Penulisan yang Benar Pemukiman atau Permukiman

Dalam praktik berbahasa Indonesia, kita sering menjumpai dua bentuk penulisan yang tampak serupa tetapi menimbulkan kebingungan, yaitu pemukiman dan permukiman. Kedua kata ini kerap digunakan secara bergantian dalam berita, dokumen resmi, karya tulis ilmiah, hingga konten digital. Namun, pertanyaannya adalah: manakah penulisan yang benar dan sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia baku?

Artikel ini akan membahas secara mendalam perbedaan antara pemukiman dan permukiman, ditinjau dari aspek etimologi, morfologi, kaidah Ejaan Bahasa Indonesia (EBI), serta penggunaannya dalam konteks formal dan nonformal. Dengan pembahasan yang komprehensif, kita diharapkan mampu memahami dan menerapkan penulisan yang tepat dalam berbagai situasi kebahasaan.

Pengertian Pemukiman dan Permukiman

Untuk memahami perbedaan keduanya, langkah awal yang perlu kita lakukan adalah memahami makna kata dasar dan proses pembentukannya.

Makna Kata Dasar “Mukim”

Kata mukim berasal dari bahasa Arab yang berarti “tinggal” atau “berdiam di suatu tempat”. Dalam bahasa Indonesia, mukim digunakan untuk menyatakan keadaan seseorang atau sekelompok orang yang menetap di suatu wilayah dalam jangka waktu tertentu.

Contoh penggunaan kata mukim yaitu:

  • Ia telah mukim di desa tersebut selama puluhan tahun.
  • Penduduk yang mukim di kawasan pesisir memiliki mata pencaharian utama sebagai nelayan.
  • Dari kata dasar inilah muncul berbagai bentuk turunan, termasuk permukiman.

Proses Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia

Agar tidak keliru, kita perlu memahami proses morfologis dalam bahasa Indonesia, khususnya pembentukan kata dengan imbuhan.

Fungsi Imbuhan “peN- -an”

Imbuhan peN- -an digunakan untuk membentuk nomina yang menyatakan: proses, tempat, atau hasil dari suatu perbuatan.

Dalam konteks kata mukim, imbuhan yang tepat adalah per- -an, sehingga membentuk kata permukiman, yang berarti “tempat orang bermukim” atau “kawasan tempat tinggal”.

Secara morfologis yaitu:

mukim → bermukim
bermukim → permukiman

Penulisan yang Benar Menurut KBBI dan EBI

Permukiman sebagai Bentuk Baku

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bentuk yang baku dan benar adalah permukiman. Kata ini didefinisikan sebagai: daerah tempat bermukim; kawasan hunian.

Dengan demikian, permukiman digunakan untuk merujuk pada kawasan atau lingkungan tempat tinggal penduduk, baik di perkotaan maupun di pedesaan.

Contoh penggunaan yang benar:

Pemerintah membangun kawasan permukiman baru bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
Permukiman padat penduduk memerlukan penataan lingkungan yang baik.

Pemukiman sebagai Bentuk Tidak Baku

Sementara itu, kata pemukiman tidak tercantum sebagai entri baku dalam KBBI. Bentuk ini muncul akibat kekeliruan dalam menerapkan imbuhan pe- -an pada kata dasar mukim. Secara kaidah, pembentukan tersebut tidak tepat karena mengabaikan bentuk verba bermukim yang menjadi dasar pembentukan nomina tempat.

Oleh karena itu, pemukiman dikategorikan sebagai bentuk tidak baku dan sebaiknya dihindari dalam penulisan resmi.

Kesalahan Umum dalam Penggunaan Pemukiman

Pengaruh Kebiasaan dan Lingkungan

Salah satu alasan mengapa kata pemukiman masih sering digunakan adalah faktor kebiasaan. Dalam komunikasi sehari-hari, bentuk ini terdengar lazim sehingga benar oleh sebagian masyarakat.

Penggunaan di Media dan Dokumen Tidak Resmi

Tidak sedikit media daring, pamflet, atau dokumen internal yang masih menggunakan kata pemukiman. Penggunaan berulang tanpa koreksi akhirnya memperkuat kesan seolah-olah kata tersebut baku, padahal tidak demikian.

Sebagai penulis atau pengguna bahasa yang baik, kita perlu bersikap kritis dan merujuk pada sumber kebahasaan yang resmi.

Pentingnya Menggunakan Bentuk Baku “Permukiman”

Menjaga Ketepatan Bahasa

Penggunaan kata baku menunjukkan kepatuhan kita terhadap kaidah bahasa Indonesia. Hal ini sangat penting dalam konteks pendidikan, pemerintahan, dan akademik.

Meningkatkan Kredibilitas Tulisan

Tulisan yang menggunakan bahasa baku akan terlihat lebih profesional dan tepercaya. Kesalahan penulisan seperti pemukiman dapat mengurangi kredibilitas penulis di mata pembaca.

Mendukung Standarisasi Bahasa

Dengan konsisten menggunakan kata permukiman, kita turut berperan dalam menjaga standar bahasa Indonesia agar tetap tertib dan sistematis.

Contoh Penggunaan Permukiman dalam Berbagai Konteks

Dalam Penulisan Akademik

  • Penelitian ini mengkaji pola permukiman masyarakat pesisir berdasarkan faktor geografis.
  • Permukiman tradisional memiliki ciri khas yang mencerminkan budaya lokal.

Dokumen Resmi

  • Program penataan permukiman kumuh menjadi prioritas pembangunan daerah.
  • Pemerintah daerah bertanggung jawab atas pengelolaan kawasan permukiman.

Dalam Media Massa

  • Banjir melanda sejumlah permukiman warga akibat curah hujan tinggi.
  • Relokasi permukiman dilakukan demi keselamatan masyarakat.

Tips Menghindari Kesalahan Penulisan

Agar kita tidak lagi keliru, berikut beberapa tips praktis:

  • Biasakan memeriksa KBBI sebelum menggunakan kata yang meragukan.
  • Gunakan aplikasi atau situs pengecek ejaan bahasa Indonesia.
  • Tingkatkan literasi kebahasaan melalui membaca teks resmi dan ilmiah.
  • Lakukan penyuntingan ulang sebelum mempublikasikan tulisan.

Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan di atas, dapat kita tegaskan bahwa penulisan yang benar dan baku adalah permukiman, bukan pemukiman. Kata permukiman sesuai dengan kaidah morfologi bahasa Indonesia dan telah tercatat secara resmi dalam KBBI.

Sebagai pengguna bahasa, kita memiliki tanggung jawab untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Dengan memilih kata yang tepat, kita tidak hanya meningkatkan kualitas komunikasi, tetapi juga turut menjaga kelestarian dan ketertiban bahasa nasional.