Penggunaan kata baku menunjukkan ketelitian dan profesionalisme penulis.
Ragam Bahasa Nonformal
Dalam komunikasi sehari-hari, masyarakat masih sering memakai kata memeroleh. Namun, kebiasaan ini tidak dapat kita jadikan dasar dalam penulisan akademik atau resmi.
Contoh Penggunaan yang Tepat
Berikut contoh kalimat yang menggunakan bentuk baku:
- Kita memperoleh informasi yang akurat dari sumber terpercaya.
- Perusahaan memperoleh peningkatan laba setiap tahun.
- Mahasiswa harus memperoleh nilai minimal untuk lulus.
- Atlet nasional memperoleh penghargaan internasional.
Kesalahan yang Sering Terjadi
Penulis sering melakukan kesalahan karena:
- Tidak merujuk pada KBBI.
- Terpengaruh kebiasaan lisan.
- Menganggap semua bentuk berimbuhan me- selalu konsisten.
Untuk menghindari kesalahan tersebut, kita perlu membiasakan diri memeriksa kata baku sebelum menulis.
Dampak Ketepatan Bahasa dalam Dunia Akademik dan Profesional
Ketepatan penggunaan bahasa mencerminkan kualitas literasi seseorang. Dalam dunia pendidikan, dosen dan penguji menilai ketelitian bahasa sebagai bagian dari kompetensi akademik. Dalam dunia kerja, bahasa yang tepat memperkuat citra profesional dan kredibilitas institusi.
Dengan menggunakan kata baku memperoleh, kita turut menjaga mutu komunikasi tertulis.
Kesimpulan
Berdasarkan kaidah bahasa Indonesia dan rujukan KBBI, kita dapat menegaskan bahwa bentuk yang benar adalah memperoleh. Sementara itu, memeroleh tergolong tidak baku dan sebaiknya kita hindari dalam penulisan formal.
Dengan membiasakan penggunaan bahasa yang benar, kita tidak hanya meningkatkan kualitas tulisan, tetapi juga berkontribusi dalam menjaga standar bahasa Indonesia.