Dalam bahasa Indonesia, kita sering menjumpai dua bentuk penulisan yang tampak mirip tetapi menimbulkan keraguan, yaitu frekuensi dan frekwensi. Perbedaan satu huruf saja sering membuat banyak orang bingung: mana yang benar menurut kaidah bahasa Indonesia baku? Keraguan ini kerap muncul dalam penulisan karya ilmiah, artikel media, laporan akademik, hingga konten digital sehari-hari.
Artikel ini akan membahas secara mendalam penulisan yang benar antara frekuensi atau frekwensi, dilengkapi dengan penjelasan linguistik, asal-usul kata, contoh penggunaan, serta dampaknya terhadap kualitas komunikasi tertulis. Dengan pembahasan yang komprehensif, kita diharapkan dapat memahami sekaligus membiasakan diri menggunakan bentuk kata yang tepat.
Pengertian Frekuensi dalam Bahasa Indonesia
Secara umum, frekuensi adalah istilah yang digunakan untuk menyatakan jumlah kejadian yang berulang dalam suatu periode tertentu. Dalam kehidupan sehari-hari, kata ini sering digunakan dalam berbagai konteks, mulai dari sains, teknologi, pendidikan, hingga bahasa.
Beberapa makna frekuensi yang umum kita jumpai antara lain:
- Dalam fisika, frekuensi berarti jumlah getaran atau gelombang per satuan waktu.
- Dalam statistika, frekuensi merujuk pada jumlah kemunculan suatu data.
- Dalam komunikasi dan penyiaran, frekuensi berkaitan dengan gelombang radio atau sinyal.
- Dalam penggunaan umum, frekuensi berarti tingkat keseringan suatu aktivitas.
Dari berbagai makna tersebut, terlihat bahwa frekuensi merupakan istilah penting yang sering digunakan dalam konteks formal maupun nonformal.
Frekuensi atau Frekwensi: Mana yang Baku?
Pertanyaan utama yang sering muncul adalah: penulisan yang benar frekuensi atau frekwensi? Jawabannya tegas: frekuensi adalah bentuk yang benar dan baku, sedangkan frekwensi merupakan bentuk tidak baku.
Berdasarkan kaidah bahasa Indonesia dan rujukan resmi seperti Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata yang diakui secara resmi hanyalah frekuensi. Bentuk frekwensi tidak tercatat sebagai lema baku dan termasuk sebagai kesalahan ejaan.
Alasan Frekwensi Dianggap Tidak Baku
Kesalahan penulisan frekwensi umumnya tergantung pada cara pengucapan. Dalam pelafalan lisan, bunyi /kw/ dan /ku/ terdengar mirip, sehingga sebagian orang menuliskannya sesuai dengan apa yang mereka dengar. Namun, bahasa tulis memiliki aturan tersendiri yang tidak selalu sama dengan bahasa lisan.
Dalam bahasa Indonesia, kombinasi huruf kw memang ada pada beberapa kata, tetapi tidak semua bunyi /ku/ harus kita tulis dengan kw. Pada kata frekuensi, bentuk yang benar adalah ku, bukan kw.
Asal-Usul Kata Frekuensi
Untuk memahami mengapa penulisannya menjadi frekuensi, kita perlu melihat asal-usul katanya. Kata frekuensi berasal dari bahasa Latin frequentia, yang berarti “keseringan” atau “kerap terjadi”. Kata ini kemudian diserap ke dalam bahasa Inggris menjadi frequency, lalu masuk ke bahasa Indonesia melalui proses penyerapan istilah asing.
Dalam proses penyerapan, bahasa Indonesia menyesuaikan ejaan agar selaras dengan sistem fonologi dan ortografi yang berlaku. Dari sinilah terbentuk kata frekuensi, bukan frekwensi.
Kaidah Penyerapan Kata Asing dalam Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia memiliki aturan baku dalam menyerap kata asing. Beberapa prinsip umum yang relevan dengan kasus frekuensi atau frekwensi antara lain:
- Penyesuaian ejaan agar mudah dibaca dan ditulis oleh penutur bahasa Indonesia.
- Bunyi tertentu tidak selalu berawalan huruf yang sama seperti dalam bahasa asal.
- Konsistensi lebih penting daripada meniru ejaan bahasa sumber secara mentah.
Dengan prinsip tersebut, penulisan frekuensi sudah paling sesuai dan konsisten dengan sistem bahasa Indonesia.
Contoh Penggunaan Kata Frekuensi yang Benar
Agar pemahaman kita semakin kuat, berikut beberapa contoh penggunaan kata frekuensi dalam kalimat:
- Frekuensi gelombang radio tersebut tidak dapat diterima oleh perangkat lama.
- Guru menjelaskan konsep frekuensi dalam pelajaran statistika.
- Frekuensi latihan yang teratur dapat meningkatkan kemampuan fisik.
- Penelitian ini mengukur frekuensi kemunculan kata tertentu dalam teks.
Semua contoh di atas menggunakan bentuk frekuensi, bukan frekwensi, karena itulah bentuk yang benar.
Dampak Kesalahan Penulisan dalam Konteks Akademik dan Profesional
Mungkin ada yang beranggapan bahwa perbedaan frekuensi dan frekwensi hanyalah persoalan sepele. Namun, dalam konteks akademik dan profesional, kesalahan ejaan dapat berdampak cukup serius.
Beberapa dampak yang mungkin terjadi antara lain:
- Menurunnya kredibilitas penulis di mata pembaca.
- Anggapan kurangnya penguasaan bahasa Indonesia baku.
- Risiko revisi atau penolakan karya ilmiah.
- Kesalahpahaman dalam komunikasi tertulis.
Oleh karena itu, membiasakan diri menggunakan ejaan yang benar merupakan langkah penting untuk menjaga kualitas tulisan.
Mengapa Kesalahan Frekwensi Masih Sering Terjadi?
Meskipun sudah jelas bahwa frekuensi adalah bentuk baku, kesalahan frekwensi masih sering kita temukan. Hal ini terjadi karena beberapa faktor, seperti:
- Pengaruh kebiasaan lisan yang terbawa ke tulisan.
- Kurangnya kebiasaan memeriksa KBBI atau sumber resmi.
- Kesalahan yang berulang di media atau internet sehingga dianggap benar.
- Minimnya perhatian terhadap detail ejaan.
Kesalahan yang terus terulang tanpa koreksi lama-kelamaan dapat kita anggap wajar, padahal secara kaidah tetap salah.
Tips Agar Tidak Salah Menulis Frekuensi
Untuk menghindari kesalahan penulisan antara frekuensi atau frekwensi, kita dapat menerapkan beberapa langkah sederhana berikut:
- Membiasakan diri merujuk pada KBBI saat ragu dengan ejaan.
- Menggunakan fitur pemeriksa ejaan pada aplikasi pengolah kata.
- Membaca ulang tulisan sebelum kita publikasikan.
- Meningkatkan literasi bahasa Indonesia baku.
Dengan langkah-langkah tersebut, kualitas tulisan kita akan semakin baik dan sesuai kaidah.
Peran Penulisan Baku dalam Komunikasi Modern
Di era digital, tulisan menjadi salah satu sarana komunikasi utama, baik melalui artikel, media sosial, jurnal, maupun konten edukatif. Penulisan baku, termasuk penggunaan kata frekuensi yang benar, berperan penting dalam menjaga kejelasan dan profesionalisme komunikasi.
Bahasa yang tertata dengan baik mencerminkan cara berpikir yang sistematis. Oleh sebab itu, memperhatikan detail seperti ejaan bukanlah hal sepele, melainkan bagian dari tanggung jawab kita sebagai pengguna bahasa.
Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas, dapat kita tegaskan bahwa frekuensi adalah penulisan yang benar dan baku dalam bahasa Indonesia, sedangkan frekwensi merupakan bentuk tidak baku. Kesalahan penulisan frekwensi umumnya terjadi karena pengaruh pelafalan dan kebiasaan yang keliru.
Dengan memahami asal-usul kata, kaidah penyerapan, serta contoh penggunaannya, kita dapat lebih percaya diri dan konsisten menggunakan bentuk frekuensi dalam berbagai konteks penulisan. Pada akhirnya, ketepatan berbahasa akan meningkatkan kualitas komunikasi dan mencerminkan profesionalisme kita sebagai penulis maupun pembaca.