Justru atau Justeru, Mana yang Benar di KBBI?

Dalam bahasa Indonesia, kita sering menjumpai dua bentuk penulisan kata yang terdengar sama tetapi berbeda secara ejaan, yaitu “justru” dan “justeru”. Keduanya kerap digunakan secara bergantian dalam percakapan sehari-hari, tulisan di media sosial, bahkan dalam artikel dan karya tulis formal. Hal ini menimbulkan pertanyaan yang cukup sering muncul: manakah penulisan yang benar menurut kaidah bahasa Indonesia?

Artikel ini akan membahas secara lengkap dan mendalam mengenai perbedaan justru atau justeru, mencakup penjelasan berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), asal-usul kata, kesalahan umum dalam penggunaan, contoh kalimat, hingga tips agar kita dapat menggunakan kata yang benar dalam konteks formal maupun informal. Dengan pembahasan yang komprehensif, diharapkan kita tidak lagi ragu dalam memilih penulisan yang tepat.

Pengertian Kata “Justru”

Kata justru merupakan bentuk baku yang diakui secara resmi dalam bahasa Indonesia. Menurut KBBI, justru memiliki makna sebaliknya dari yang diperkirakan atau bertentangan dengan dugaan awal. Kata ini berfungsi sebagai kata keterangan (adverbia) yang digunakan untuk menegaskan adanya kondisi atau fakta yang berlawanan dengan ekspektasi.

Dalam praktiknya, kata justru sering digunakan untuk menekankan ironi, kejutan, atau pembalikan keadaan. Oleh karena itu, kata ini sangat umum dipakai dalam berbagai jenis teks, mulai dari percakapan santai hingga tulisan ilmiah.

Contoh Penggunaan Kata “Justru”

  • Ia terlihat pendiam, tetapi justru sangat aktif saat berdiskusi.
  • Kita mengira hujan akan menghambat acara, justru suasana menjadi lebih meriah.
  • Banyak yang meremehkannya, namun ia justru berhasil meraih prestasi tertinggi.

Dari contoh-contoh tersebut, terlihat jelas bahwa justru digunakan untuk menunjukkan keadaan yang berlawanan dengan dugaan sebelumnya.

Pengertian Kata “Justeru”

Sementara itu, kata justeru sering kita anggap sebagai bentuk alternatif dari justru. Namun, perlu kita tegaskan bahwa menurut KBBI dan kaidah bahasa Indonesia yang berlaku saat ini, justeru bukanlah bentuk baku.

Penggunaan kata justeru umumnya tergantung kebiasaan lisan dan persepsi fonetik penutur bahasa. Dalam pengucapan sehari-hari, bunyi “ru” pada kata justru kerap terdengar seperti “eru”, sehingga banyak orang menuliskannya sebagai justeru. Kesalahan ini kemudian menyebar luas dan menjadi kebiasaan yang sulit kita hilangkan.

Justru atau Justeru Menurut KBBI

Jika kita merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia sebagai acuan utama kebakuan bahasa, maka jawabannya sangat tegas: penulisan yang benar adalah “justru”, bukan justeru.

KBBI hanya mencantumkan entri justru dengan makna yang telah kita ijelaskan sebelumnya. Sementara itu, kata justeru tidak tercatat sebagai entri baku. Dengan demikian, penggunaan justeru dalam tulisan formal seperti karya ilmiah, laporan resmi, artikel jurnal, dan dokumen administrasi tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.

Asal-Usul dan Proses Pembakuan Kata

Menarik untuk dipahami bahwa tidak semua kesalahan penulisan muncul tanpa alasan. Dalam sejarah perkembangan bahasa Indonesia, banyak kata mengalami proses penyesuaian dari bahasa asing, bahasa daerah, maupun pengaruh kebiasaan lisan masyarakat.

Kata justru mengalami pergeseran pelafalan dalam bahasa lisan. Kombinasi huruf “str” memang cukup sulit dalam pengucapan sebagian penutur, sehingga bunyinya terdengar melebar menjadi “steru”. Dari sinilah muncul bentuk justeru dalam penulisan tidak resmi.

Namun, pembakuan bahasa tidak hanya berdasarkan pada kebiasaan lisan, melainkan pada kesepakatan linguistik dan standar yang ditetapkan. Oleh sebab itu, meskipun justeru banyak digunakan, bentuk tersebut tetap tidak diakui sebagai bentuk baku.

Kesalahan Umum dalam Penggunaan Justru dan Justeru

Dalam praktik menulis, ada beberapa kesalahan umum yang sering kita temui terkait penggunaan kata ini, antara lain:

1. Menggunakan “Justeru” dalam Tulisan Formal

Banyak artikel, skripsi, bahkan berita daring yang masih menggunakan kata justeru. Hal ini biasanya terjadi karena penulis terbiasa dengan bentuk tersebut dalam percakapan sehari-hari.

2. Menganggap Keduanya Sama-sama Benar

Kesalahan lain adalah anggapan bahwa justru dan justeru sama-sama benar dan bisa kita pilih sesuai selera. Padahal, dalam bahasa baku, hanya justru yang dapat kita terima.

3. Tidak Melakukan Pengecekan KBBI

Di era digital, masih banyak penulis yang tidak memanfaatkan KBBI daring sebagai rujukan. Akibatnya, kesalahan ejaan seperti ini terus berulang.

Pentingnya Menggunakan Kata Baku

Menggunakan kata baku bukan sekadar soal benar atau salah, tetapi juga menyangkut kredibilitas dan profesionalisme. Dalam konteks akademik, jurnalistik, maupun dunia kerja, ketepatan bahasa mencerminkan ketelitian dan kompetensi penulis.

Dengan menggunakan justru sebagai bentuk yang benar, kita menunjukkan kepatuhan terhadap kaidah bahasa Indonesia yang berlaku. Hal ini juga membantu menjaga konsistensi dan kejelasan komunikasi tertulis.

Tips Agar Tidak Salah Menulis “Justru”

Agar kita tidak lagi keliru dalam menggunakan kata ini, berikut beberapa tips sederhana yang bisa kita terapkan:

  • Biasakan mengecek kata yang masih ragu melalui KBBI daring.
  • Ingat bahwa bunyi lisan tidak selalu mencerminkan ejaan baku.
  • Perbanyak membaca tulisan berkualitas seperti buku, jurnal, dan media resmi.
  • Lakukan proses penyuntingan ulang sebelum mempublikasikan tulisan.

Contoh Kalimat Salah dan Benar

Contoh Kalimat Salah

Ia terlihat tidak siap, tetapi justeru mampu menyelesaikan tugas dengan baik.

Contoh Kalimat Benar

Ia terlihat tidak siap, tetapi justru mampu menyelesaikan tugas dengan baik.

Perbedaan ini tampak sederhana, tetapi sangat penting dalam konteks kebahasaan.

Kesimpulan

Dari pembahasan di atas, dapat kita simpulkan bahwa penulisan yang benar menurut kaidah bahasa Indonesia adalah “justru”, bukan justeru. Kata justru telah baku dan tercantum dalam KBBI, sedangkan justeru hanyalah bentuk tidak baku yang muncul akibat kebiasaan pelafalan lisan.

Dengan memahami perbedaan ini, kita dapat lebih cermat dan konsisten dalam menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Ketepatan berbahasa bukan hanya soal aturan, tetapi juga bentuk tanggung jawab kita dalam menjaga kualitas dan martabat bahasa Indonesia.

Mulai sekarang, mari biasakan menggunakan justru dalam setiap konteks penulisan, terutama dalam karya tulis formal dan profesional.