Penulisan yang Benar Volume atau Volum

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menjumpai penggunaan kata volume dan volum dalam berbagai konteks, mulai dari pelajaran sekolah, laporan akademik, dunia teknik, hingga percakapan informal. Tidak jarang muncul kebingungan: manakah penulisan yang benar menurut kaidah bahasa Indonesia, volume atau volum? Apakah keduanya sama-sama dapat digunakan, atau hanya salah satunya yang dianggap baku?

Pertanyaan ini penting karena ketepatan berbahasa mencerminkan kualitas komunikasi kita. Dalam penulisan resmi, kesalahan memilih bentuk kata dapat mengurangi kredibilitas sebuah karya tulis. Oleh karena itu, artikel ini akan membahas secara mendalam perbedaan volume dan volum, mulai dari aspek kebahasaan, sejarah kata, penggunaan dalam berbagai bidang, hingga tips praktis agar kita tidak keliru dalam menuliskannya.

Pengertian Volume dalam Bahasa Indonesia

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), volume memiliki beberapa makna utama, antara lain:

Ukuran isi atau kapasitas ruang suatu benda tiga dimensi

Kuat-lemahnya bunyi atau suara, terutama dalam bidang audio

Jumlah atau besaran tertentu, misalnya volume pekerjaan atau volume penjualan

Dari definisi tersebut, dapat kita pahami bahwa kata volume digunakan secara luas, tidak hanya terbatas pada ilmu fisika atau matematika, tetapi juga merambah ke dunia ekonomi, teknik, dan bahkan bahasa sehari-hari.

Contoh penggunaan:

Volume air dalam tangki itu mencapai 1.000 liter.

Silakan kecilkan volume musiknya.

Volume penjualan perusahaan meningkat tahun ini.

Dalam seluruh contoh tersebut, penulisan volume konsisten dan tidak berubah bentuk.

Asal Usul Kata Volume

Untuk memahami mengapa penulisan volume dianggap benar, kita perlu menengok asal-usul katanya. Kata volume berasal dari bahasa Latin volumen, yang berarti “gulungan” atau “sesuatu yang berputar”. Dalam perkembangannya, kata ini masuk ke bahasa Inggris menjadi volume, lalu diserap ke dalam bahasa Indonesia.

Proses penyerapan kata asing ke dalam bahasa Indonesia tidak selalu menghilangkan huruf akhir. Dalam banyak kasus, bentuk serapan tetap dipertahankan demi menjaga kejelasan makna dan keseragaman istilah, terutama untuk istilah ilmiah dan teknis. Oleh karena itu, volume tetap ditulis lengkap dengan huruf “e” di akhir.

Apakah Kata Volum Baku?

Pertanyaan utama yang sering muncul adalah: apakah volum merupakan kata baku? Jawabannya tegas: tidak. Dalam KBBI, bentuk yang diakui dan dibakukan hanyalah volume. Kata volum tidak tercatat sebagai entri resmi.

Penggunaan volum biasanya muncul karena beberapa faktor, seperti:

Pengaruh pengucapan lisan yang cenderung menghilangkan bunyi “e”

Anggapan bahwa penghilangan huruf akhir membuat kata lebih ringkas

Kekeliruan akibat analogi dengan kata lain yang memang berakhiran konsonan

Namun, meskipun volum mungkin terdengar wajar dalam percakapan sehari-hari, penulisan tersebut tetap tidak sesuai kaidah bahasa Indonesia yang baku.

Volume dalam Konteks Ilmiah dan Akademik

Volume dalam Matematika dan Fisika

Dalam ilmu matematika dan fisika, volume adalah konsep dasar yang merujuk pada ukuran ruang tiga dimensi. Istilah ini sangat baku dan tidak pernah berubah menjadi volum dalam buku pelajaran, jurnal ilmiah, maupun laporan penelitian.

Contoh:

  • Volume kubus dihitung dengan rumus sisi × sisi × sisi.
  • Perubahan volume zat cair dipengaruhi oleh suhu.

Penggunaan istilah yang tidak baku dalam konteks akademik dapat menyebabkan kesalahpahaman dan menurunkan kualitas tulisan ilmiah kita.

Volume dalam Dunia Teknik

Di bidang teknik sipil, mesin, dan industri, kata volume sering kita gunakan untuk menghitung material, kapasitas, atau produksi. Misalnya, volume beton, volume bahan bakar, atau volume produksi pabrik.

Dalam dokumen teknis, ketepatan istilah sangat krusial. Oleh karena itu, penggunaan volume sudah menjadi standar yang tidak dapat kita gantikan oleh bentuk lain.

Volume dalam Kehidupan Sehari-hari

Selain konteks ilmiah, kata volume juga sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Kita menggunakannya untuk menyebut keras-lembutnya suara, jumlah barang, atau tingkat aktivitas.

Contoh:

  • Volume televisi terlalu keras.
  • Volume sampah di kota besar terus meningkat.

Meskipun dalam percakapan lisan kita mungkin mendengar orang mengucapkan “volum”, dalam bentuk tulisan yang baik dan benar, penulisannya tetap harus volume.

Kesalahan Umum dalam Penulisan Volume

Ada beberapa kesalahan umum yang sering kita temui terkait kata volume, antara lain:

  • Menuliskannya sebagai “volum” dalam dokumen resmi
  • Menganggap kedua bentuk sama-sama benar
  • Mencampuradukkan penulisan dalam satu naskah

Kesalahan-kesalahan tersebut sebenarnya dapat kita hindari dengan satu langkah sederhana, yaitu membiasakan diri merujuk pada KBBI sebelum menulis.

Mengapa Ketepatan Penulisan Itu Penting?

Ketepatan penulisan bukan sekadar soal benar atau salah, tetapi juga berkaitan dengan kualitas komunikasi. Ketika kita menggunakan kata baku, pesan yang kita sampaikan menjadi lebih jelas, profesional, dan mudah dipahami oleh pembaca dari berbagai latar belakang.

Dalam konteks pendidikan, penggunaan kata yang benar membantu pembelajaran bahasa yang konsisten. Dalam dunia kerja, ketepatan bahasa mencerminkan kompetensi dan perhatian terhadap detail. Oleh sebab itu, memilih volume daripada volum bukanlah hal sepele.

Tips Agar Tidak Salah Menulis Kata Baku

Agar kita tidak lagi ragu atau keliru dalam menulis kata seperti volume, berikut beberapa tips praktis:

Biasakan Mengecek KBBI

Saat ragu, KBBI adalah rujukan utama yang paling dapat kita percaya.

Perbanyak Membaca Teks Resmi

Buku pelajaran, jurnal, dan media arus utama umumnya menggunakan bahasa baku yang konsisten.

Gunakan Alat Bantu Penulisan

Saat ini tersedia berbagai aplikasi dan fitur pemeriksa ejaan yang dapat membantu kita mendeteksi kesalahan penulisan.

Kesimpulan?

Berdasarkan pembahasan di atas, dapat kita simpulkan bahwa penulisan yang benar dan baku adalah volume. Bentuk volum tidak diakui dalam kaidah bahasa Indonesia dan sebaiknya dihindari, terutama dalam konteks penulisan resmi, akademik, dan profesional.

Dengan memahami perbedaan ini, kita dapat meningkatkan kualitas bahasa tulis kita serta berkontribusi dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Ketepatan berbahasa adalah cerminan sikap kita terhadap ilmu pengetahuan dan komunikasi yang efektif.

Tinggalkan komentar